surat ayah untuk bunda "cuplikan kisah Ayah"

nedya varchaty
Karya nedya varchaty Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 September 2016
surat ayah untuk bunda

Cairo, 27 Februari 1990

Dik… Semoga kau tetap sabar menunggu. Selama ini memang sengaja tidak ada kata-kata mesra dari saya, seperti lazimnya surat untuk seorang kekasih. Bukan berarti saya tidak bisa. Kalau saya membuat surat yang mesra pasti kau akan jawab yang senada tentunya. Hal demikian itu akan menambah rasa rindu diantara kita. Sedangkan puncak kerinduan tidak akan terobati kecuali bertemu dengan yang dirindukan.

            Namun kita sadar dan tahu bahwa Mesir-Indonesia tidak dekat, dan untuk saat ini sepertinya sulit untuk segera bertemu. Saat ini adalah saat perjuangan diantara kita. Berjuang mempersiapkan diri untuk hari depan, berjuang dalam rangka menjalani perintah Allah, mencari ilmu untuk meneruskan perjuangan dan dakwah islam. Bukan utnuk mencari nama, mencari title ataupun mencari uang.

            Kepergian saya untuk kembali ke Mesir tidak ada yang menyuruh, justru ibu dan semua keluarga sepertinya lebih senang bila saya tidak usah kembali. Sebenarnya yang merindukan saya bukan hanya kamu, namun ibu saya lebih dari itu. Sebab mulai dari gontor dulu sudah 12 tahun saya tidak pernah lama dirumah.

            Akhirnya saya berharap agar kamu bisa mencari kesibukan sendiri baik sekarang ataupun nanti. Sebab tahun-tahun pertama dirumah nanti mungkin saya masih pengangguran, maka agar pengangguran tidak bertemu pengangguran carilah kesibukan. Saya akan self study agak lama di rumah. Walhasil kita harus ingat bahwa semua kehidupan ini telah diatur oleh Allah, kita Cuma bisa ikhtiar dan berusaha Allah yang menentukan. 

-salam

  • view 201