#KurinduITD-Dentang Kedamaian dari Pelosok Madura

Ahmad Naufel
Karya Ahmad Naufel Kategori Politik
dipublikasikan 20 November 2016
#KurinduITD-Dentang Kedamaian dari Pelosok Madura

Sejak kecil saya dibesarkan di lingkungan yang monokultur dan sangat jarang sekali ada persilangan budaya, yang mempertemukan dua kutub kebudayaan yang berbeda. Lingkungan yang religus dengan berdasar pada satu golongan, yakni Islam aliran Ahlussunnah. Selebihnya, sangat jarang bahkan tak ada.

Kedapnya lingkungan sosial dari persilangan budaya, barangkali, itulah yang membentuk pemahaman eksklusif saya. Yang dengan serampangan, sebegitu mudahnya, telah menjatuhkan saya pada pola pikir yang hitam putih, cendrung egoistis, dan tak berani terhadap keberadaan liyan (the other).

Awalnya, saya begitu nyinyir dengan keberadaan mereka yang minoritas, seperti kaum Syi’ah maupun para kristiani. Saya merasa, mereka adalah ancaman yang mampu mengikis habis golongan yang saya anut. Mereka itu musuh, yang patut dilenyapkan dari muka bumi. Dengan sedikit sarkas dan brengsek, saya mengamini diktum naif sang filsuf eksitensialis, Jean Paul Sartre “orang lain adalah neraka”  (the other is hell).

Tetapi, yang hingga detik ini tetap menghunjam kesadaaran banyak orang di lingkungan saya, dan dianggap musuh bebuyutan adalah mereka yang “kiri” atau secara gamblang disebut PKI. Mereka seolah menjadi musuh abadi sejarah. Namun, entah, saya juga tidak mengerti mengapa orang-orang membencinya? Pertanyaan itu terus menggantung di langit-langit kesadaran saya pada masa kecil.

Hingga pada ahirnya, di suatu ketika, saya menemukan benang merah dari segenap phobia yang meringkuk diri saya. Dan hal itu, telah mengetuk rasa kemanusiaan saya untuk tumbuh dewasa.

Kira-kira, titik pangkalnya terletak pada kepentingan politis penguasa di kala itu. Andaikan, kepentingan politik tidak menunggangi di balik peristiwa G-30-S-PKI, niscaya rasa phobia terhadap PKI itu tidak akan sampai mengendap dalam pikiran saya. Dan hanya akan bersifat sesaat.

Salah satu instrument untuk mengekalkan kebencian itu melalui film. Saya ingat, bahwa dulu hampir setiap menjalang 17 Agustus, di stasiun-stasiun televisi diputar film garapan Arifin C. Noer Penumpasan Penghianatan G-30-S-PKI. “Sungguh, jahannam para PKI itu! Dasar ateis!!”, itulah yang barangkali akan menggerayangi setiap orang awam yang menontonnya.

Akibatnya adalah mereka yang dituduh bekas simpatisan PKI harus menerima secara paksa stigma negatif yang disematkan orang-orang padanya. Bahkan, hingga detik ini, PKI oleh sebagian orang masih dianggap “hantu” yang menakutkan, yang harus dijauhi dan dibuang dari negeri ini. 

Mereka adalah minoritas yang dipaksa mengikuti kehendak mayoritas. Padahal, kita sejak lama telah mengakui keabsahan prinsip bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tetap satu tujuan. Di sinilah pentingnya memahami logika minoritas-mayoritas. Sebagai anggota partai, eks simpatisan PKI adalah minoritas, di tengah kerumunan anggota partai yang sedang berkuasa. Tetapi, meski demikian, sebagai anggota suku tertentu atau sebagai bagian dari warga Indonesia, mereka adalah mayoritas.  

Hal ini, juga bisa berlaku pada segala anasir yang diasumsikan berposisi minoritas. Syi’ah misalnya. Di daerah saya, 5 tahun yang lalu, terjadi pengusiran dan diskriminasi terhadap kaum Syi’ah pimpinan Tajul Muluk. Betapa, rasa kemanusiaan dan toleransi tergadai dengan arogansi sektarianisme. Sikap primitif qabilian membuncah, mengalahkan jalan altruistik habilian yang penuh kearifan.

