Romansa Putri-putri Nabi (3): Kisah Cinta Zainab yang Dramatis

Nazlah Hasni
Karya Nazlah Hasni Kategori Sejarah
dipublikasikan 12 Desember 2017
Romansa Putri-putri Nabi (3): Kisah Cinta Zainab yang Dramatis

Putri Nabi yang tertua, Zainab, adalah yang paling mirip dengan Khadijah. Kakak dari Ruqoyyah dan Ummu Kultsum ini menyimpan kisah tersendiri dalam sejarah hidup Nabi. Kisah yang sangat heboh dan dramatis.

Zainab dinikahkan Nabi dengan Abul Ash Ibn Rabi’. Seperti halnya Zainab, menantu kesayangan Nabi ini juga berasal dari keluarga dan status sosial yang terhormat. Abul Ash adalah keponakan Khadijah.

Setelah wahyu turun kepada Nabi, Zainab menyatakan diri beriman kepada agama baru yang dibawa sang ayah. Abul Ash tidak berbantah, ia juga sama sekali tak menunjukkan permusuhan sebagaimana Utbah dan Utaibah kepada Ruqoyyah dan Ummu Kultsum.

Meski Abul Ash tetap syirik dan belum menerima Islam, namun cintanya pada Zainab sama sekali tidak berubah. Ia tetap berlaku baik kepada istrinya itu. Begitu pula Zainab, tetap mengagumi suaminya serta tak pernah berhenti berdoa agar Allah memberinya hidayah.

Ketika Nabi dan kaum muslimin hijrah ke Madina, Zainab tidak bisa menyusul ayahnya. Ia bertahan di Makkah untuk menjaga Abul Ash serta demi baktinya pada suami. Abul Ash pun demikian, menjaga dan melimpahi istrinya dengan kasih sayang sepenuh jiwa.

Tatkala kaum kafir Quraysi Makkah keluar dalam ekspedisi perang Badar, Abul Ash ikut serta di dalamnya. Bersama mereka, ia pongah dan berbulat hati untuk memberantas Islam.

Zainab yang ditinggalkannya menunggu dengan hati galau dan terbagi. Di satu sisi mencemaskan ayahnya, dan di sisi yang lain mengkhawatirkan suaminya mengalami sesuatu yang diluar keinginannya. Rasanya tiada hati yang segalau hati Zainab saat itu.

Perang usai, takdir terjawab. Umat Islam menang, sedangkan suaminya selamat meski ditawan. Legalah hati putri Nabi itu.

Satu persatu orang musyrik mengirim utusan untuk menebus kerabatnya yang menjadi tawanan umat Islam di Madinah. Tetapi, Zainab tak memiliki apa-apa untuk menebus Abul Ash selain seuntai kalung hadiah dari ibunya saat ia diantar sebagai istri kepada Abul Ash. Zainab tahu kalung itu langka dan tak ternilai harganya. Tetapi, kecintaannya pada sang suami mengalahkan kecintaan pada kalung yang penuh sejarah itu.

Dan, kini kalung itu terlihat lagi oleh Nabi. Beberapa kerabat Abul Ash yang sengaja diutus Zainab membawanya ke Madinah sebagai tebusan. Tak pelak lagi, Nabi mengenalinya. Hati beliau berdebar, air mata meleleh di pipi. Kalung itu sempurna memijarkan kenangan indah bertahun silam bersama Khadijah. Ya, kalung itu milik istrinya yang kemudian berpindah ke tangan Zainab, putrinya.

Nabi tak ingin mencerabut kenangan itu dari hati putrinya, namun Beliau juga tak ingin melanggar hak-hak pasukan muslim atas harta ghanimah. Maka dengan kalimat lembut dan bijaksana, beliau mengungkapkan isi hati. Beliau bersabda, tanpa aksen memerintah ataupun mengharuskan. “Kalau tidak keberatan, kalian serahkan kepadanya (Zainab) tawanannya berikut kalungnya.”

Bila Abul Ash kembali ke istrinya dengan membawa kalung itu, maka di lehernya sendiri telah melingkar kalung lain yang jauh lebih besar dan bernilai. Entah apa namanya, yang pasti derajat putri Nabi itu menjadi semakin tinggi di dalam hati Abul Ash.

Tak lama kemudian, turun wahyu yang mengharamkan wanita muslimah menikah dengan laki-laki musyrik, maka Nabi menyuruh Zainab bercerai dari Abul Ash. Dan ketika perceraian itu dilakukan, Abul Ash berjanji akan mengantarkan Zainab ke ayahnya. Maka berangkatlah putri Nabi itu menuju Madinah.

Dalam perjalanan, Zainab dikejutkan oleh munculnya penjahat yang datang secara tiba-tiba. Ia terjatuh dari untanya sehingga janin yang dikandungnya gugur saat itu juga. Hampir saja jiwanya tak tertolong. Zainab sampai di Madinah dengan tenaga yang sudah terkuras.

Sementara itu, sejak keperigan Zainab, Abul Ash terserang kehilangan yang sangat. Kerinduan padanya sungguh tak tertahan. Dia berharap semoga segera mendapat jalan keluar atas situasi yang pelik ini.

