#KurinduITD - Pemimpin Yang Diharapkan

nDuwe Gawe
Karya nDuwe Gawe Kategori Politik
dipublikasikan 19 November 2016
#KurinduITD - Pemimpin Yang Diharapkan

Indonesia adalah negara dengan Pancasila sebagai landasan ideologi. Nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila mencerminkan bagaimana negara dan rakyat harus dapat bersinergi dan diharapkan dapat membangun kehidupan bersama. Namun, perlu diingat bahwa Indonesia juga merupakan negara dengan penganut agama muslim mayoritas terbanyak. Hal ini yang sering menjadi buah persoalan terlebih jika berbicara mengenai seorang pemimpin bangsa. Sila pertama dalam Pancasila tertulis jelas “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang memiliki pesan moral bahwa Indonesia memiliki toleransi dan menghormati setiap agama. Namun, kenyataannya toleransi masih belum diterapkan dan kadang malah dipersoalkan.

Isu toleransi sebenarnya adalah persoalan lama namun akhir-akhir ini mulai muncul kembali dan menjadi perbincangan hangat. Dapat kita lihat melalui pemberitaan media berkaitan dengan akan diadakan pemilihan bagi calon gubernur baru DKI Jakarta. Salah satu calon dan yang kini masih menjabat memimpin Jakarta adalah Ahok. Dia seorang nasrani juga beretnis Tionghoa. Perbedaan yang sangat nampak ketika dihadapkan dengan masyarakat mayoritas. Sebelumnya memang bukan menjadi persoalan jika melihat dari hasil kinerja menjadi gubernur kini Jakarta menjadi lebih baik dari sebelumnya, bahkan Ahok memiliki pendukung semenjak masuk jalur independen untuk maju mencalonkan diri sebagai gubernur. Namun, semua itu berubah ketika Ahok diberitakan telah menistakan agama ketika memberikan ceramah di kepulauan Seribu. Ketika berita kasus penistaan agama mulai menyebar, ketika itu juga Ahok mulai mendapat banyak kritikan yang berujung pada demo 4 November.

Melalui kasus tersebut seakan membuat masyarakat diombang-ambingkan dengan pilihan terhadap minoritas. Ketika sebelumnya mendukung dan menerima kini timbul rasa penolakan. Penolakan juga terjadi ketika Ahok akan melakukan kampanye dibeberapa titik daerah. Isu toleransi semakin terasa kemunculannya ketika sentimen agama telah melekat kuat. Bahkan sebenarnya penolakan kampanye menunjukkan bahwa demokrasi juga masih sulit diterapkan di Indonesia. Politik mulai bermain pada hal ini dimana kasus tersebut dijadikan kesempatan bagi pasangan calon lain dan yang berkepentingan untuk menjatuhkan, terlihat ketika aksi demo 4 November dalam aksi damai tersebut, tak tanggung-tanggung seluruh komunitas/ormas islam diseluruh Indonesia datang ke Jakarta untuk menuntut Ahok. Fenomena tersebut menunjukan betapa sentimen agama sangat sensitif di Indonesia.

Melalui persoalan di atas muncul perdebatan apakah seorang pemimpin harus memiliki agama tertentu sesuai dengan rakyat ?. Melalui karya puisi Denny JA yang berjudul “Tuhan dan Pilkada DKI” memaksa kita untuk membuka pikiran bahwa jaman telah berubah. Pemikiran kita harus maju melihat perkembangan dan relevansi sebuah ideologi yang dibangun. Puisi tersebut menunjukan bahwa Indonesia masih ketinggalan jaman, dimana adanya kelompok yang menganggap agama sebagai hal yang utama. Pemimpin seakan dijadikan sebagai pemimpin sebuah agama. Pilkada DKI disatu sisi ada yang menginginkan pemimpin terlepas dari agama atau etnis apapun jika dapat menjadikan rakyat dan daerah lebih baik kenapa tidak. Disisi lain menganggap agama penting karena seorang pemimpin merupakan panutan bagi rakyatnya termasuk agama yang dianut. Sebenarnya kehadiran Ahok adalah simbol Indonesia telah melakukan sila pertama, karena seorang pemimpin minoritas terhadap mayoritas juga terwujudnya demokrasi yang baik karena setiap orang memiliki hak untuk memilih dan dipilih.

Terlepas dari itu semua siapapun yang nantinya akan memimpin Jakarta, diharapkan dapat menjadi contoh yang baik bagi rakyat terlebih memiliki rasa toleransi dengan tidak memunculkan kembali isu-isu intoleran, juga sebagai pemimpin yang mendengarkan pengharapan rakyat. Tidak hanya manis di depan namun yang dibutuhkan adalah tindakan nyata sebagai wujud realisasi program untuk kesejahteraan rakyat. Biarlah persoalan seperti kasus penistaan agama dan isu-isu yang muncul dapat menjadi masukan yang baik. Msayarakat juga dituntut untuk peka dapat melihat situasi secara rasional sehingga sentiment-sentimen yang muncul tidak dengan mentah-mentah ditelaah. Indonesia membutuhkan pemimpin yang dapat bersinergi dengan Pancasila juga didukung dengan rakyat yang dapat bekerjasama membangun Indonesia menjadi lebih baik.

Sumber ilustrasi: google.com

  • view 461