Kita terjerumus pada kutub-kutub sektarianisme karena cara pandang kita yang serba hitam-putih dan halal-haram. Sebagai penganut sekte tertentu, kaum Syi’ah adalah minoritas, tetapi mereka juga mayoritas karena menjadi bagian dari etnik Madura, dan lebih jauh lagi jika didudukkan pada aras kewarganegaraaan (citizenship) mereka termasuk kelompok mayoritas dengan menjadi warga negara Indonesia.

Pandangan sempit itulah yang telah melokalisir cara kita memahai perbedaan. Sehingga, keberadaan yang minoritas dianggap sebagai—meminjam bahasa sosiolog Jerman Emile Durkhiem—patologi sosial. Minoritas itu dipandang bagaikan slilit yang meski kecil bisa mengusik ketenangan.

Sehingga diri kita seolah terus merasa diteror oleh kelompok-kelompok minoritas tadi, entah eks-PKI atupun kaum Syi’ah. Dalam penggalan puisi Sapu Tangan Fang Yin, Denny J.A mengingatkan: tampaknya, bagi mereka Indonesia adalah/masa silam/yang kelam hitam.

          Pertanyaannya, bisakah kita berdamai dengan masa lalu? Demi menemukan masa depan yang lebih cerah, yang menguntai tanpa diskriminasi. Meski demikian, masa lalu telah mendesak diri kita menjadi diri yang traumatik.

          Namun, setalah saya gigih berikhtiyar dan membuka diri pada keberadaan liyan, saya jadi mengerti bahwa ketakutan akan eks-PKI ataupun terhadap kaum Syi’ah hanyalah sindrom yang diakibatkan sikap ekslusif. Tanpa ada keterbukaan, mustahil tercipta kedamaian, dan mustahil terjadi rekonsiliasi.

          Saya jadi teringat pesan dalam puisi-esaiya Denny J.A “Mawar yang Berdarah”, yang berkisah tentang kematian Mawar, Ayah teringat kembali/ Pernyataan Mawar suatu hari/ “Semoga Tuhan membukakan mata/ Semoga Tuhan menembuskan mata”/ “Apakah ini maksudnya?”, ujar ayah goyah/ Jika satu peroistiwa kongkret saja/ banyak persepsi tercipta/ Apalagi soal kebenaran yang abstrak?/ soal kehendak Tuhan?/ soal interpretasi agama?/ soal siapa yang benar?/ Tak heran banyak persepsi.

Untuk itu sikap inklusif harus menubuh dalam diri kita, agar pertemuan dengan yang berbeda bisa tercipta. Pada titik ini, saya mengafirmasi pernyataan Martin Buber bahwa pertemuan terbagi dua macam. Pertama, pertemuan sekadar pertemuan, seperti pertemuan ibu dengan penjual sayur yang lewat di jalan depan rumahnya, yang dia sebut vergegnung. Kedua, pertemuan yang melibatkan seluruh pribadi kita, dan ia menyebutknya begegnung.[1] Dalam situasi begegnung kita bisa mengerahkan seluruh diri kita dan siap untuk berubah.

          Melalui momen perjumpaan yang kedua, kita bisa melalukan dialog terhadap kelompok minoritas dengan melampaui segala persepsi dan tanpa bersifat tendensius. Bahkan, tanpa ada sikap primordialisme yang bersumber dari keegoistikan diri kita. Dengan cara seperti itulah, kedamaian dan cinta kasih bisa muncul dengan melihat liyan sebagai bagian substansial dari kita yang mayoritas.

          Saya barsaksi bahwa dari tanah Madura, dentang kedamaian itu akan bergema, hingga kita bisa belajar menumbuhkan cinta kasih dalam diri. Mungkin esok.***

         

 

[1] Lihat penjelasan Jalaluddin Rahmat tentang teori dialog Martin Buber di https://www.youtube.com/watch?v=_Nj7Dk-3uo0

 

 

  • view 201