Nggak Pake Cabai, Nggak Galau

Nazlah Hasni
Karya Nazlah Hasni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Januari 2017
 Nggak Pake Cabai, Nggak Galau

Berita tentang meroketnya harga cabai belakangan ini, tak ayal menjadi salah satu topik diskusi seru (tapi ringan) bagi kami, para emak-amak ketjeh (uhuk).  Rata-rata emak mengeluhkan kenaikan harga yang drastis ini jelas  menggoyahkan kestabilan anggaran bulanan. Maklum, sebagian besar rakyat Indonesia tak bisa lepas dari cabai  dalam berbagai menu santapan sehari-hari, terutama untuk membuat sambal. Bagi rakyat Indonesia rasanya tak lengkap bila makan tanpa sambal. Bahkan di berbagai daerah di Indonesia memiliki sambal khas masing-masing.

 

Memang pada masa-masa tertentu harga cabai di Indonesia selalu megalami kenaikan yang signifikan. Salah satu penyebabnya adalah faktor iklim dan cuaca, terutama pada musim hujan. Kondisi hujan yang lembab dan basah menyebabkan cabai cepat membusuk. Keadaan ini menyebabkan pasokan cabai menjadi berkurang. Maka berlakulah hukum ekonomi yang telah kita pelajari sejak di bangku SD ( atau SMP?) yaitu jika jumlah barang tidak sebanding dengan jumlah permintaan maka harga akan melambung naik.

 

Dari berbagai diskusi ringan yang seru ini, saya mencatat beberapa tips dari para emak dalam menyikapi naiknya harga cabai. Bertahun-tahun berkutat di dapur menjadikan emak-emak ketjeh cukup mempunyai pengalaman bagaimana cara merdeka dari masa paceklik cabai.

 

Ini dia beberapa tips-nya.

 

  1. Kurangi konsumsi cabai ketika harga sedang melonjak. Yang biasanya nyambel  dengan 10 cabai, maka cukuplah dengan 5 saja.  Atau kalau bisa,sementara puasa cabai saja dulu. Hidupkan slogan, nggak pake cabai, nggak galau :)
  2. Menanam cabai sendiri di pekarangan rumah. Ternyata menanam cabai tidak sesulit dibayangkan, karena cabai bisa tumbuh dimana-mana. Bahkan saya pernah mendapati pohon cabai tumbuh sendiri di pekarangan kecil rumah saya, dan berbuah lebat, padahal saya merasa tidak pernah menanamnya. Usut punya usut ternyata pohon cabai itu tumbuh dari biji cabai yang mungkin saja terbuang di pekarangan. Namun karena saya kurang telaten, pohon cabai itu mati (hiks).  Bagi yang tidak memiliki pekarangan, para emak menyarankan untuk menanam cabai di pot.  Caranya pun mudah,  yang  penting pilih bibit yang berkualitas (banyak tersedia di pasar bunga atau kios pertanian).
  3. Mengawetkan cabai. Nah ini tips penting dari emak yang memiliki usaha katering rumahan. Ketika harga cabai sedang murah, maka memborong cabai adalah keputusan tepat, lalu diawetkan. Untuk mengawetkannya caranya juga mudah. Jemur cabai di tampah dibawah terik matahari. Di jemur sampai kering lalu simpan dalam wadah bersih dan tertutup . Cabai kering ini bisa tahan bahkan sampai setahun. Kepedasannya pun tidak berkurang.

 

 

Nah, tips yang mudah bukan?

 

Wallahua'lam

 

Malang, 14 Januari 2017

Bunda Farhanah


  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    8 bulan yang lalu.
    Emak2 ketjeh memang kreatif dalam usaha mengepulkan dapur, nggak doyan ngomel apalagi nuduh2 rezim naikin harga cabe. Good point Naziah!

    • Lihat 3 Respon

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    8 bulan yang lalu.
    Waaaaaah tips terakhir patut dicoba ini, nanti saya kasi tau emak sayah, eeeh emak sayah juga ketjeh loh ... *siapa yang nanya?