Antara Istiqomah dan Pencitraan, Sebuah Catatan Harian

Nazlah Hasni
Karya Nazlah Hasni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 September 2017
Antara Istiqomah dan Pencitraan, Sebuah Catatan Harian

       Pencitraan. Kata ini semakin familier saja belakangan ini. Pejabat A blusukan ke kampung-kampung? pencitraan. Pejabat B tanpa ragu masuk ke area banjir yang kotor? pencitraan. Artis A bagi-bagi bingkisan ke anak panti? pencitraan.

      Ada satu istilah lagi yang senada dengan pencitraan, yaitu personal branding. Meski  pada hakikatnya kedua istilah ini sama, yaitu tentang bagaimana seseorang ingin dinilai seperti apa oleh orang lain, namun sepertinya masyarakat menilai  istilah pencitraan dengan konotasi negatif. Bahkan ada yang menganggap pencitraan itu terlalu mengada-ada alias palsu.

      Personal branding, istilah yang lebih bisa diterima masyarakat ini bila dianalogikan dengan dagang, brand itu sama dengan merk/citra. Secara sederhana personal branding bisa didefinisikan sebagai merk atau citra yang melekat pada seseorang. Sejatinya setiap orang memiliki merk/citra masing-masing. Jadi bukan milik artis atau public figure saja.

      Menurut penelitian, ada tiga unsur penentu personal branding. Yaitu visual, value dan variety. Visual meliputi penampilan fisik, yaitu cantik, tampan, rapi, bersih, atau harum. Value merupakan nilai-nilai yang dimiliki dari seseorang dimana nilai-nilai ini terbentuk oleh visi, pengalaman, pengetahuan, dan berbagai hal yang melalui proses yang panjang. Value merupakan bagian yang lebih dalam dan kompleks sehingga perlu interaksi untuk dapat menangkap ‘kesan’ bahkan ‘pesan’nya. Contoh dari value adalah integritas, kepintaran, tanggung jawab, kedisiplinan, mandiri dan lainnya. Sedangkan variety adalah hal-hal unik yang melekat pada seseorang. Seperti memakai kacamata, berhijab, suka warna merah, suka naik angkot atau memiliki gaya berbicara dengan logat dari daerah tertentu.

      Dan menurut penelitian itu pula, dari ketiga unsur tersebut, yang paling menentukan adalah unsur value. Value memegang peranan 81 % dalam penentuan personal branding seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan dengan jelas mengupas sesuatu yang lebih dalam pada diri seseorang, tidak hanya yang tampak dari luaran.    

      Apa hubungan personal branding dan istiqomah?

      Jelas sangat erat hubungannya. Bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Karena personal branding terbentuk dari apa-apa yang kita lakukan dengan konsisten . Personal branding equals self-impression begitu kata pakar psikologi.

      Dalam membangun personal branding ternyata hanya satu kata kuncinya yaitu konsisten dan berkesinambungan atau dalam istilah agama disebut istiqomah. Apapun dan dalam bidang apapun yang kita lakukan asal konsisten dan dalam koridor kebaikan pasti akan menyampaikan kita pada personal branding yang baik. Tak perlu lagi usaha pencitraan, karena semesta sendiri yang akan mencitrakannya.

      Maka jangan mengabaikan segala macam kebaikan sekecil apapun. Asal dilakukan dengan istiqomah, ikhlas dan semata-mata karenaNya. Bahkan Allah sendiri yang mengabarkan bahwa Dia lebih menyukai hambanya yang melakukan amalan dengan langgeng walau sedikit (HR. Bukhori).

      Terakhir, teriring doa semoga kita mampu istiqomah dalam melakukan amal-amal kebaikan, sesedikit apapun dan semoga mendapatkan citra yang baik lebih-lebih di hadapan Sang Penguasa kehidupan.

 

 

 Man saara ala darbi washala, Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan.

 

 

Sopo tekun bakal tekan, Barangsiapa yang tekun pasti akan sampai.

 

 

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.

 

 

Sehelai demi sehelai akhinya menjadi selembar kain.

 

 

 

 

   

 

Walalhua'lam

 

 

Malang, 3 Ramadhan 1438 H/29 Mei 2017

 

Bunda Farhanah

 

 

 

 

 

 

  • view 44