Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Sejarah 25 September 2017   10:35 WIB
Detik-detik Hijrah Nabi

Siksaan kafir Quraisy semakin menggila. Untuk menyelamatkan jiwa, raga dan aqidah, Nabi memerintahkan kaum muslimin berhijrah ke Yatsrib. Ini adalah perintah hijrah yang kedua kali yang mana periode sebelumnya sebagian dari kaum muslim telah ada yang berhijrah ke Abbysina (Habasyah, Ethiopia sekarang).

 

Maka secara bergelombang, kaum muslimin berhijrah ke Yatsrib. Kaum musyrikin Mekkah tahu, cepat atau lambat Nabi juga akan menyusul berhijrah ke Yatsrib. Mereka tak mau kehilangan, maka direncanakanlah sebuah pembunuhan dengan melibatkan seluruh kabilah di Mekkah. Jadi nanti keluarga Hasyim tak dapat menuntut pembunuhan ini kepada siapapun.

 

Muslihat demi muslihat disusun. Satu strategi disepakati, mereka akan mengepung rumah  Nabi, begitu keluar beliau akan dihujam puluhan pedang, lehernya dipenggal, tubuhnya dicacah dan darah Muhammad akan mengalir di depan semua kabilah. Dengan begitu, pihak keluarga Muhammad tak berkutik untuk berhadapan dengan kabilah-kabilah Arab.

 

Malam yang direncanakan itu pun tiba. Bak seutas rambut yang menyelip dalam adonan, Nabi menyelinap pergi melewati gerombolan pemuda yang terlelap. Kalau bukan karena panas matahari yang memanggang, mungkin mereka akan terus tertidur pulas. Matahari bulan Juli itu seakan mengejek mereka dengan terik yang bergolak.  Mereka naik pitam bukan kepalang, pintu rumah Muhammad didobrak. Tetapi yang mereka jumpai adalah Ali bin Abi Thalib, sepupu Nabi. Remaja tanggung itu tertidur pulas di ranjang Nabi. Ia sengaja ditinggal  untuk mengembalikan barang-barang titipan kepada pemiliknya. Muhammad Al-Amin memang sangat dipercaya penduduk Mekkah untuk menyimpan barang-barang harga mereka.

 

Nabi pergi ke rumah Abu Bakar untuk kemudian bergegas menuju Gua Tsur. Sebelum naik ke gunung, Nabi menoleh ke arah Mekkah, tanah tumpah darahnya  yang semakin mengecil di kejauhan. “Alangkah indah kau, negeriku. Kaulah tumpuan cintaku, kalau bukan karena diusir kaumku, takkan pernah aku menetap selain di jantungmu."

 

Sementara itu di rumah Nabi pemuda-pemuda kafir Quraysi itu saling bertanya, "Kemana dia?"

 

Mereka mengira Nabi tak akan bisa lepas dari tangan mereka. Dibuntutinya jejak tapak kaki dengan jeli, dengan mata ahli. Mereka yakin bisa membuntuti dan menghabisi Muhammad. Kecuali beliau terbang dengan dua kepak sayap, namun ini tak mungkin. 

 

Dari jejak yang terlihat mereka berkesimpulan bahwa Muhammad tak sendiri namun dengan seorang teman dan itu pasti Abu Bakar. Sebab dialah sahabat terdekat dan selalu setia menemani dalam setiap kesempatan. Dan jejak kaki mereka jelas mengarah ke gua Tsur. Sebuah gua kecil, sempit, liar dan gelap. Di mulut gua terdapat sebatang pohon, tak mungkin ada yang bisa masuk kecuali dengan merangkak. Itu pun sulit. 

 

Abu Bakar cemas kalau-kalau Nabi diserang binatang buas. Ular atau kalajengking misalnya. Maka ia masuk terlebih dahulu untuk memeriksa. Setiap lubang disumbat dengan apa yang dia bisa, batu atau sobekan kain. Setelah dirasa aman, baru ia menyilakan Nabi untuk masuk. 

 

Di sini Nabi tinggal selama tiga hari. Menjadi rumah beliau sampai keadaan aman dan pencarian menyurut. Tepatnya sampai Allah memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan. Rumah yang tanpa fasilitas untuk tinggal, yang kanan-kirinya dikepung oleh kaum kafir Quraisy, seakan tak ada tempat lain di sana. 

