Romansa Putri-putri Nabi (4-end): Kisah Cinta Az-Zahra Dengan Sang Teman Kecil

Nazlah Hasni
Karya Nazlah Hasni Kategori Sejarah
dipublikasikan 24 Desember 2017
Romansa Putri-putri Nabi (4-end): Kisah Cinta Az-Zahra Dengan Sang Teman Kecil

Di antara putri-putri Nabi, kisah Fathimah paling banyak diriwayatkan. Selain karena putri bungsu kesayangan, Fathimah adalah satu-satunya putri yang hidup sampai Nabi wafat. Fathimah sendiri, wafat enam bulan setelah Nabi berpulang.

Fathimah adalah kesayangan Nabi. Beliau bersabda, “Fathimah adalah belahanku.” Hanya dari Fathimah, keturunan beliau terus bersambung. Begitu dekat hubungan Nabi dengan putri bungsunya ini, beliau suka apa yang disukainya, beliau benci apa yang menyakitinya.

Nabi menikahkan Fathimah dengan sepupunya, putra Abu Thalib, paman paling membela, Ali Bin Abi Thalib. Kisah cinta mereka yang suci telah mengukir sejarah dan menginspirasi generasi-generasi sesudahnya.

Ali dan Fathimah tumbuh, bermain dan belajar bersama dalam naungan dan didikan sang Nabi. Sejak kecil, Ali telah diambil Nabi dari Abu Thalib, sebagai rasa terimakasih yang sangat karena pamannya itu telah mengasuh dirinya yang yatim sejak kecil. Selisih usia yang tidak banyak membuat keduanya telah bersahabat sejak belia. Ali dan Fathimah berselisih usia lima tahun. Fathimah lahir saat Quraysi merenovasi ka’bah yang rusak akibat banjir bandang, lima tahun sebelum kenabian, sedangkan Ali lahir beberapa tahun sebelum Quraysi merenovasi ka’bah.

Menurut pendapat yang paling kuat, Ali dan Fathimah menikah pada tahun kedua hijriyah setelah perang Badar. Banyak kisah menarik yang terselip mewarnai romansa suci kedua manusia mulia itu.

Saat itu, beberapa saat setelah hijrah, usia Fathimah telah menginjak delapan belas tahun.  Meski telah cukup usia untuk menikah, namun Fathimah belum memikirkan pernikahan karena kesibukannya  mendampingi sang Ayah dalam berdakwah.  Beberapa sahabat utama tampak membicarakan Fathimah, kenapa Rasulullah belum juga menikahkan putri bungsunya itu. Akhirnya Umar bin Khattab mengusulkan kepada Abu Bakar agar ia menemui Rasulullah untuk melamar Fathimah. “Engkau adalah sahabat yang paling dicintai Nabi, engkau adalah orang pertama yang masuk Islam. Datanglah pada Rasulullah dan pinanglah Fathimah. Semoga Allah memuliakan derajatmu.” Begitu Umar menyemangati Abu Bakar.

Abu Bakar pun bersiap melamar Fathimah. Melalui Aisyah, ia menyampaikan hal tersebut pada Nabi. Namun Nabi menolak halus dan hanya menjawab, “Belum ada ketetapan dari Allah tentang hal ini.”

Umar bin Khattab yang mendengar kabar penolakan ini, langsung mengajukan lamaran juga pada Nabi. Namun jawaban Nabi sama seperti yang disampaikan pada Abu Bakar. Kemudian keduanya, Abu Bakar dan Umar berpikir keras siapa di antara para sahabat yang paling pantas mendampingi putri mulia kecintaan Nabi itu. Mereka mendatangi Abdurrahman bin Auf dan memintanya untuk meminang Fathimah, “Engkau adalah Quraysi paling kaya dan dermawan, bila engkau menemui Rasulullah dan melamar Fathimah, niscaya Allah akan menambah kekayaan dan kemuliaanmu.”

Abdurrahman Bin Auf pun menemui Nabi dan berkata, “Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku dengan Fathimah.” Namun Rasulullah menolaknya. Abdurrahman kembali menemui kedua sahabat itu dan berkata, “Jawaban Rasulullah sama saja.”

Beberapa sahabat semakin serius membincangkan tentang penolakan Rasulullah terhadap lamaran beberapa sahabat utama. “Tunggulah ketetapan mengenani hal ini.” Begitu jawaban Rasulullah kepada para sahabat yang datang melamar. Para sahabat berpikir siapa kira-kira yang paling dekat dan tinggi kedudukannya di sisi Allah dan Rasullullah.

