Luka Bangsa Bernama PKI, Sebuah Catatan Harian

Nazlah Hasni
Karya Nazlah Hasni Kategori Renungan
dipublikasikan 30 September 2017
Luka Bangsa Bernama PKI,  Sebuah Catatan Harian

“Apa salah saya, Pak? Kami saling mencintai.” Pemuda kurus dengan kopyah putih itu bertanya. Wajah tampannya memerah, menahan emosi.

 

“Kau adalah anak PKI. Itu salahmu!” jawab pria separuh baya itu, ayah dari gadis yang selama ini dicintainya dan diimpikannya menjadi pendamping hidupnya, ibu dari anak-anaknya.

 

“Ayah dan ibu sudah lama meninggal, Pak. Mereka sudah mendapat hukuman atas apa yang telah mereka lakukan. Dan saya putranya bukan berarti mewarisi dosa-dosa mereka kan?”

 

“Kau tetap anak PKI. ” Pria separuh baya itu lalu berdiri, hendak meninggalkan pemuda kurus yang usaha toko kelontongnya sedikit demi sedikit mulai ramai itu. Pembicaraan ini selesai sudah, tak sekali-kali dia menikahkan anak gadisnya dengan pemuda itu.

 

“Pak…benar saya anak PKI, tapi bapak harus tahu, saya tetaplah anak seorang manusia!”

 

Dialog diatas adalah dialog imajiner di benak saya. Namun tak menutup kemungkinan dialog tersebut ada dalam kehidupan nyata mengingat sejarah kelam bangsa ini. Kebiadaban PKI sungguh diluar batas kemanusiaan, terjadi pada rentang 1948 – 1965, menyisakan luka mendalam pada bangsa ini.

 

Banyak tertulis kisah anak-anak PKI yang  ikut merasakan perihnya hukuman karena orangtua mereka adalah PKI atau simpatisan PKI, terutama pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto. Tidak hanya siksaan, mereka juga dikucilkan dan dilarang menjadi PNS atau tentara. Sampai-sampai mereka harus mengubah atau menyembunyikan identitas supaya bisa hidup normal.

 

Benar, paham komunis yang meniadakan Tuhan sangat bertentangan dengan paham manapun. Bahkan dengan fitrah manusia itu sendiri.  Karena sejatinya hati manusia selalu condong untuk mengakui adanya Dzat di luar dirinya yang kuasa mengatur segalanya. 

 

Namun sebagai makhluk yang berketuhanan Yang Maha Esa, maka sudah sepatutnya kita merangkul anak keturunan PKI. Memaafkan dan memberikan kesempatan yang sama seperti anak-anak yang lain. Tak mudah memang, apalagi mengingat kebiadaban mereka terhadap Ulama-ulama dan bangsa ini.

 

Jalan kembali pulang pada kebenaran hakiki itu selalu ada. Menyelusup pelan memasuki sisi nurani tiap insan termasuk dalam jiwa-jiwa PKI.

 

Sekarang yang harus terus diwaspadai adalah bahaya laten komunis. Semoga Allah Yang Maha Esa melindungi kita semua.

 

Catatan singkat ini saya tulis dalam rangka menjawab pertanyaan anak saya yang lahir di era milenia tentang G-30S/PKI.  Tentu dia tak seperti saya yang menangi jaman Orba yang mana  film G30S/PKI, yang Supersemarnya masih diragukan keasliannya, selalu diputar tiap  tahun.

 

 

 

 

Wallahua’lam

 

Malang, 30 September 2017

Bunda Farhanah

 

 

 

  • view 154