10 - Antarez

Isti Nazilah Hidayati
Karya Isti Nazilah Hidayati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 April 2016
Galaksi

Galaksi


Bagaimana kisah tentang Arez atau Galaksi Antarez? Apakah dia bisa bersama dengan orang yang dia inginkan? Baca terus kisahnya :)

Kategori Acak

2 K Hak Cipta Terlindungi
10 - Antarez

Venus tiba di kosannya sekitar jam dua siang dan langsung memeluk kasur kesayangannya. Ia simpan barang titipan Arez di atas kursi dekat meja belajar. Karin sedang pergi bersama teman sejurusannya, nonton bareng katanya. Mungkin ke BIP, karena biasanya Karin senang pergi ke Gramedia yang tidak jauh dari sana.

Tidak terasa ia terlelap dan ia bangun saat Karin datang ke kamarnya dan berteriak karena ia baru saja membeli novel yang baru diterbitkan dari pengarang favoritnya. Venus duduk di di ujung tempat tidur. Venus lihat barang titipan Arez masih berada ditempatnya seperti tadi. Berarti Arez belum kesini, atau mungkin sudah, tapi Venus sedang tidur. Akhirnya Venus bertanya pada Karin.

“Tadi enggak ada yang kesini ya, Rin?”

“Ada.”

“Arez?”

“Bukan, Rendi tadi yang kesini. Nanyain lo, terus gue bilang lagi tidur. Ya udah, dia jadinya pergi.”

“Rendi?”

“Iya.”

Venus sedikit heran, kenapa Rendi datang ke kosannya. Rasanya Venus tidak dekat dengan Rendi, karena memang mereka berbeda jurusan. Venus hanya tahu namanya karena Rendi adalah teman Arez di kampus.

Venus juga heran, karena Arez belum mengambil dompet, handphone dan jaketnya, padahal seharusnya sudah dari tadi Arez sampai di Bandung. Lagi pula, tadi Arez bilang hanya sebentar.

Karin yang tidak sabar membaca novel yang dibelinya lalu pergi ke kamarnya, menyendiri bersama bukunya. Sementara itu, Venus baru saja mengambil handuk dan akan pergi ke kamar mandi saat ia mendengar suara motor berhenti di depan kosannya. Bel kemudian berbunyi tidak lama. Venus pergi untuk membuka pintu.

“Arez?”

Venus kaget melihat Arez yang ada di depannya dengan wajah yang berdarah di bagian bibir dan membiru di bawah matanya. Belum selesai kekagetan Venus, Arez justru memeluk Venus saat itu. Jika disana ada stetoskop, mungkin suara detak jantung Venus akan terdengar cepat sekali. Pertama, karena ia kaget dan khawatir melihat luka di wajah Arez. Kedua, karena saat ini Arez sedang memeluknya, tanpa berkata satu katapun. Sehingga saat itu Venus sangat bingung.

Karin yang mendengar suara Venus langsung keluar kamar dan sama kagetnya dengan Venus.

“Loh, lo kenapa Rez?” kata Karin.

Akhirnya Arez melepaskan pelukannya kepada Venus dan duduk di kursi kayu yang ada di teras di samping pintu kosan. Venus ikut duduk di sampingnya. Sementara Karin membawakan es untuk mengompres luka di wajah Arez.
Karin datang, memberikan es itu kepada Arez.

Arez meletakkan es itu ke lukanya. Venus masih diam, menunggu saat yang tepat untuk bertanya. Menunggu Arez cukup tenang untuk dapat menjawab pertanyaanya. Karin ikut menunggu, sama penasarannya dengan apa yang terjadi.

“Udah bisa cerita?” tanya Venus.
Arez masih diam.

“Lo jatoh? Atau berantem? Irin enggak kenapa-napa?”

“Gue mau jalan-jalan, sama lo, berdua.”

“Jawab dulu.”

“Gue berantem.”

Venus menghela napas. Ia tahu, Arez memang masih sulit mengendalikan emosinya untuk beradu fisik dengan orang yang menurutnya harus diberi pelajaran. Ia tahu harus berbuat apa, menenangkan Arez dengan menemaninya ke Milky Way di daerah Setia Budi dekat kampus UNPAS.

“Oke, gue ambil jaket sama barang titipan lo dulu di kamar.”

Venus akhirnya pergi ke kamar. Ia tidak jadi mandi, untung saja Bandung di bulan Desember itu terasa cukup sejuk apalagi hari sudah gelap. Kemudian terdengar suara ribut di luar, sehingga Venus pun langsung keluar.

Arez sedang berteriak kepada kakaknya, Gamma, yang juga wajahnya sama-sama terluka. Venus lihat Karin mencoba menahan Arez, sementara Gamma tidak menyerang dan hanya pasrah menerima tinjuan dari Arez.

Venus semakin tidak mengerti, bukankah harusnya Gamma sedang ada di Depok? Venus ingat ia belum membuka handphonenya sejak ia pulang tadi. Venus juga bingung, mengapa Arez memukul kakaknya? Mengapa Gamma yang seorang atlet karate tidak mencoba melawan serangan dari adiknya? Terdengar oleh Venus kata-kata Arez, ‘Lo ngapain lagi kesini Gam?’.

Venus seolah tersihir dan merasa lemas di tempat ia berdiri. Sementara tetangga kos mulai keluar karena mendengar ada yang bertengkar disana. Beberapa anak kos sebelah mencoba ikut melerai mereka. Tiba-tiba Rendi masuk, menahan Arez. Lalu Rendi meninju perut Arez, hanya sekali, tapi Arez langsung tersungkur.

“Lo ikut gue.” Kata Rendi kemudian sambil membantu Arez berdiri. Arez mengikuti Rendi dan pergi dengan mobil Rendi. Entah kemana, Venus tidak tahu.

Gamma menghampiri Venus yang masih berdiri di dekat pintu kosnya. Sementara Karin mencoba membuat tetangga kembali ke dalam rumah dan kosnya masing-masing.

“Arez bilang apa?” tanya Gamma langsung.

“Enggak bilang apa-apa.”

“Ada apa? Kenapa berantem?”

“Aku sayang banget sama kamu.” Katanya.

“Kenapa berantem?” Ulang Venus. Tidak mempedulikan kata yang diucapkan Gamma sebelumnya.

Gamma diam. “Ven, apapun kata Arez, aku cuma sayang sama kamu.” Lanjutnya.

Venus diam. Lalu Karin datang mengambilkan es untuk Gamma. Setelah itu, Karin diam di dalam. Malam itu, Quality Time Karin dengan bukunya hancur sudah gara-gara kakak-beradik yang bertengkar didepannya.

“Kalau kamu belum mau cerita, aku mau masuk aja.” Tegas Venus.

Setelah Venus berkata begitupun, Gamma masih tidak mau bicara tentang masalah yang sebenarnya terjadi. Venus sangat kesal dan bingung. Sementara di sisi lain, Venus juga ingin tahu Rendi membawa Arez kemana.

Akhirnya, Venus meninggalkan Gamma sendirian di teras. Venus tidak tahu jam berapa Gamma pergi dari sana. Yang jelas, saat Venus bangun esok paginya, Gamma sudah pergi.

 

bersambung...