Ibunda Hajar Dan LDR, Renungan Sunyi

Nazlah Hasni
Karya Nazlah Hasni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 September 2016
Ibunda Hajar Dan LDR, Renungan Sunyi

Hari Raya Kurban  dan ritual haji tidak terlepas dari kisah manusia-manusia agung:  Nabi Ibrahim as, ibunda Hajar dan Nabi Ismail as.

Salah satu bagian dari runtutan kisah agung itu, yang sangat mengharukan menurut saya adalah ketika Nabi Ibrahim as membawa ibunda Hajar dan bayi Ismail ke suatu lembah sunyi yang tak bertuan ditengah padang pasir yang luas, atas perintah Sang Sutradara Semesta.

***

Maka berangkatlah Nabi Ibrahim as membawa Ibunda Hajar dan bayi Ismail ke lembah yang dimaksud.

Mereka tinggal bersama untuk masa yang sebentar di lembah itu.

Ketika telah tiba saatnya untuk berpisah, sesuai perintah Sang Sutradara pula, Nabi Ibrahim as harus kembali ke Palestina meninggalkan anak istrinya di lembah. Setelah mohon diri kepada istri dan menciumi putranya dengan penuh kasih, Nabi Ibrahim as pun bergegas.

Dengan tegap dan tanpa menoleh, Nabi Ibrahim as melangkah pergi. Disembunyikannya dari hadapan ibunda Hajar dadanya yang sesak dan matanya yang membanjir.

Tak dihiraukannya pertanyaan istrinya yang seakan memprotes, bagaimana mungkin suaminya meninggalkan dirinya dan bayi Ismail di lembah sunyi ini? bagaimana mungkin bertahan hidup?

Sambil menggendong bayi Ismail, ibunda Hajar terus mengejar Nabi Ibrahim as, setengah menjerit beliau bertanya, 

" Apakah ini adalah perintah Tuhan-mu? "

Kali ini Nabi Ibrahim as berhenti dan menoleh. Semesta seakan berhenti berotasi dan berevolusi, ikut terdiam bersama ibunda Hajar menunggu jawaban sang Kholilullah.

" Ya" Jawab Nabi Ibrahim as tegas.

Mendengar jawaban suaminya itu, ibunda Hajar  terpaku dan berhenti mengejar.  Kemudian meluncurlah kata-kata dari bibirnya yang membuat semesta terkesiap sekaligus terpesona.

" Baiklah kalau memang demikian, pergilah. Jangan khawatirkan kami karena Tuhan-mu dan Tuhan-ku pasti akan menjaga kami"

Dan Nabi Ibrahim as terus melangkah karena pengabdian pada Tuhannya.

***

Sejujurnya dialog agung yang tertulis di kitab suci ini dan telah pula banyak diceritakan kembali oleh para ulama dengan bahasa yang indah ini, membuat saya baper akut. Entahlah, mungkin karena saya adalah wanita dan lebih-lebih sekarang sedang ber-LDR ( Long Distance Relationship ) dengan suami karena suami sedang bertugas jauh dari rumah.

Dari dialog agung tersebut bisa diambil pelajaran bahwa ibunda Hajar ikhlas, tegar dan tentu juga tawakkal ketika takdir menentukan beliau harus ber-LDR  dengan suami ( waktu itu belum ada istilah LDR ya :) )

Tak bisa saya bayangkan bagaimana keadaan waktu itu ketika ibunda Hajar hidup berdua saja dengan bayi Ismail di lembah sunyi,  ribuan tahun sebelum masehi,  pada zaman prasejarah dengan peradaban masih sangat sederhana, dengan kepasrahan total pada Sang Pemilik Lembah. 

Lembah itu kini telah menjelma menjadi kota metropolis Mekkah dengan ribuan peziarah di setiap harinya.

***

Tentu berbeda bagai langit dan bumi, antara seorang ibunda Hajar sang Wanita Pilihan dengan bunda Farhanah seorang wanita biasa di akhir zaman, Zaman dengan segala kemajuan teknologi komunikasi. Mulai sms, telepon sampai video call.

Tak ada alasan bersedih,  toh LDR pasti segera berlalu. Yang penting saling mendoakan semoga selalu dalam perlindungan Allah, selamat, sehat, bermanfaat dan bisa sehidup bersama sampai ke surga kelak.

 

Malang, 11 September 2016

 

Selamat Idul Adha 

Bunda Farhanah

  • view 241