 

Karena kepayahan, Nabi tertidur di pangkuan Abu Bakar. Pandangan Abu Bakar menulusuri dinding gua, dan matanya tertumbuk pada sebuah lubang yang belum tersumpal. Abu Bakar mengangkat kakinya untuk menyumpal lubang yang ternyata berpenghuni, seekor ular berbisa. Merasa terganggu, ular itu mematuk kakinya. Rasa perih tak tertahan menyerang sang sahabat mulia, sampai-sampai air matanya menetes mengenai wajah Nabi. 

 

"Ada apa wahai Abu Bakar?" Nabi terbangun. 

 

Abu Bakar menunjuk kakinya. Nabi lalu mengusap kaki sahabatnya dengan tangannya yang agung. Abu Bakar pulih seketika. Kedua lelaki itu melanjutkan istirahat. Namun itu hanya sejenak, karena kemudian mereka mendengar suara derap langkap yang banyak. Menanjak mendekati gua.

 

Dada Abu Bakar berdegup kencang. Gemetar bukan buatan. Rupanya kaum musyrikin telah mengendus persembunyian kudus ini. Terbayang sudah, kepalanya yang tepenggal oleh pedang tajam para kafir Quraisy. 

 

Dalam pekat gua, Nabi dan Abu Bakar dapat menangkap kelabat kaki-kaki musuh yang berdiri bingung. Mereka terhadang paradoks. Antara jejak langkah yang jelas mengarah ke gua, dan kenyataan yang terpampang di depan mata. 

 

Mereka menganalisis dengan cermat. 

 

 "Tak mungkin mereka bersembunyi di sini. Gua ini sudah lama mati. Lihat, ada sarang laba-laba menutup." Seseorang diantara mereka berkata.

 

 "Ya, di mulut gua juga ada merpati yang mengerami telurnya. Kalau ada orang masuk, pasti merpati itu pergi." Sahut yang lain.

 

Sementara itu, di dalam gua, kekhawatiran menggedor-gedor dada Abu Bakar.

 

"Kalau saja mereka mengintip sedikit saja ke mulut gua, maka pastilah mereka melihat kaki kami," gumamnya lirih.

 

"Apa kamu pikir kita hanya berdua saja Abu Bakar. Ada Allah bersama kita, jangan panik." Nabi menguatkan. 

 

Dan benar Allah membuat mereka tenang. Para pengejar itu berbalik arah. Pulang dengan seribu marah, kesal, kecewa dan panik. Selanjutnya mereka membuat sayembara, siapa yang berhasil membekuk keduanya, akan mendapat seratus unta. 

 

Sepanjang tiga malam dua manusia mulia itu berada di gua Tsur. Mereka tak pernah putus informasi dari Mekkah. Adalah Abdullah bin Abu Bakar yang bertugas sebagai juru pantau, menelisik perkembangan penting di Mekkah dan sekitarnya. Sorenya, dia naik ke gua untuk menginformasikan pada kedua sahabat itu dan baru pulang setelah tengah malam untuk menghilangkan kecurigaan kaum Quraisy. 

 

Sementara itu, seperti penggembala lainnya, Amir bin Fuhairoh, budak Abu BAkar, juga pergi mengembala namun mengarahkan kambing gembalaannya menuju gua Tsur agar dapat memberi minum susu kambing segar kepada Nabi dan Abu Bakar. Begitu juga Asma binti Abu Bakar, setiap hari mengirim makanan kepada Nabi dan ayahnya. Begitu Asma pulang, Amir ikut pulang dan melindas jejak kaki kedua putra Abu Bakar dengan kaki kambing-kambingnya. 

 

Tiga hari berlalu, pencarian mereda. Dengan dibantu Abdullah ibnu Al-Urayqath sebagai pemandu jalan dan Amir Ibn Fuhairah, kedua bersahabat itu berangkat menuju tanah seribu cahaya. Abdullah membawa dua ekor unta yang telah disiapkan Abu Bakar sebelumnya. 

 

Mereka keluar dari gua menapaki gurun luas nan panas menuju Yatsrib yang kemudian berganti nama menjadi Madinatul Munawarah. 

 

Rumah-rumah tertunduk layu karena tak dapat melindungi Nabi. Atas kuasa Allah, gua sempit di ujung kota lah yang melindunginya.

 

 

Malang, 25 September 2017/5 Muharrom 1439

 

Sumber gambar: Google

Karya : Nazlah Hasni