Kartini dan Menulis

Nazlah Hasni
Karya Nazlah Hasni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 April 2017
Kartini dan Menulis

|Kartini dan Menulis|

 

     "Ma, aku habis baca-baca artikelnya mama lho," Kata Ula sambil tersenyum, di suatu saat.

     "Menurut kakak, tulisan mama gimana?" Pancing saya, ingin tahu pendapatnya.

     "Ih, tulisan mama gaje deh," jawabnya sambil tertawa penuh makna.

     Ah, setiap kali mengingat dialog ini, terus terang semangat saya untuk menulis semakin bertambah-tambah. Siapa yang tak senang dengan apresiasi tulus dari anak sendiri. Sejatinya, salah satu tujuan saya dalam menulis adalah untuk anak-anak. Dengan menulis, saya ingin anak-anak tahu, bahwa ibunya tetap semangat menuntut ilmu walau cuma ibu rumah tangga di rumah. Bukankah menulis itu belajar? Dan belajar adalah kewajiban  setiap manusia sejak dari buaian sampai masuk liang lahat kelak. 

     Kartini saja, ditengah sulitnya keadaan waktu itu karena negara dalam keadaan dijajah bangsa lain, tetap semangat belajar bahkan mau membagi ilmu pada kaumnya. Apalagi saya yang hidup di zaman yang serba mudah ini, tentu nggak ada alasan untuk malas belajar. 

     Salah satu hal yang membuat perjuangan ibu Kartini mengabadi adalah rekam jejaknya dalam bentuk tulisan. Siapa yang tak kenal buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang? Buku yang judulnya diambil dari frasa dalam Al-Quran yang sering dituliskan ibu Kartini dalam surat pada sahabatnya yaitu dari kegelapan menuju cahaya (minad dhulumaati ilann nuur) ini sepertinya anak SD pun sudah tahu. Buku ini dibaca dari generasi ke generasi dan menjadi inspirasi. Banyak orang tergugah karena buku ini. Termasuk saya. 

     Dari bukunya, saya menyimpulkan (maaf kalau saya salah) perjuangan ibu Kartini adalah bukanlah demi persamaan gender semata, karena berbeda gender pasti berbeda pula hak dan kewajiban yang melekat, ini sunatullah. Namun perjuangan beliau lebih pada persamaan dalam hak menuntut ilmu yang waktu itu masih minim didapat, padahal agama memerintahkan pada setiap manusia baik laki-laki dan perempuan. Melalui ilmu dan pendidikan, seseorang dapat mengangkat harkat dan martabatnya sendiri. 

     Begitu hebatnya sebuah tulisan, sehingga pepatah bijak mengatakan bahwa ketajaman pena melebihi ketajaman pedang karena dalam satu waktu, sebuah tulisan mampu menembus puluhan kepala dan menyuntikkan semangat kembali membara. 

     Maka menulislah bunda Farhanah, karena cantik saja nggak cukup #eh. Menulislah, menginspirasi anak cucumu. Niscaya kau abadi di antara anak cucumu kelak. Menulislah yang baik-baik. 

 

Demikianlah.

 

Malang, 21 April 2017 di hari Kartini.

 

Gambar dari google