Tentang Ahok, Pilkada DKi atau apalah ( menurut kacamata saya yang emak-emak )

Nazlah Hasni
Karya Nazlah Hasni Kategori Lainnya
dipublikasikan 15 Oktober 2016
Tentang Ahok, Pilkada DKi atau apalah ( menurut kacamata saya yang emak-emak )

Pilkada DKI memang telah menyedot perhatian banyak orang, tak lain karena DKI adalah ibukota NKRI.  Sebagai ibukota negara, menyebabkan Jakarta adalah "seakan-akan" menjadi milik seluruh rakyat Indonesia. Bisa dimaklumi karena semua kegiatan pemerintahan dan yang terkait dengan negara pasti melalui Jakarta. Sebagian rakyat Indonesia di daerah dipastikan pernah memiliki kepentingan di Jakarta, entah kepentingan pemerintahan, pendidikan, perniagaan atau mungkin sekedar berkunjung,  sehingga mengharuskan mereka keluar-masuk Jakarta.

Alhasil menjadikan orang diluar DKI juga ikut-ikutan berkomentar meramaikan perhelatan 5 tahunan ini.

Saya pribadi juga beberpa kali ke Jakarta, eh panjenengan kata saya belum pernah ke Jakarta apa *garuk tembok*

Yah meski saya tidak ber-KTP Jakarta boleh kan menuliskan apa yang ada dalam pikiran saya, tentang Ahok atau pilkada DKI atau apalah. #tulisaninibisadiabaikan

Pak Ahok adalah petahan DKI Jakarta yang berasal dari etnis minoritas dan kebetulan juga adalah non muslim ditengah masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Sebenarnya kalau bicara demokrasi (pancasila) mau berasal dari suku apa, ras apa, agama apa, dari mayoritas atau minoritas bukan masalah ya, karena kita semua adalah satu NKRI yang sebagai warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam semua hal berkenegaraan. Ini perlu digarisbawahi. Betul tidak?

Dilihat rekam jejak prestasi selama beberapa tahun memimpin DKI, baik sebagai wagub lalu kemudian gubernur, harus diakui bahwa banyak prestasi yang telah dicapai pak Ahok.

Mulai dari pemberantasan korupsi, penanganan banjir, penanganan macet, penertiban geng preman dan peningkatan pelayanan publik.

Untuk maju ke Pilkada dengan status petahan, tentu pak Ahok menggunakan prestasi tersebut sebagai modal. Bahkan PDIP dan bu Mega yang sebelumnya seakan ragu mau mengusung siapa, akhirnya menggandeng pak Ahok.

Meski prestasi segudang dan didukung partai besar, tidak membuat pak Ahok sebagai petahan lancar-lancar saja menuju DKI 1 untuk yang kedua kali. Isu nonmuslim (saya lebih suka memakai istilah nonmuslim daripada istilah kafir) gaya bicara yang meledak-ledak, emosional dan yang terbaru isu pelecehan kitab suci Al-Qur'an,  seolah menenggelamkan prestasi yang bahkan tidak dicapai oleh Gubernur sebelumnya yang muslim. Bukannya saya membela pak Ahok, saya hanya mencoba berusaha menjaga sikap agar tidak mudah terpancing, tetap bisa bersikap adil dan tidak langsung memvonis. Saya berkhusnudzon saja kalau pak Ahok melecehkan Al-Maidah karena ketidaktahuan beliau tentang makna Alquran khususnya Al-Maaidah ayat 51, bukankah beliau non muslim? mana mungkin faham kitab suci yang bukan agamanya. Jujur saja kita sebagai umat islam pun belum tentu faham betul terhadap kitab suci kita sendiri, ini termasuk saya :(.

Mengenai pidato pak Ahok dan surat Al-Maaidah ayat 51 dan hubungannya dengan Pilkada DKI, saya sangat sepaham dengan Gus M Dawud Arif Khan, PP Al-Arifin Denanyar Jombang yang sekarang bedomisili di Jakarta. Beliau dawuh:

"Saya sepakat bahwa salah satu pedoman kita dalam memilih pemimpin adalah surah al-Maaidah ayat 51. Itu adalah salah satu rujukan yang harus dijadikan dasar oleh umat Islam. 

Namun, saya tidak sepakat bahwa ayat itu digunakan untuk menghina atau menistakan orang yang berbeda pandangan, apalagi untuk menvonis muslim lain sebagai kafir hanya karena beda penafsiran. Yang ini tidak diajarkan oleh Nabi SAW.

Lebih jauh lagi, bila yang terpilih dalam suatu pemilihan yang adil adalah orang non-muslim misalnya, maka umat Islam harus menghormati hasil tersebut, karena di negeri ini kita telah berkonsensus bahwa setiap warga negara RI punya hak untuk memilih dan dipilih.

Di London walikotanya muslim, meski penduduknya mayoritas non-muslim, demikian pula di Amsterdam. Di Indonesia, beberapa pemimpin daerah adalah non-muslim tanpa perlu ada gejolak.

Perlakuan kita kepada pemimpin harus proporsional, sebagaimana kita juga mereka orang non-muslim bisa menghargai bila yang terpilih memimpin di daerah mereka adalah orang muslim.

