#KurinduITD - Toleransi Menumbuhkan Keharmonisan

nDuwe Gawe
Karya nDuwe Gawe Kategori Agama
dipublikasikan 20 November 2016
#KurinduITD - Toleransi Menumbuhkan Keharmonisan

Persepsi setiap orang terhadap suatu hal selalu berbeda-beda dan kita semua sering mendengar pernyataan tersebut. Melihat karya Denny JA yang berjudul Puisi Bocah Muslimah di Hari Natal, saya memiliki penafsiran bahwa halal atau haramnya memberi ucapan Selamat Natal bagi umat Muslim selalu kembali ke pernyataan bahwa setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda. Tindakan seseorang dipengaruhi oleh persepsi masing-masing individu terhadap suatu fenomena tertentu.

Puisi karya Denny JA menggambarkan seorang anak kecil muslimah yang bertanya kepada ayahnya apakah boleh mengucapkan selamat Natal kepada teman-temannya yang beragama Katolik dan Nasrani? Hal tersebut memiliki makna yaitu bagaimana pertentangan pendapat terjadi mengenai halal atau haramkah mengucapkan selamat Natal. Sedangkan sang ayah adalah seorang ayah yang bijaksana. Peran ayah yang bijaksana tersebut memiliki makna sebagai pihak yang netral terhadap pertentangan pendapat yang ada. Pada bait keempat dalam puisi tersebut disebutkan bahwa sang ayah teringat pada sebuah pohon dibelakang rumahnya. Digambarkan pada lima ranting pohonnya bergantung beberapa rumah ibadah. Hal tersebut memiliki makna pohon sebagai negeri kita, Indonesia, sedangkan kelima ranting dengan bergantungnya rumah ibadah menggambarkan lima agama yang ada di Indonesia. sang ayah juga berkata kepada anaknya bahwa lakukanlah jika sang anak yakin. Berikan ucapan selamat Natal jika teman-temanmu senang sebagaimana teman-temanmu senang memberikan ucapan selamat hari raya idul fitri. Pada bagian akhir puisi sang ayah mengatakan bahwa sang ayah sedih melihat Indonesia masih berkutat pada soal lama yaitu halal atau haramkah mengucapkan selamat Natal sedangkan di negara lain, mereka sudah memiliki konsentrasi yang berbeda, bukan lagi agama.

Perdebatan mengenai haram atau tidaknya mengucapkan selamat Natal telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut menunjukan adanya diskriminasi terhadap satu agama tertentu. Diskriminasi yang dilakukan oleh agama mayoritas terhadap agama minoritas. Perdebatan terjadi antara dua kubu, yaitu kubu agama mayoritas yang mengharamkan mengucapkan selamat Natal dan kubu mayoritas yang menghalalkan atau memperbolehkan mengucapkan selamat Natal.

Lembaga Riset dan Fatwa Eropa menyetujui jika mengucapkan selamat Natal merupakan hal yang sah saja. Disebutkan bahwa memberi ucapan saat hari raya non-muslim sangat baik adanya, hal tersebut akan menjadi wajib bagi non-muslim untuk memberi ucapan saat hari raya bagi umat muslim (Sumber: http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/hukum-mengucapkan-selamat-natal.htm). Namun dalam prakteknya di Indonesia, hal mengenai pemberian ucapan hari raya masih menjadi perdebatan.

Jika dilihat sekali lagi dan dicermati, negeri kita yaitu Indonesia, memiliki keberagaman baik dari segi agama, suku, dan ras. Semua orang pasti tahu, adanya keberagaman harus diikuti dengan toleransi. Namun dalam prakteknya, bisa kita lihat dalam beberapa berita bahwa toleransi tidak ada sama sekali saat beberapa oknum melancarkan campaign bahwa memberi ucapan saat hari raya non-muslim adalah haram. Tidak menutupi juga bahwa ada yang memiliki pemikiran bahwa memeberi ucapan saat hari raya non-muslim tidak haram.

Perdebatan ini selalu terjadi setiap tahunnya. Itulah dampak dari keberagaman yang ada di Indonesia, disisi lainnya, pemikiran orang tidak bisa disalahkan karena hal tersebut adalah hak seseorang untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya. Seperti yang telah ditulis dalam puisi Denny JA, sang ayah berkata kepada sang anak bahwa nabi sudah tiada dan yang tersisa hanya ulama, merekapun tidak satu suara dan ulamapun bisa salah. Hal tersebuit menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama. Pemikiran yang tidak sama tersebut, dapat dilihat bahwa setiap orang berhak mengutarakan pemikirannya sehingga tidak harus mengikuti pemikiran yang dimiliki oleh mayoritas. Pada dasarnya, kita semua memiliki kepercayaan masing-masing. Diskriminasi seharusnya tidak terjadi karena hal tersebut akan menghambat kemajuan suatu negara. Sebagaimana kita melihat Indonesia adalah negara dengan beragam latar belakang agama, ras, dan budaya. Seharusnya ucapan-ucapan pada hari raya setiap agama merupakan bentuk harmonisnya hubungan antar umat beragama. Keharmonisan hanya dapat tercapai dengan adanya toleransi. Maka saling menghargai dan toleransi adalah wujud terciptanya masyarakat yang harmonis, dan sebagai tujuan untuk tercapainya masyarakat Indonesia tanpa diskriminasi. 

Sumber ilustrasi: google.com

  • view 222