Romansa Putri-Putri Nabi (1): Pendahuluan

Nazlah Hasni
Karya Nazlah Hasni Kategori Sejarah
dipublikasikan 06 Desember 2017
Romansa Putri-Putri Nabi (1): Pendahuluan

     Pernikahan suci dua manusia mulia, Nabi dengan Khadijah membuahkan putra-putri yang juga mulia. Mereka bukan hanya hiasan semata, namun anugerah yang senantiasa mengalirkan kehangatan dan ketenangan jiwa. Putra-putri mulia itu sempurna mendapatkan kasih sayang yang tercurah deras dari kedua orangtuanya. Bagai buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, perangai mereka pun tak kalah indah dari kedua orangtuanya.

     Dari Khodijah, Nabi memiliki enam orang putra-putri. Lima diantaranya lahir sebelum masa kenabian, dan satu orang lahir pada masa setelah kenabian. Selain itu, Nabi juga memiliki seorang putra dari Mariyah Al-Qibtiyah.

Ketujuh putra-putri Nabi itu adalah:

1. Qosim.

Karena putra pertama inilah, Nabi dijuluki Abul Qosim yang berarti ayahnya Qosim.  Qosim lahir jauh sebelum Nabi diangkat menjadi Rasul.

Namun kebersamaan Nabi dan Khodijah bersama sang putra tak berlangsung lama. Allah mengambilnya ketika bocah lucu itu sedang senang-senangnya belajar berjalan. Peristiwa ini meninggalkan luka yang mendalam bagi pasangan Muhammad dan Khadijah.

2. Zainab.

Zainab adalah putri nabi yang tertua. Seperti halnya Qosim, Zainab lahir sebelum masa kenabian. Hidup sampai dewasa dan menikah dengan putra bibinya yaitu, Abul Ash ibn Rabi’. Dari Zainab, Nabi mendapat  cucu perempuan cantik yang bernama Umamah.

3.  Ruqoyyah.

Ruqoyyah lahir sebelum masa kenabian. Hidup sampai dewasa dan menikah dengan Utsman bin Affan dan memiliki putra bernama Abdullah. Ruqoyyah meninggal setelah perang Badar.

4. Ummu Kultsum.

Lahir sebelum masa kenabian. Menikah dengan Utsman setelah kakaknya (Ruqoyyah) meninggal. Itulah mengapa Utsman dijuluki Pemangku dua cahaya, Dzun Nurrain.

5. Fathimah.

Lahir lima tahun sebelum masa kenabian. Tepatnya ketika peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah yaitu peletakan hajar aswad ke tempatya semula oleh sang ayah. Waktu itu ka’bah baru saja selesai direnovasi setelah rusak akibat banjir bandang.

Hidup sampai dewasa (wafat usia 29 tahun) dan menikah dengan Ali bin Abi Tholib. Dianugerahi empat putra dan putri yaitu: Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum.

6. Abdullah.

Adik dari Fathimah ini lahir setelah masa kenabian. Oleh karena itu Abdullah dijuluki Ath-Thoyyib yang berarti yang baik atau Ath-Thohir yang berarti yang suci. Wafat saat masih bayi, sehingga tak banyak riwayat yang tertulis tentangnya.

7. Ibrahim.

Ibrahim adalah putra Nabi dari Mariyah Al-Qibtiyah, istri beliau yang berasal dari Mesir. Lahir setelah masa kenabian tepatnya pada tahun 8 H. Namun Ibrahim tak berusia panjang dan wafat pada usia 18 bulan. Kematian ini meniggalkan kesedihan mendalam bagi kedua orangtuanya, terutama sang ibu, wanita cantik dari Qibti.

 

     Kembali pada putri-putri Nabi yang dianugerahi usia sampai dewasa. Yaitu Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fathimah. Mereka adalah putri-putri kecintaan yang jiwanya penuh akan kasih sayang. Tumbuh mewangi bagai bunga yang melengkapi keindahan rumah tangga orangtuanya. Dianugerahi kebeningan hati yang mengantarkan mereka untuk segera beriman ketika mendengar kabar ayahnya diangkat menjadi Rasul.

     Seperti gadis-gadis lain, keempat putri tersebut juga mengalami masa-masa jatuh cinta dan kemudia menikah dengan laki-laki yang tak kalah mulia nasab lebih-lebih akhlaknya. Dan sungguh, bila menelisik kembali kisah cinta putri-putri Nabi tersebut, hati ini akan mengagumi romansa yang terselip begitu suci dan indah.

     Kisah Romansa Putri-putri Nabi akan saya tulis ulang menjadi empat bagian. Saya ambil dari beberapa buku referensi.

Semoga bermanfaat.

 

Sumber gambar: Google

  • view 180