Akhirnya para sahabat menemui Ali bin Abi Thalib dan menyemangatinya untuk melamar Fathimah. “Pergilah menemui Rasulullah. Pinanglah Fathimah. Sungguh engkau adalah pemuda pertama yang bersyahadat.”

Ali sendiri sesungguhnya pun memiliki niat untuk melamar Fathimah, namun ia galau, dengan apa akan melamar pujaannya itu. “Mungkin mereka tak tahu bahwa aku sangat menghendakinya, tapi aku tak memiliki apa-apa untuk menikahinya.” Begitu pikiran yang berkecamuk di benak Ali.

Setelah sekian lama terombang-ambing keraguan, akhirnya Ali memberanikan diri menemui Rasulullah. Namun setelah berhadapan dengan Nabi, Ali hanya tertunduk malu. Tak kuasa dia mengungkapkan hasratnya.

Nabi tahu apa yang dikehendaki Ali. “Apa maksud kedatanganmu wahai putra pamanku,” tanyanya diplomatis.

Seraya tetap menundukkan kepalanya, Ali berkata lirih, “Aku hendak  meminang Fathimah Binti Rasulullah.”

Nabi tersenyum cerah dengan wajah yang bersinar. “Marhaban wa Ahlan,” jawab beliau.

Mendengar jawaban itu, Ali terdiam. Sejenak keheningan tercipta. Pemuda itu diam tak bisa berkata-kata meski sebenarnya banyak yang ingin ditanyakannya. Begitu pun Rasulullah hanya diam, membiarkan Ali larut dalam kecamuk batinnya. Keduanya terdiam cukup lama. Lalu Ali pamit karena sadar diri.

Para sahabat yang telah menunggu dengan gelisah langsung memberondongnya dengan pertanyaan. “Sungguh aku tidak tahu apa-apa. Aku sudah menyampaikan maksudku pada Rasulullah dan beliau hanya menjawab: Marhaban wa Ahlan.” Ali menjelaskan.

Semua sahabat yang ada di situ segera berkata serempak. “Tunggu apa lagi? Jawaban itu sudah cukup.”

Kemudian mereka meninggalkan Ali yang masih dilanda kebingungan. Para sahabat cukup puas karena Rasulullah memberikan putrinya pada pemuda yang tepat. Perkataan para sahabat itu membuat Ali sedikit lebih tenang. Keesokan harinya, ia menemui Rasulullah dengan sekeranjang keberanian.

Setelah berhadapan Ali berkata,

“Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu wahai Rasulullah. Sejak aku kecil engkau telah mengambilku dari ayah ibuku. Engkau membimbingku, mendidikku dan melatihku sehingga apa yang telah kau berikan kepadaku lebih baik dari yang mungkin diberikan ayah dan ibuku. Engkau mencintai dan mendidikku bagaikan cinta seorang ayah pada anaknya. Dan Allah telah menuntun diriku melalui dirimu. Dia menyelamatkanku dari perilaku syirik yang dilakukan para leluhur dan paman-pamanku. Wahai Rasulullah engkau adalah simpananku dan perantaraku di dunia dan akhirat. Dan aku mencintai apa yang telah ditetapkan oleh Allah atas hambaNya yaitu agar aku memiliki rumah tangga dan pernikahan yang menjadi sumber ketenangan bagiku. Aku telah menyampaikan lamaranku untuk menikahi putrimu, Fathimah. Sudikah engkau menikahkanku kepadanya?”

Nabi tersenyum dan berkata,” Wahai Ali apakah engkau memiliki sesuatu untuk mahar?”

Ali menjawab, “Wahai Rasulullah, demi Allah, engkau pasti mengetahui keadaanku. Aku hanya memiliki sebilah pedang dan seekor unta.”

“Lalu, dimana baju Zirah yang kuberikan padamu tempo hari?” tanya Nabi lagi.

“Apakah yang engkau maksud, baju zirah si Peretak? Itu ada padaku.”

Rasulullah mengiyakan. Ali segera pulang dan kembali ke rumah Nabi dengan membawa si Peretak. Nabi kemudian menyuruh Ali menjualnya untuk dibelikan wewangian dan membeli beberapa perlengkapan rumah tangga. Sahabat Utsman Bin Affanlah yang membeli baju zirah tersebut seharga 470 dirham.

