Rimba Jalanan Bagi Anak-anak Indonesia

Nazlah Hasni
Karya Nazlah Hasni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Oktober 2016
Rimba Jalanan Bagi Anak-anak Indonesia

Beberapa hari lalu berita tentang terserempetnya Hanif, teman sekolah anak saya Eriq, membuat saya panas dingin. Hanif terserempet sepeda motor ketika bersepeda menuju sekolah dan menyebabkan tangannya mengalami patah tulang dan harus dibenarkan kembali posisi tulangnya ke tempat semula oleh tim dokter. Alhamdulillah kondisi Hanif sekarang semakin membaik dan sudah beraktifitas lagi di sekolah. Semoga selalu sehat ya le...

Banyak hal yang membuat saya panas dingin kala mendengar berita ini. Selain karena Eriq juga bersepeda ke sekolah sejak naik kelas dua MTsN, saya selalu melangitkan doa keselamatan kepada Eriq dan semua anak saya ketika mereka akan berangkat sekolah,  juga karena kondisi jalanan di kota Malang dan mungkin juga di kota-kota lainnya di Indonesia akhir-akhir ini memang semakin membahayakan, terutama bagi anak usia sekolah.  Betul tidak?

Coba saja kita lihat sedikit faktanya.

Kepolisian Republik Indonesia melaporkan 3 anak Indonesia meninggal karena kecelakaan di jalan. Kecelakaan tersebut terjadi saat anak-anak Indonesia menyeberang di jalan.

Sementara itu, lembaga Keselamatan Jalan Dunia ( Global Road Safety Partnership)  melaporkan setiap hari 700 anak meninggal karena kecelakaan di jalan. Artinya setiap jam ada 29 anak meninggal karena kecelakaan di jalanan dunia. Aduuuuh ini adalah fakta yang benar-benar menyedihkan bukan?

***

Di Kota-kota Indonesia, terutama kota besar, rata-rata orang tua mengantar jemput anak-anaknya ke sekolah.

Memang harus diakui perjalanan anak-anak kota Indonesia ke sekolah itu tidak mudah. Orang tua mengantar sendiri anak-anaknya ke sekolah karena jalanan kota terlalu berbahaya. Mereka menggunakan kendaraan pribadi. Hmm ini jelas menjadikan jalanan kota bertambah macet.

Kenapa tidak menggunakan bus sekolah saja?

Di Malang bus sekolah sudah diterapkan dan sudah berjalan dan meski belum 100 persen efisien namun lumayan telah memberikan manfaat bagi sebagian anak sekolah di Malang.

Namun secara umum, bus sekolah sulit diterapkan di Indonesia, karena rata-rata anak-anak tidak bersekolah didekat tempat tinggalnya. Yaps, anak kota bisa menempuh perjalanan ke sekolah sampai puluhan kilometer, ada yang naik sepeda motor atau mobil. Tentu saja perjalanan ini cukup melelahkan. Jadi bus sekolah hanya dapat dilakukan jika pemerintah mengatur anak-anak bersekolah didekat rumahnya.

Banyak alasan mengapa orangtua tidak menyekolahkan anak-anak mereka di dekat tempat tinggal. Salah -satunya karena belum meratanya sebaran sekolah yang berkualitas di Indonesia.

Pada program Penerimaan Peserta Didik Baru tahun ajaran ini di kota Malang, sebenarnya pemerintah telah menetapkan agar sekolah-sekolah memberikan kuota 25 persen untuk peserta didik yang berdomisili di dekat sekolah. Namun sekali lagi,  karena belum meratanya sebaran sekolah yang berkualitas di seluruh penjuru kota maka menyebabkan

orang tua lebih memilih sekolah yang bagus meski jaraknya lumayan jauh dari rumah.

Untuk hal ini, negara tetangga kita Singapura telah berhasil menetapkan peraturan bahwa anak usia sekolah harus bersekolah di sekolah yang terdekat dengan tempat tinggal bahkan disana ada jargon bahwa sekolah terbaik adalah yang terdekat. Konsekuensinya, pemerintah Singapura membangun sekolah-sekolah berkualitas di seluruh pelosok negara. Ini adalah salah satu faktor yang menyebabkan lalu lintas Singapura begitu nyaman dan tertib

Sementara itu, bagi anak-anak kota yang beruntung bisa berangkat sekolah dengan berjalan kaki atau bersepeda pancal karena sekolahnya dekat rumah, tetap harus berhati-hati. Pengendara kendaraan bermotor, terutama sepeda motor suka mengebut di jalan, itulah mengapa disebut pengendara sepeda motor adalah penguasa jalan.

Pengendara sering tidak memberi kesempatan pada penyeberang jalan atau pengendara sepeda pancal.

***

Sedikit fakta diatas telah cukup menjelaskan bagaimana berbahayanya kondisi jalanan di kota-kota Indonesia untuk anak-anak. Penyebabnya tak lain adalah kita sendiri sebagai orang dewasa yang juga sebagai pengendara kendaraan bermotor. Masih banyak diantara kita yang masih suka mengebut dijalan, melawan arus lalu lintas atau menerabas lampu merah. Tindakan ini tentu sangat membahayakan diri sendiri maupun orang lain terutama anak-anak.

Oleh karena itu mari kita dengan penuh kesadaran menjaga ketertiban lalu lintas demi kenyamanan seluruh lapisan masyarakat.

Wallahua'lam

 

Malang, 14 Oktober 2016

Bunda Farhanah

 

Gambar dari internet

  • view 164