Lembaran Keberkahan

Isti Nazilah Hidayati
Karya Isti Nazilah Hidayati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Februari 2016
Lembaran Keberkahan

Percakapan di telepon dengan Ibu sore kemarin semakin menguatkanku akan niat yang menggebu dalam hati. Bukan tanpa pertimbangan aku memutuskannya, aku hanya punya keyakinan dalam diri. Ya, yakin pada Sang Maha pemberi rezeki.

Ibu : Urusan legalisir di kampus sudah selesai nak?

Aku : Belum bu, karena ada tanggal merah mungkin besok lusa bisa diambil.

Ibu : Kamu jadi pulang akhir bulan ini?

Aku : Iya bu, insyaAllah. Bu, teman-temanku besok mau ikut Job Fair, tapi aku tidak ikut.

Ibu : Loh kenapa? Banyak perusahaan yang buka lowongan?

Aku : Banyak. Tapi belum ada yang pas di hati. Banyak perusahaan perbankan dan lembaga keuangan. Aku ingin menghindari semua itu kalau bisa. Aku pernah bercerita kepada Ibu tentang alasannya. Aku ingin yang aku hasilkan jelas dan penuh keberkahan.

Lalu ibu menceritakan tentang salah satu keluarga kami yang saat ini terlilit hutang karena usahanya yang banyak mengandung bunga (riba). Uang ratusan juta seperti hilang tak ada jejak, mungkin keberkahan itu hilang. Padahal dengan hitungan matematikanya, seharusnya untungnya cukup besar. Menurut hitungan matematikanya.

Ibu : Ibu rasa kejadian yang dialami keluarga kita tadi bisa menjadi salah satu pembelajaran untukmu kedepannya.

Aku : Iya, bu. InsyaAllah aku tak ingin jatuh kesana. Aku yakin do'a ibu akan semakin memudahkan jalanku.


Keputusan yang kuambil mungkin terlihat muluk-muluk, apalagi di tengah persaingan dunia kerja yang begitu ketat. Bahkan jujur saja sebagian orang terdekat tidak setuju dengan hal tersebut.

Tapi mengapa aku berani memutuskan? Karena aku yakin. Yakin pada Yang Maha Kaya.

Aku percaya, setiap makhluk di dunia ini sudah diberikan rezekinya masing-masing. Dia memberikan rezeki kepada makhluk-Nya secara jelas. Dia sudah menentukan rezeki satu persatu dari makhluk-Nya.

Dia akan memberikan rezeki di dunia pada semua makhluk, baik yang beriman maupun tidak, baik yang diperoleh dengan cara yang halal maupum haram.

Lalu apa yang membedakannya? Keberkahannya.

Dan aku yakin itu. Oleh karena itu, aku ingin berusaha untuk memperoleh rezeki dengan cara yang Dia kehendaki.

  • Bukankah dengan begitu maka akan mempersempit lapangan pekerjaan yang mungkin dapat diperoleh? Tidak, justru dengan begitu Allah sedang menjaga kita dari rezeki yang tercampur dengan segala macam yang haram.
  • Bukankah dengan begitu maka pekerjaan akan sulit di dapat? Di sisi lain mungkin terlihat seolah-olah begitu, tapi sesungguhnya Allah sedang membukakan jalannya pada pekerjaan yang lain yang insyaAllah lebih baik.
  • Lalu bagaimana jika tidak juga mendapat pekerjaan dalam waktu yang cukup lama? Itu ujian kesabaran, keikhlasan, dan ujian keteguhan kita dalam berusaha. Allah tidak tidur, dan Allah Maha Tahu kapan kita membutuhkan pekerjaan tersebut.

Apa yang harus kita lakukan?

Ikhtiar, tawakkal, ikhlas, dan yang paling utama adalah huznudzan. Husnudzan kepada Allah.

Semoga bisa istiqomah~

?

*Sudah sekitar 4-5 bulan sejak tulisan ini dibuat, dan Alhamdulillah saat ini saya sudah bekerja di salah satu perusahaan multinasional di Indonesia.