Romansa Putri-putri Nabi (2): Dua Putri yang Dinikahi Dzun Nurrain

Nazlah Hasni
Karya Nazlah Hasni Kategori Sejarah
dipublikasikan 07 Desember 2017
Romansa Putri-putri Nabi (2): Dua Putri yang Dinikahi Dzun Nurrain

Ruqoyyah dan Ummu Kultsum, Dua Putri yang Dinikahi Dzun Nurrain

 

Pernikahan Utsman dan Ruqoyyah (putri nabi yang kedua)

Alkisah, pada zaman jahiliyah, Utsman mendengar bahwa Rasululullah menikahkan Ruqoyyah dengan anak pamannya, Abu Lahab. Sehingga Utsman sangat menyesal dan patah hati berat karena ia tidak sempat mendahului Utbah, anak Abu Lahab dan tidak bisa merasakan akhlak Ruqoyyah yang terpuji serta kemuliaan nenek moyangnya.

Ketika wahyu turun dan Nabi diangkat menjadi rasul, maka dakwah menyeru pada agama tauhid pun dimulai. Tapi Abu Lahab menanggapi dakwah Nabi itu dengan sombong. Ia dan istrinya, Ummu Jamil, menentang Nabi. Berkenaan dengan dengan sepasang suami istri ini, Allah menurunkan wahyu-Nya yaitu surat Al-Lahab.

Dengan sikap angkuh, Abu Lahab menekan kedua putranya yaitu Utbah (yang menikahi Ruqoyyah) dan Utaibah (yang menikahi Ummu Kultsum) untuk menceraikan kedua putri Nabi itu. “Haram kepalaku menyentuh kepalamu, jika kau tidak menceraikan dua putri Muhammad,” kata Abu Lahab. Peristiwa ini sangat menyakitkan hati putri-putri Nabi itu.

Sedangkan Utsman bin Affan, yang kini telah beriman, hampir saja terbang ketika mendengar kabar bahwa Ruqoyyah telah diceraikan oleh Utbah. Tanpa menunggu lagi, ia segera menemui Nabi untuk melamar Ruqoyyah. Rasul pun menikahkan putrinya tersebut dengan Utsman. Ibunda Khadijah sendiri yang mengantarkan mempelai putri kepada mempelai laki-laki.

Pasangan Utsman dan Ruqoyyah adalah pasangan yang serasi. Tatkala Ruqoyyah diantarkan kepada Utsman, ada yang berkata, “ Sebaik-baik pasangan suami istri yang pernah dilihat oleh manusia adalah Utsman dan Ruqoyyah.”

Hari-hari berikutnya, sepasang suami istri itu harus bersabar menghadapi siksaan kaum Quraysi terhadap kaum muslimin yang semakin menggila. Maka ketika ada perintah hijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan aqidah,  Utsman dan Ruqoyyah termasuk golongan orang pertama yang berangkat.

Di tanah rantau, mereka mendapat seorang putra yang diberi nama Abdullah. Namun putra kesayangan mereka wafat di usia enam tahun karena dipatuk ayam liar.

Beberapa waktu kemudian, demi mendengar kabar bahwa tanah Makkah sudah kondusif dengan dakwah Islam, mereka memutuskan kembali ke kampung halaman. Ternyata setelah sampai di Makkah, tidak demikian kenyataannya. Kaum Quraysi belum lelah menyiksa kaum muslimin.

Akhirnya, ketika ada perintah hijrah ke Yastrib, Utsman dan Ruqoyyah pun turut serta berhijrah bersama kaum muslimin yang lain.

Di tanah hijrah yang kemudian berganti nama menjadi Madinah Al-Munawwarah, Utsman dan Ruqoyyah menyaksikan sebuah negara baru yang sedang dibangun, dan berbagai peristiwa lain yang berkembang sesudahnya. Utsman pun tak pernah absen mengikuti peperangan bersama Rasul dalam rangka menegakkan agama Allah.

