Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 12 Agustus 2018   15:53 WIB
Tulisan Politik Yang Bukan Politik

 

Pilpres masih tahun depan. Tapi hawanya sudah terasa sejak sekarang. Bahkan mengalahkan isu yang cukup urgent untuk diperhatikan yaitu goncangan sejumlah ratusan kali di Lombok berikut sekian ratus orang yang menjadi korban.

Paslon capres dan cawapres yang baru saja diumumkan, langsung memantik berbagai opini baik berbentuk lisan, tulisan maupun gambar yang memenuhi media kita, entah cetak maupun online termasuk di beranda media sosial. Bahkan juga menjadi bahan obrolan hits di pojok-pojok kampung.

Sebagai warga negara yang baik, saya bergembira karena berbagai opini yang muncul ini menunjukkan masyarakat semakin melek dan cerdas politik. Apalagi bila seseorang bisa mengungkapkan opininya dengan runut dalam bentuk tulisan, saya angkat topi (padahal saya pakai jilbab bukan topi :) ). Sungguh menuangkan pikiran dalam bentuk tertulis lebih sulit dengan jika hanya diungkapkan secara lisan.

Kalau kita buka teks UUD 1945 salah satu ayat dalam pasal 28 telah disebutkan: Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. Yang pernah makan bangku sekolah, pasti sudah paham pasal tentang politik ini.

Secara sederhana saya mengartikan bunyi pasal tersebut bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk bebas berserikat, berkumpul, mengemukakan pendapat dengan lisan dan tulisan yang mana semua hak ini harus dilaksanakan sesuai undang-undang yang berlaku.

Dari pengertian di atas, mungkin frasa harus dilaksanakan sesuai dengan undang-undang-lah yang (sering/hampir selalu) diabaikan orang.

Walhasil banyak tulisan beredar tanpa etika. Banyak yang menyebarkan kebencian atau bertujuan menjatuhkan lawan, bahkan secara personal. Seolah-olah lupa bahwa kita adalah saudara sebangsa yang hidup, makan dan minum dari tanah air yang satu dan sama-sama memiliki tujuan untuk memajukan negeri tercinta. Seolah-olah politik khususnya pilpres adalah pertandingan bukan perlombaan. 

Tahukah anda perbedaan antara pertandingan dan perlombaan?

Kalau kita buka KBBI, pertandingan dan perlombaan itu memiliki perbedaan makna yang signifikan. Pertandingan adalah perlombaan dalam olah raga yang menghadapkan dua pemain (atau regu) untuk bertanding. Contoh: pertandingan tinju, pertandingan sepakbola, pertandingan bulutangkis.

Perlombaan adalah kegiatan mengadu kecepatan, ketangkasan, keterampilan, kecakapan. Contoh: Perlombaan lari, perlombaan renang, perlombaan pacuan kuda.

Beda kan? Petandingan harus menghadapkan kedua pemainnya untuk saling bertanding. Mereka akan diadu sampai salah satu pemain kalah. Sedangkan perlombaan masing-masing pemain tidak saling berhadapan. Mereka hanya fokus pada ketangkasan, kecerdasan dan keterampilan masing-masing untuk bisa menjadi yang terbaik dan keluar sebagai pemenang.

Itulah kenapa dalam Al-Quran menyebut dengan istilah Fastabiqul khoyroot, berlomba-lomba dalam kebaikan.

Misal kita tak bisa menulis sesuai ketentuan undang-undang atau hukum karena kita awam, maka menulislah, beropinilah, berpendapatlah, bebas kok, tapi minimal dengan berpatokan pada adab dan kesopanan yang sudah tentu berlaku universal.

Tentu juga, sebelum beropini minimal kita harus membaca referensi yang terkait.

Di sini saya juga ingin mengutip kata mutiara dari Imam Syafi’i yang telah diterjemahkan secara bebas dalam konteks kekinian:

Sebelum update status atau komen, pikir dulu sebelum posting

Jika dari status atau komentarmu ada maslahat, maka nyetatuslah

Mari tahan jari-jemari ini.  Mari jadikan pilpres 2019 sebagai perlombaan untuk berbuat kebaikan bagi negeri.

Malang, 12 Agustus 2018

Suara Emak

 

 

Karya : Nazlah Hasni