Sekuntum Mawar Merah

Nazlah Hasni
Karya Nazlah Hasni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Mei 2017
Sekuntum Mawar Merah

     Sekuntum Mawar Merah

 

      “Hati-hati, Mas,” kata Ria setelah mencium tangan Rangga, yang hanya dijawab anggukan kepala sang suami dari balik helm.

       Sedetik kemudian, Rangga melesat menuju kantornya. Setelah memastikan motor Rangga menghilang ditelan keramaian lalu lintas, Ria  melangkah masuk ke ruangannya. Jilbabnya melambai ditiup angin pagi.

       Enam tahun pernikahan dengan Rangga adalah hari-hari membahagiakan bagi Ria. Dua buah hati hadir melengkapi kebahagiaan itu. Enam tahun cukup mengajarkannya bahwa sang suami bukanlah tipe laki-laki romantis. Sekarang dia tak pernah mempersoalkan bila Rangga lupa hari penting bagi mereka. Seperti hari ini. Hari ini adalah hari ulang tahun perkawinan. Tak ada kecupan manis atau buket bunga seperti kebiasaan pasangan yang merayakan hari jadi.  “Ya sudah mau diapakan lagi, udah cetakannya kali,” bisik Ria lirih.

       Dulu pernah dia protes, kenapa Rangga nggak pernah menyatakan cinta padanya, “Lha, wong udah kunikahi masak masih meragukan cinta,” jawabnya santai, membuat Ria gemas.

       Pernah juga suatu saat Ria bertanya, “Mas cobalah sesekali beliin istrimu ini bunga…” Keesokan harinya Rangga membelikannya pohon bunga mawar lengkap dengan potnya. “BIar kamu bisa memetik mawar-mawar ini sesukamu, kapan saja,” jelasnya. Ria hanya tersenyum geli, duh.

       Atau pernah juga Ria meminta suaminya membelikan hadiah bila dirinya ulang tahun, sepatu, baju, tas kek. “Honey, kan gaji dan tabungan udah kuserahkan seluruhnya padamu, belilah apa yang kau suka,” begitu jawaban Rangga.

     Siang itu, Ria sedang sibuk merapikan berkas-berkas laporan. Pak bos sudah mengisyaratkan bahwa laporan itu harus sudah selesai dalam minggu ini. “Alhamdulillah tinggal disetor aja,” ucap Ria senang sambil memasukkan berkas-berkas iu ke stopmap.

     “Bu Ria, ada tamu,” kata Yani, stafnya tiba-tiba masuk ke ruangannya sambil senyum-senyum.

     “Siapa?” tanya Ria.

     “ Pak Rangga, Bu,” kali ini senyum Yani benar-benar lebar sambil mempersilahkan Rangga masuk ke ruangan Ria.

     Ria terperangah melihat suaminya datang dengan sekuntum mawar merah di tangan. “Happy our wedding anniversary, honey,” bisiknya romantis sambil mencium kening Ria.

     Ria yang tak menyangka akan mendapat surprise, benar-benar terkejut, “Wow, sekuntum mawar merah…” pekik Ria pelan. Dipeluknya erat-erat sang suami. “Makasih, sayang.”

     “Kita nge-lunch, yuk!” ajak Rangga, “Aku traktir.”

     “Ayok.”

      Sambil bergandengan tangan, mereka melangkah menuju parkiran. Teman-teman kantor bersiul menggoda. Rangga menunggu Ria naik ke boncengan dengan sabar, padahal biasanya selalu berseru, “Ayo buruan, keburu macet.”

     Mereka memilih restoran yang agak mahal dan bersuasana romantis. Tak henti-hentinya Ria tersenyum sambil memandang suaminya. Akhirnya dia bisa romantis juga, batin Ria.

     “Honey, bayarin dulu ya,” kata Rangga setelah mereka menandaskan aneka hidangan yang telah dipesan.

     “Lho, katanya aku ditraktir?” Ria bertanya heran.

     “Anu, dompetku ketinggalan….” Jawab Rangga, tangannya meraba saku celananya ragu-ragu.

     Ria melongo demi mendengar jawaban Rangga, namun sedetik kemudian tersenyum. Ah, romantis yang tak tuntas, batin Ria geli.

 

Malang,  4 Ramadhan 1438 H/ 30 Mei 2017

 

#RamadhanKareem

#FiksiBundaFarhanah

Gambar diambil dari Google

  • view 95