Seperti biasa dia menyibukkan diri dengan kegiatan berdagang yang selama ini ditekuninya. Ia sangat dipercaya kaum Quraysi, karena setiap kali diutus mengurus bisnis mereka, ia selalu pulang dengan keuntungan berlipat.

Saat tiba kedatangan kabilah Syam, ia keluar bersama sekelompok saudagar Makkah dalam satu kabilah. Kemudian ia jual barang-barangnya di pasar Bashrah dan sekitarnya. Tapi malang saat hendak kembali ke Makkah, ia kepergok prajurit muslim. Barang-barangnya dirampas, bahkan ia hendak ditawan jika tidak segera melarikan diri.

Sendirian Abul Ash di tengah gurun pasir yang luas. Sederet pertanyaan memenuhi benaknya bagaimana dia harus kembali ke Makkah tanpa membawa sebuah barang  pun? Sedangkan barang-barang itu adalah amanah kaum Quraysi Makkah.  Ia terus berpikir mencari jalan keluar. Tiba-tiba inspirasi datang membentuk satu tekat.

Abul Ash memutuskan bertolak ke Madinah dan menemui Zainab untuk meminta meminta perlindungan padanya. Mengetahui hal itu, Nabi mengutus seseorang untuk mengatakan bahwa Zainab harus menjaga diri karena lelaki itu sudah tidak halal lagi baginya.

Setelah mendengar keterangan para sahabat, Nabi akhirnya memahami apa yang terjadi pada Abul Ash. Ia datang ke Madinah dengan penuh ketakutan dan minta perlindungan pada Zainab. Nabi merasa iba. Bukan karena ia adalah mantan menantunya. Nabi selalu berharap agar Abul Ash segera mendapat hidayah. Bahkan untuk itu beliau bermunajat khusus pada Allah.

Mendengar Zainab memberi perlindungan pada Abul Ash, tahulah kaum muslimin akan sisi cerita yang sebenarnya. Mereka menghormati rumah NAbi. Mereka dapat menangkap kesedihan Nabi atas putrinya. Karena itu cepat-cepat mereka kembalikan semua barang Abul Ash tanpa kurang suatu apapun. Mererka juga membiarkan Abul Ash pulang membawa hartanya dengan aman.

Tanpa sadar Abul Ash telah masuk Makkah. Ia habiskan sepanjang perjalanan dengan merenungi peristiwa yang terjadi.  Dan tahulah ia bahwa kaum muslimin tidak memusuhinya. Bahwa mereka sama sekali tak menginginkan hartanya. Bahkan harta dan status social yang mereka miliki di Makkah mereka tinggalkan begitu saja ketika berhijrah ke Madinah. Dan setelah perang Badar yang prestisius itu, kaum muslimin semakin kokoh dan kuat.

 Terkenang olehnya keagungan Zainab dan Rasulullah. Juga sikap kaum muslimin yang demi rasa hormat mereka pada Zainab dan RAsulullah, telah mengembalikan martabatnya di hadapan kaum Quraysi Makkah. Maka begitu masuk Baitullah yang suci, Hidayah itu benar-benar datang di hati Abul Ash. Cahaya itu benar-benar bersinar menerangi jalan Abul Ash.

Sementara itu penduduk Makkah menyambut Abul Ash  yang membawa hasil melimpah dengan ucapan doa kebaikan. Mereka berkumpul dan memuji kebaikan, kejujuran dan kedudukannya setelah laba diserahkan seutuhnya kepada mereka.

Tetapi saat mereka hendak membubarkan diri, tiba-tiba Abul Ash berkata dengan suara lantang. “Wahai kaum Quraysi, apakah aku telah menunaikan kewajibanku kepada kalian?”

“Ya kaulah saudara kami yang terbaik. Kau telah menunaikan amanah tanpa cela.

“Sekarang ketahuilah,” kata Abul Ash kemudian. “Bahwa aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah.”

Rupanya Abul Ash ingin keberimanannya berangkat dari pondasi kebaikan, bukan kelemahan apalagi kehinaan. Agar kejujuran tidak tercoreng, ia tunaikan segala kewajibannya pada penduduk Mekkah. Ini membuat mereka kebingungan saat Abul Ash mengumumkan diri memeluk islam. Mulut mereka terbungkam tanpa tahu harus mengatakan apa.

Setelah itu, Abul Ash segera bertolak ke Madinah. Zainab diserahkannya kembali. Legalah hatinya karena kekasih kembali ke pangkuan. Kini hidup baru dalam rumah tangga yang penuh cahaya islam telah dimulai. Abul Ash dan Zainab memiliki putri bernama Umamah.

Tetapi kebahagiaan Nabi beserta menantunya itu tak berlangsung lama. Mendadak di tahun ke delapan hijriyah, Zainab sakit dan meninggal. Betapa terluka hati sang ayah mengingat masa lalu putri tertuanya yang penuh penderitaan. Lebih-lebih sang suami, Abul Ash terus diliputi rasa duka mendalam. Hidup Abul Ash sendiri tak lama setelah itu karena kemudian ia menyusul pujaan hati.

 

***

Daftar Pustaka

Dr. Muhammad Husain Haikal. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta. Litera Antar Nusa. 1996

Dr. Nizar Abashah. Bilik-bilik Cinta Muhammad. Jakarta. Penerbit Zaman. 2010.

 

 

  • view 79