aku senang punya istri yang bodoh

nedya varchaty
Karya nedya varchaty Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 10 September 2016
aku senang punya istri yang bodoh

Aku senang punyai Istri yang bodoh

 

*ini adalah kisah kedua orangtuaku, ketika aku masih di dalam kandungan. Suatu hari ibu menceritakannya kepadaku..

Dan inilah kisahnya….

05.00 WIB

“Dik, tolong buatkan kopi ya?”

Suara lirih gerakan kakinya mulai terdengar. Khas. Postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, tidak terlalu berisi, pas dengan balutan gamis hitam kesukaannya dan jilbabnya yang terurai lebar. Ia mendekatiku. Mendekati telingaku.

“Yang manis atau manis banget?” Bisiknya mesra di telingaku.

 “Ahh..selalu dia membuatku jatuh cinta berkali-kali.”

Aku cubit pipinya yang berlemak. Ia nyengir senang.

“Semua kopi yang diracik dari tanganmu pasti enak! Tak ada tandingannya. Buatkan seperti yang biasanya saja.”

Ia membalikkan badannya dan beranjak pergi..

“Oh ya dik, ngomong-ngomong kok berpakaian rapi mau kemana? Masih pagi.”

“Aku buatkan kopi dulu ya A’, wait a moment!”

“Masih jam lima pagi, biasanya istriku  berangkat jam tujuh pagi, itupun sering telat-telat juga. Karena masih memasakkan masakan untukku. Hari ini Farah kok lebih rajin. Apa hari ini aku ulang tahun ya? Ah tidak!, ini masih Juni, ulangtahunku kan Agustus?”

Aku menerka-nerka sendiri. Sambil menyibukkan mata melihat lembar demi lembar kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al Ghazali. Rutinitas kami tiap pagi memang seperti ini, setelah solat subuh berjamaah Farah istriku langsung menanak nasi di ricecooker dan membuat secangkir kopi untukku, lalu dengan membawa kopi ia duduk disebelahku mendengarkan dengan seksama ketika aku belajar mengkaji isi kitab ini dengannya.

Tak seperti layaknya seorang guru yang mengajarkan suatu ilmu pada muridnya, namun moment seperti ini menjadi hal yang paling menyenangkan di hari-hariku bersamanya. Aku dan dia sama-sama belajar, sebenarnya jika ditanya tentang pengetahuan agama, istriku lebih tahu dan paham. Namun sebagai seorang suami aku harus bisa menjadi imam yang baik untukknya. Kadang ketika aku salah dalam penalaran, istriku membenarkan dengan lembut tanpa menggurui, canda tawa lepas selalu mengisi sela-sela belajar kami.

“Aaaah…dia selalu membuatku jatuh cinta berkali-kali”

Dia membawa kopi kesukaanku, menaruhnya diatas meja dan duduk di sampingku. Kulihat wajahnya dihiasi senyum cerah. Bercahaya. Dia selalu terlihat cantik.

“Aa’ mau tau ya, kenapa adik sudah rapi sepagi ini?”

“Enggak juga!” senyum sinis

Farah mengerutkkan dahinya. Langsung menarik hidungku yang gak begitu mancung-mancung amat. Mungkin kalau tiap hari ia menarik hidungku seperti ini bisa menjadikan hidungku lebih mancung. Lumayan menghemat biaya operasi plastik. –ide bagus. Aku pun senyum senang dan mempersilahkan ia bercerita. Dia suka bercerita. Aku pun suka mendengarnya.

“Begini A’..., kemaren sore adik dipanggil Pimpinan. Adik diberi amanah untuk menjadi ketua Biro Kepegawaian tempat adik bekerja. Wah..itu penawaran yang langka A’, belum tentu pegawai yang lain mendapatkan jabatan yang srategis ini. Adik yang baru 2 tahun sudah diangkat aja. Subhanallah ya A’, dan hari ini jam 6 tepat adik harus menemui pimpinan untuk mengurusi semuanya.” Ucap Farah dengan semangat.

Aku terdiam sejenak. Tersenyum tipis. Memandang mata indahnya dalam-dalam. Dia terlihat sangat bahagia. Lalu ku tutup kitab Ihya’ Ulumuddin dan ku genggam tangan dinginnya.

            “Dik…Istrinya Aa’ Farhan yang sholihah. Yang sudah hamil 4 bulan. Yang selalu merawat Aa’ dengan baik sekali. Selalu membuat Aa’ jatuh cinta berkali-kali. Adik serius meng-iyakan tawaran dari pimpinan? Apa adik tidak ingin berfikir sekali lagi?. Coba, sekarang Aa’ Tanya, pilih mana antara karir dan keluarga?”

            “Dua-duanya” Jawab Farah mantap.

            “Tidak akan bisa!,” Jawabku tegas.

            “Dik, jika adik memilih karir maka tunggulah kehancuran keluarga kita. Namun jika adik memilih keluarga, tinggalkanlah karir itu.” Timpalku

Farah mulai menunduk dan terdiam, terlihat dari raut wajah ayunya bahwa ia sangat kecewa dengan tanggapanku, lalu aku mulai berkata lagi, “Apa perlu aku jual motor dan pekarangan ini untuk mengganti gaji yang adik peroleh jika menerima tawaran itu?”

Tiba-tiba Farah menatapku dengan mata indahnya yang berkaca-kaca, ia menaruh tangannya di dadaku. Air matanya jatuh mengalir. Ia terisak. Menangis di pelukanku. Dan berbisik. “Iya A’.., insyaallah apa yang Aa’ tuturkan adik bisa terima. Adik hanya ingin taat pada suami. Doakan adik bisa selalu istiqomah A’.”

“Alhamdulillah, percayalah dik, Allah Maha Kaya. Bekerja mencari nafkah adalah kewajiban seorang suami, insyaallah Aa’ terus berjuang untuk menafkahi kalian, kamu dan calon anak kita nanti. Boleh istri bekerja, namun jangan sampai melupakan kewajiban utamanya, yakni menjadi istri yang taat dan ibu yang baik bagi anak-anaknya sehingga bisa mendidik anak-anak menjadi generasi yang bisa memperjuangkan islam secara kaffah. Maka dari itu istriku sayang.., sebagai gantinya adik mengajar ngaji saja di dekat rumah sini, insyaallah barakah, dan banyak memberi manfaat untuk umat.”

            Aku mengelus kepalanya lembut, kucium keningnya berulang-ulang. Aku memang suka melihat ia sedang menangis. Dia semakin terlihat natural dan cantik. Dan hal ini membuatku jatuh cinta berkali-kali. Aku remas tangan dinginnya dan ku usap air matanya. Melihat ia tersenyum kembali membuat hatiku bahagia.

            “Aku senang mempunyai istri yang Pintar, tapi Bodoh di hadapan suami”

Apa artinya,? Yakni istri yang pintar tapi taat pada suaminya, tidak berkomentar dan tidak membantah apa yang dituturkan atau dinasehatkan suami padanya. Dan itu ada dalam dirimu dik!, dan kamu satu-satunya yang akan membersamaiku sehidup sesurga. Semoga Allah meridhai apa yang kita usahakan.”

Ucapku sembari memegang tangannya dan mengajaknya keluar rumah menghirup udara segar. ^^

 

-selesai-

Dilihat 463