Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 20397
            [type_id] => 1
            [user_id] => 12067
            [status_id] => 1
            [category_id] => 76
            [project_id] => 0
            [title] => Bahasa Jawa Kromo Inggil 
            [content] => 

Suatu hari, sekitar dua tahun yang lalu, saya terpesona dengan kehalusan tutur bahasa seorang bocah berusia sembilan tahunan. Bocah tersebut, sebut saja Adhim, sehari-hari berkomunikasi menggunakan Jawa Kromo Inggil, tidak hanya kepada orang yang lebih tua saja, namun juga kepada teman sebaya. 

"Wiih, anak ini alus ya ngomongnya."

" Ya Allah pingin juga punya putra-putri yang halus tutur bahasanya seperti dia."

Batin saya spontan, waktu itu.

Lalu, saya mencari tahu tentang Adhim, dan ternyata saya sudah mengenal kedua orang tua Adhim sebelumnya, meski kurang dekat.

Dan seperti orang tua Jawa pada umumnya, lebih-lebih di kalangan pesantren, orang tua Adhim juga membiasakan putra-putrinya berkromoinggil sejak kecil dengan cara menggunakan kromoinggil ketika berkomunikasi kepada putra-putrinya.

Saya pribadi, waktu kecil dulu juga dibiasakan berkromoinggil oleh Ummi yang Jawa tulen. Beliau selalu menggunakan bahasa Jawa kromoinggil kepada kami putra-putrinya.

Namun karena Abah adalah Madura (Situbondo) dan saya sejak lahir sampai dewasa menginjak tanah madura, meminum air madura dan menghirup udara madura serta bersuami orang madura pulak ???? maka menyebabkan saya lebih fasih berkromoinggil Madura.

Sebenarnya saya seringkali bertemu dengan anak kecil yang fasih berkromoinggil jawa, namun pertemuan dengan Adhim lebih istemewa, dan menjadikan saya merenung betapa luhurnya budaya bangsa. Salah satu contohnya bahasa Jawa dan Madura dengan beberapa tingkatan bahasa didalamnya. Harus diakui bahwa tingkatan bahasa yang terdapat dalam bahasa Jawa dan bahasa Madura, turut memberi andil dalam membentuk Akhlaqul Karimah masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal didaerah Jawa dan Madura.

Saya kurang faham apakah dalam bahasa daerah lain juga terdapat tingkatan bahasanya. Sunda, aceh, atau minang misalnya. Bila ada, berarti konstribusi bahasa daerah sangat besar terhadap pembentukan kehalusan tutur bahasa masyarakat.

Bermula sejak saat itu, sembari saya belajar juga, saya bertekad untuk mengajak ananda berbahasa kromoinggil Jawa. Kenapa Jawa? bukankah saya lebih dekat dengan budaya Madura?  Ya karena kami hidup di Malang yang notàbene adalah Jawa. 

Tidak muluk-muluk sih, karena memang ananda sejak kecil terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, minimal ananda bisa beberapa kata yang sering dipakai seperti dalem  ketika menjawab panggilan, panjenengan untuk menyebut orang yang lebih tua, sampeyan untuk menyebut teman sebaya atau yang lebih muda, enggih ketika menjawab pertanyaan yang butuh jawaban ya, matursembahnuwun  untuk menyatakan terimakasih, ngapunten untuk memohon maaf,  sampun untuk menyatakan sudah, dereng untuk menyatakan belum dsb.

 

Demikianlah....

Meski sejak kecil ananda  terbiasa berbahasa Indonesia, saya tetap berharap anak-anak  bisa berkromo inggil terutama kepada yang lebih tua, karena santun dan halus dalam bertutur kata adalah cermin akhlak mulia.

 

Semoga

 

Malang, 29/8/2016

 Bunda Farhanah 

[slug] => bahasa-jawa-kromo-inggil [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1472462636.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 1464 [issued] => 0 [author] => Nazlah Hasni [username] => Nazlah_Hasni [avatar] => file_1471496095.png [status_name] => published [category_name] => Catatan Harian [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 6 [total_likes] => 2 [created_at] => 2016-08-29T16:23:56+07:00 [updated_at] => 2018-10-03T19:09:54+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 31.113022ms [status] => 200 )