Inilah lamaran yang diajukan Ali bin Abi Thalib kepada Fathimah binti Rasulullah dengan mahar baju perang (zirah) si Peretak. Allah telah menjodohkan Fathimah sang Bunga dengan pemuda pemberani ini, pahlawan dan pejuang kebanggaan umat islam. Sebuah contoh yang mulia dari Rasulullah tentang bagaimana membuka pintu kemudahan mahar bagi si pemuda karena ia mengetahui keadaan dan kesulitannya. Rasulullah tidak merendahkan malah meringankan kesulitan Ali dan memberinya jalan keluar.

Sedangkan Fathimah, ketika mendengar dirinya dilamar Ali, ia menangis tersedu. Nabi yang mengetahui putrinya menangis berkata, “ Kenapa kau menangis, Fathimah? Demi Allah kau akan kukawinkan dengan orang yang terdalam ilmunya, terdepan ketabahannya dan terkemuka islamnya.” Fathimah mengangguk, sungguh dia menangis karena bahagia. Ali, pemuda berani itu, sahabat bermainnya sejak kecil adalah pemuda yang juga dicintainya diam-diam dan selalu disertakannya dalam doa-doanya.

Akhirnya usai sudah walimah yang sederhana namun sakral itu. Lalu Nabi masuk ke kamar pengantin untuk mendoakan keduanya. “Ya Allah berkahilah keduanya, berkahilah yang ada pada keduanya dan berkahilah keturunan keduanya.” Begitu doa Nabi.

Di bawah naungan doa dan bimbingan  Rasulullah, Ali dan Fathimah hidup dalam kebahagiaan. Saling mencintai, menghormati dan mengabdi satu sama lain. Ridho dan ikhlas atas segala karunia yang Allah berikan.

Dari sisi materi, kehidupan Fathimah sungguh berbeda dari kakak-kakaknya. Ia hidup bersama Ali dalam kesederhanaan bahkan terkadang kekurangan. Kakaknya Zainab misalnya, hidup berkecukupan setelah menikah dengan Abul Ash ibn Rabi’. Ruqoyyah juga hidup berkecukupan setelah menikah dengan Utsman ibn Affan yang termasuk orang kaya di kalangan Quraysi. Begitu juga Ummu Kultsum yang menjadi istri Utsman setelah Ruqoyyah wafat.

Sedangkan suami Fathimah, Ali bin Abi Thalib, benar-benar fakir dalam arti harfiah. Ia sama sekali tidak memiliki kekayaan baik dari usahanya sendiri atau warisan kedua orang tuanya. Ayahanda Ali, Abu Thalib, meski termasuk petinggi Quraysi yang dihormati, namun tak memiliki banyak harta dan mempunyai banyak anak untuk dinafkahi.

Selain berpenghasilan sebagai tentara muslim, Ali mencari rezeki dengan cara mengupahkan dirinya kepada penduduk Madinah untuk melakukan apa saja, termasuk mengairi kebun kurma dan pekerjaan lainnya.

Ali tak mampu mengupah seorang pelayan untuk membantu Fathimah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Namun Ali tak berpangku tangan. Ia selalu membantu istrinya mengerjakan pekerjaan domestik dengan telaten. Pernikahan keduanya dikaruniai empat orang anak yaitu Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum.

Ali hidup bersama Fathimah sampai tahun 11 Hijriyah. Enam bulan setelah Nabi wafat, Fathimah sakit. Semakin hari jiwanya semakin merunduk dan ketika merasa ajalnya semakin dekat, Fathimah mewasiatkan tiga hal pada suaminya. Tiga wasiat itu antara adalah:
  1. Sepeninggalnya, Fathimah meminta Ali untuk menikahi Umamah bin Abul Ash Ibn Rabi’ putri dari Zainab, kakaknya.
  2. Fathimah meminta Ali membuatkannya keranda kayu untuk membawa jenazahnya ke pemakaman. Dia juga meminta supaya jenazahnya ditutup dengan rapat, dikafani dan dibungkus lagi dengan kain lampin yang tebal. Dalam sejarah, keranda Fathimah adalah keranda pertama yang digunakan untuk membawa jenazah.
  3. Fathimah meminta supaya ia dikuburkan di Baqi pada malam hari.
 
Tak lama kemudian. bunga  Makkah yang mekar di Madinah itu wafat dalam usia 29 tahun.

 

 Daftar Pustaka:

Dr. Muhammad Husain Haikal. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta. Litera Antar Nusa. 1996

Dr. Nizar Abashah. Bilik-bilik Cinta Muhammad. Jakarta. Penerbit Zaman. 2010

Muhammad Abduh Yamani. Hanya Fathimah, Bunga yang Menjadi Bunda Ayahnya. Depok. Pustaka Iiman. 2007

  • view 174