9 - Gamma

Isti Nazilah Hidayati
Karya Isti Nazilah Hidayati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Galaksi

Galaksi


Bagaimana kisah tentang Arez atau Galaksi Antarez? Apakah dia bisa bersama dengan orang yang dia inginkan? Baca terus kisahnya :)

Kategori Acak

1.9 K Hak Cipta Terlindungi
9 - Gamma

Pagi itu, semua anak sedang sibuk bersiap-siap saat mobil Gamma tiba disana. Gamma berdua bersama temannya, sehingga ia bisa sampai di villa tanpa tersasar. Arez yang menyadari dari suara mobilnya, langsung keluar dan menghampiri Gamma.

Sebagian anak-anak yang sudah selesai mandi dan makan, pergi keluar dan melihat kedatangan Gamma. Sebagian anak perempuan penasaran oleh tamu yang pagi itu datang dan langsung membicarakannya kepada temannya yang lain. Mereka bilang tamunya ganteng, dan sebagainya. Obrolan perempuan remaja seperti biasanya.

?Ven, ada Gamma.? Ujar Tari kepada Venus yang sedang membantu mengambil ember untuk outbond. Venus menghentikan aktivitasnya.

?Gamma siapa?? tanya Audry.

?Pacarnyaaaa.? Jawab Tari. ?Tuh di depan, lagi ngobrol sama Arez.?

?Yang pake kacamata itu??

Tari mengangguk.

?Kok bisa kesini??

?Dia kakaknya Arez, Dry. Ah lo kepo deh.?

?Eh serius? Gila, enggak kakak, enggak adek, sama gantengnya.?

Jujur saja, saat itu Venus kaget. Harusnya ia senang, pacarnya datang, jauh-jauh dari Depok. Tapi ia tidak merasa senang. Biasa saja.

Lalu Venus menghampiri Gamma, Arez, dan temannya Gamma yang berkumpul di kursi dekat mobil Gamma diparkir. Entah siapa nama temannya itu, Venus tidak bertanya. Arez lalu pergi meninggalkan mereka.

Sementara temannya masuk ke dalam mobil, meninggalkan Gamma dan Venus disana.

?Kamu udah baikan?? tanya Gamma.

Venus mengangguk. Venus bingung harus bersikap bagaimana. Karena ia tidak menyangka akan ada Gamma di acara organisasinya seperti itu.

?Aku khawatir.?

?Iya.?

?Kamu enggak seneng aku dateng kesini??

?Seneng.? Venus mencoba tersenyum.

?Kalau ada apa-apa, harusnya kamu bilang sama aku. Biar aku enggak khawatir kayak tadi malem. Akhirnya aku jadi ngebatalin ketemu sama pimpinan Rumah Sakit tempatku koas nanti.?

?Iya. Lain kali aku bilang.?

Tidak lama mereka ngobrol, Gamma pamit untuk berangkat lagi ke Depok. Gamma menyerahkan obat magg dan vitamin untuk Venus. Sementara gara-gara itu, Venus terlambat mengikuti acara outbond.

Anak-anak lain sudah pergi ke lapangan tempat outbond dilaksanakan. Tapi Arez masih menunggu Venus hingga selesai, karena Venus belum tahu di mana tempat outbondnya.

Venus menghabiskan hari itu dengan malas-malasan. Acara hari itu memang berjalan lancar, namun entah kenapa Venus merasa memiliki beban yang tidak kunjung selesai mengenai hubungannya dengan Gamma.

Besoknya, hari Minggu pagi, mereka bersiap-siap untuk pulang. Venus dan yang lainnya membereskan barang-barang yang sudah dibawa kesana. Rasanya, barang-barang itu bukannya berkurang, namun justru semakin banyak sehingga bis menjadi semakin penuh. Irina menghampiri Arez yang juga sedang membereskan barang di ruang tengah.

?Kak, nanti pulangnya boleh nebeng Kakak di motor??

?Kenapa enggak di bis aja??

?Soalnya nanti Irin mau mampir dulu sebentar ke rumah Tante di Padalarang, kalau naik bis kan enggak lewat sana Kak.?

?Oh.?

?Boleh??

?Iya.?

Irina jelas saja senang karena Arez mau memenuhi permintaanya. Sementara itu, Venus yang tidak tahu bahwa Irina sudah meminta tolong kepada Arez, menyangka bahwa ia akan pulang dengan motor Arez seperti saat ia berangkat.

Venus duduk di teras sambil menunggu anak-anak lain memindahkan barang-barang ke dalam bis. Arez menghampirinya, menyerahkan jaketnya kepada Venus dan menyerahkan handphone beserta dompet kepadanya.

?Gue titip. Nanti lo baliknya pake bis aja. Gue mau mampir dulu sebentar, nanti gue ambil ke kosan.? Ujarnya.

Arez menyalakan motornya, lalu Irina di belakang menghampirinya dan naik di belakangnya. Melihat pemandangan seperti itu, entah kenapa, Venus merasa tidak karuan. Akhirnya Venus dengan anak-anak yang lain naik ke bis. Venus duduk dengan Tari di bangku yang lumayan dekat dengan pintu bis yang belakang.

Di perjalanan, Venus merasa tidak nyaman. Padahal seharusnya, setelah acara ini, ia merasa lega. Tanggungjawabnya di organisasi yang sama dengan Arez sudah selesai. Ia tidak harus menghindari Arez karena mungkin mereka akan lebih jarang bertemu. Seharusnya ia menikmati kondisi seperti saat ini, dan setelahnya.?Namun, nyatanya ia tidak begitu.

Venus dikagetkan dengan getaran dari handphone di tangannya. Ternyata handphonenya yang bergetar, bukan handphone Arez. Tentu saja itu pasti dari Gamma. Tapi Venus malas sekali mengangkatnya.

Akhirnya ia membiarkan handphonenya terus bergetar. Jika nanti ia sudah mau mengangkatnya, mungkin Venus akan beralasan kalau ia ketiduran di bis. Iya, mungkin itu alasan yang paling realistis dan klise yang bisa ia pikirkan.

?

bersambung...

  • view 140