Wafatnya Ruqoyyah

Ketika kaum muslimin sedang menyipakan diri menuju Badar untuk menghadapi Kaum Quraysi, tiba-tiba Ruqoyyah jatuh sakit yang memaksanya berbaring di tempat tidur. Keadaannya yang semakin kritis, membuat Nabi meminta Utsman untuk tidak meninggalkan istrinya.

Ketika ruh Ruqoyyah yang suci dicabut Tuhan dalam pelukan suaminya, seseorang berteriak lantang mengabarkan kabar gembira atas kemenangan kaum muslimin di Badar.

Belum lengkap kebahagiaan Nabi atas kemenangan itu, beliau harus pula menyampaikan bela sungkawa kepada menantu kesayangannya atas meninggalnya istri yang sangat dicintainya.

Jasad Ruqoyyah dikebumikan di pemakaman Baqi.

 

 

Pernikahan Ummu Kultsum dan Utsman bin Affan

Seperti telah disinggung sebelumnya, pernikahan Ummu Kultsum dengan Utaibah bin Abu Lahab sama nasibnya dengan  sang kakak. Dia diceraikan sepihak dan dikembalikan kepada orangtuanya oleh Utaibah atas perintah Abu Lahab.

Ummu Kultsum yang masih muda belia menerima perlakuan menyakitkan itu dengan kesabaran. Hari-hari selanjutnya banyak dimanfaatkan oleh putri Nabi yang ketiga itu untuk membantu dan mendukung sang ayah dalam berdakwah.

Sementara itu, sejak kematian istrinya, Utsman bin Affan belum bisa move on dari Ruqoyyah. Wajahnya selalu diliputi mendung kesedihan kehilangan istri seorang putri Rasul yang mulia dan sangat dicintainya. Bahkan tawaran dari Umar untuk menikahi putrinya, Hafshah, pun ditolak secara halus oleh Utsman.

Mengetahui keadaan ini, Nabi menikahkannya dengan putrinya yang lain yaitu Ummu Kultsum, dengan perlakuan dan maskawin sama seperti kakaknya. Alangkah gembiranya Utsman. Luka hatinya kini terobati. Lebih-lebih karena Ummu Kultsum mampu mengisi hidupnya dengan kelembutan dan kegembiraan. Belum lagi julukan yang diberikan kepadanya yaitu Dzun Nurrain.

Kehidupan pasangan Utsman dan Ummu Kultsum semakin hari semakin baik. Ia adalah menantu Rasulullah yang paling baik. Allah meluaskan rezeki Utsman melalui usaha dagangnya. Rezeki yang sebagian besar bermanfaat bagi kaum muslimin terutama di masa-masa sulit.

Kedermawanan Utsman tercatat dengan tinta emas dalam sejarah. Ia banyak mengeluarkan sedekah dan turun langsung menyiapkan bala tentara untuk kepentingan umat. Sesuatu yang membuat Nabi bangga dan memuji tindakannya. “Tidak akan menyulitkan Utsman setelah ini apa yang dikerjakannya hari ini.”

Tetapi hidup damai bersama putri Nabi itu juga tak berlangsung lama. Pada tahun ketujuh Hijriyah, Ummu Kultsum menghadap Ilahi. Utsman kembali berduka. Begitu pula Nabi.

Terenyuh hati Nabi melihat kenyataan yang menimpa putrinya. Begitu pula beliau merasa iba pada Utsman, menantunya. Beliau bersabda, “Kalau saja masih ada putriku yang ketiga, niscaya akan kukawinkan ia dengan Utsman.”

***

 

Daftar Rujukan

Dr. Muhammad Husain Haekal. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta. Litera AntarNusa. 1996.

Dr. Nizar Abazhah. Bilik-bilik Cinta Muhammad. Jakarta. Penerbit Zaman. 2010

Dr. Musthafa Murad. 30 Shahabat Nabi Yang dijamin suga. Surakarta. insan Kamil. 2009.

Satori, Muhammad. Romantika Rumah Tangga Nabi. Jakarta. Rihlah Press. 2004.

 

 

  • view 35