Wa Allah A'lam "

Dan sehubungan dengan kasus ini , pak Ahok telah menyampaikan permintaan maaf, sudah sepatutnya sebagai muslim sejati kita membuka kelapangan hati untuk memaafkan serta mampu memungut hikmah dari peristiwa ini.

***

Disini saya tuliskan beberapa prestasi pak Ahok, dari berbagai sumber.

*Pemberantasan Korupsi

Sebelumnya para tikus kantor dan tikus negara bebas merdeka menggerogoti pundi-pundi uang rakyat dengan dalih berbagai proyek yang bisa direkayasa. melalui Proyek di APBD dan APBN yang ada di Pemprov DKI. . Penjahat-penjahat berdasi tersebut sebelumnya bisa berpesta terus menerus. Semenjak Ahok menjadi Gubernur DKI, sudah banyak pejabat pemprov penggerogot proyek tersebut yang di ajukan Ahok ke KPK, ada juga yang di non “ Jobkan” , dan untuk meningkatkan kinerja dan mengurangi Korupsi , Ahok juga Kemudian mengadakan lelang jabatan Camat, Lurah dan Kepala Sekolah yang targetnya setidak tidaknya membuat takut oknum pejabat pemrov bemain main dengan anggaran dan pelayanan publik bertambah baik .

*Membenahi semerawut Jakarta

 Sebelum Ahok, memang ibukota nampak semrawut sehingga tampak kumuh dan tidak nyaman bagi semua orang kecuali para preman. Beberapa upaya Ahok untuk mengatasi banjir dan sekaligus menata kerapian Kota Jakarta yakni dengan memberishkan kali kali dari sampah dan memindahkan para pemukim Kali tersebut ke beberapa rumah susun di Jakarta. Terakhir merelokasikan warga yang menduduki lahan negara di Kali Jodoh kerumah susun. Juga Ahok berhasil menertibkan Pasar Tanah Abang dari PKL yang sebelumnya memacetkan jalan , kini arus lalulintas di Pasar Tanah Abang menjadi lancar.

*Bersihkan Pungli Urus KTP dan surat-surat lainnya

Sebelumnya untuk urusan administrasi di DKI tidaklah mudah. Misalnya untuk ngurus KTP dan surat pentng lainnya , supaya tidak berlama lama kita harus ada uang pelicin atau itilah lainnya “ Nembak “ jika tidak , ada saja alasan oknum petugas tersebut untuk mempersulit warga yang membutuhkan pelayanan. Kini jika ada petugas minta uang pelicin dalam penyelesaian administari , ketahuan Ahok, oknum tersebut tinggal menunggu waktu saja akan mendapat hadiah Ahok berupa “ non Job” dari jabatannya.

*Kerusakan jalan tidak diperbaiki

Sejak Ahok memimpin Jakarta, jika ada laporan kerusakan jalan Ahok segera memerintahkan Dinas terkait untuk memperbaiki jalan tersebut. Beda dengan kepemimpinan sebelumnya laporan kerusakan jalan ditanggapi juga tetapi agak lamban dan ada warga menilai pebaikkan jalan sebelum Ahok asal bapak senang.

*Penertiban Kelompok radikal

Sebelum Ahok, Kelompok-kelompok radikal tumbuh tumbuh subur, mereka meraja lela, semakin tidak terkendali karena tidak ada yang ditakuti atau disegani. Mereka seakan akan sudah melebihi penegak hukum, melakukan sweping di berbgai jalan dan hotel hotel pada waktu bulan Ramadhan, serta mereka juga menjadi pelindung kejahatan terorganisir seperti Preman yang sudah ditertibkan Ahok yakni preman di pasar tanah Abang ataupun preman Kalijodoh. Beberapa gubernur sebelumnya tidak pernah berhasil menertibkan Pasar tanah Abang dan Kali jodoh.

*Mengatasi Banjir

Semenjak Ahok gencar mencanakan Jakarta bebas Banjir, tahun ini walau banjir masih bisa menyerang Jakarta, tetapi sekarang mudah surut dan hilang.

*Kemacetan Jakarta

Walaupun Ahok sudah menambah Armada Trans Jakarta, menata ulang arus lalu lintas namun Jakarta masih macet dimana-mana..

Masalah kemacetan Jakarta ini memang bukan baru sekarang, Kenderaan roda empat dan roda dua setiap hari selalu bertambah sementara jalan jalan tidak bertambah , Sejak kepemimpinan beberapa gubernur sebelumnya Jakarta memang sudah diributkan soal macet. Kemacetan Jakarta tidak akan mudah hilang. Kenderaan roda empat dan roda dua setiap hari bertambah. Disamping kenderaan milik warga Jakarta, banyak juga diantara kenderaan yang memacetkan jalan jalan di Jakarta adalah kenderaan yang datang dari luar Jakarta.

Ini sekilas apa yang sudah dilakukan Ahok di Jakarta.

Namun apa yang diuraikan diatas hanyalah sekedar penilaian orang luar Jakarta terhadap kepemimpinan Ahok selaku Gubernur DKI Jakarta.

***

Sebagai orang luar hanya doa yang bisa dipanjatkan semoga ibukota mendapat pemimpin yang terbaik.

Mari ciptakan situasi kondusif.

Malang, 15 Oktober 2016

Bunda Farhanah

 

  • view 211