Tentang Masa Depan Penulis, Sebuah Catatan Harian

Nazlah Hasni
Karya Nazlah Hasni Kategori Lainnya
dipublikasikan 15 September 2017
Tentang Masa Depan Penulis, Sebuah Catatan Harian

Saya penulis amatir sih, tepatnya emak-emak yang suka menulis. Namun ramainya berita pencabutan hak penerbitan buku-buku Tere Liye di dua penerbit mayor Indonesia sebagai protes penulis asal Sumatera itu terhadap kebijakan pajak penulis yang lumayan besar, yaitu 15 %, membuat saya berpikir bahwa menjadi penulis di tanah air ini tak mudah, kalau tak bisa dibilang memiliki masa depan cerah.

Sebenarnya gampang untuk mengendus bahwa dunia perbukuan tanah air bukanlah bidang yang basah untuk mendulang rupiah. Tak usah jauh-jauh melirik urusan pajak yang mencekik itu, cukup kita memperhatikan sekeliling, maka bukti itu akan terang dengan sendirinya. Contoh yang saya tulis ini adalah pengalaman nyata.

 

Matinya Beberapa Toko Buku.

 

Di lingkungan tempat tinggal saya, ada tiga toko buku. Sebut saja toko A, B dan C. Toko A terletak hanya seperlemparan batu dari rumah saya. Dekat, untuk mencapainya cukup berjalan kaki sekitar lima menit. Toko B, terbilang cukup dekat juga dengan rumah saya. Beda jalan namun masih satu kawasan, kalau naik motor hanya butuh waktu lima menit saja. Sedangkan toko C cukup jauh, di luar kawasan, butuh waktu minimal lima belas menit dengan motor.

 

Saya dan anak-anak suka berkunjung ke toko-toko tersebut. Yah, minimal sebulan sekali lah, ketika baru terima uang bulanan dari suami hehehe. Tiap bulan, meski tidak banyak, saya memang mengalokasikan dana untuk membelikan anak-anak buku bacaan.

 

Lengkap sekali koleksi ketiga toko itu. Mulai dari agama, novel, motivasi, psikologi sampai buku anak-anak. Semua ada. Untuk menarik pengunjung, secara berkala toko-toko itu mengadakan acara diskon.

 

Beberapa tahun berjalan. Satu persatu toko-toko buku itu tumbang. Yang pertama saya ketahui adalah toko C. Saya kaget karena setelah agak lama tidak berkunjung ke toko ini, ternyata telah berubah penampakan menjadi toko mainan anak-anak.

 

Lebih kaget lagi toko B. Diantara ketiga toko buku tesebut, toko B lah yang paling sering saya kunjungi. Kok bisa sih, saya nggak tahu kalau toko B juga tutup. Jadi ceritanya sore itu saya dan Ahfa ke toko itu untuk mencari buku cerita. Dari kejauhan telah tampak toko B dengan cat merah yang mencolok. Tak berapa lama, sampailah kami pada toko yang dimaksud.

 

“Lho kok tutup?” tanya saya dalam hati, ketika melihat harmonika toko tertutup rapat. Menghilangkan penasaran, saya pun bertanya pada seorang penjual makanan yang biasa mangkal di deretan ruko toko B.

 

“Sudah tutup, Bu. Seminggu yang lalu," jelasnya.

 

Wah sayang sekali. Padahal saya telah mengincar beberapa buku yang akan saya beli. Maksudnya, bulan ini beli buku x dulu, bulan depannya lagi buku y dst hehe.

 

Sedangkan toko buku paling dekat dengan rumah, toko A, meski sampai sekarang masih buka namun nasibnya juga tak begitu baik. Bisa dibilang toko itu hidup enggan mati tak mau. Koleksi bukunya semakin sedikit. Sepertinya pemilik toko tak pernah lagi kulakan buku.

 

Inilah salah satu bukti nyata bahwa minat baca masyarakat kita sangat rendah. Penjualan buku-buku yang ditulis oleh para penulis dengan penuh dedikasi, sangat lambat. Mungkin bila punya uang seratus ribu, masyarakat lebih memilih membeli barang yang lain daripada membeli buku dengan berbagai alasan. Mereka bilang toh buku bisa dipinjam di perpustakaan. Tapi nyatanya perpustakaan tetap sepi-sepi juga. Jangankan beli, lha wong dikasih gratis saja terkadang (bukunya) diabaikan, kok.

 

Maraknya Buku Bajakan.

 

Bagi anda yang berdomisili atau pernah menuntut ilmu di kota pendidikan ini, nama ruko Wilis pasti sudah tak asing. Ruko yang terletak di jalan Wilis ini memang menjadi salah satu rujukan untuk mendapatkan buku. Banyak sekali buku-buku bekas (asli) yang dijual murah. Namun sayangnya, selain buku bekas mereka juga menjual buku-buku bajakan. Bahkan buku bajakannya semakin canggih saja. Dulu saya dengan mudah bisa membedakan mana buku bajakan atau tidak hanya dengan melihat covernya. Namun sekarang harus meneliti lebih jeli lagi untuk mengetahui apakan bajakan atau bukan.

 

Saya pernah terkecoh. Membeli buku Aku-nya Sumandjaya di Wilis, ternyata setelah dibuka di rumah ternyata bajakan. Covernya sungguh mirip aslinya, hiks.

 

Miris sekali nasib penulis, sudah tercekik pajak, bukunya dibajak pula.

***

Malang, 15 September 2017

 

Suber Gambar: Pixabay

 

  • view 210