Tentang Palestina (Sebuah Refleksi dari Acara #MalamPalestina)

Nati Sajidah
Karya Nati Sajidah Kategori Agama
dipublikasikan 31 Agustus 2017
Tentang Palestina (Sebuah Refleksi dari Acara #MalamPalestina)

Tentang Palestina, aku pernah begitu membara. Apalagi jika ketika acara Munashoroh Palestina ditampilkan foto-foto korban, masjid kiblat pertama kami yang dihancurkan, dan kekejaman zionis lainnya yang tak berkeadilan. Maka panggilan konvoi aksi Palestina hampir selalu aku ikuti. Turun ke jalan bergabung bersama teman-teman lainnya. Rombongan kami mengular, tak jarang menutup banyak jalan. Tapi bukankah ini untuk kebaikan? Di bawah terik matahari, kami menyanyikan yel-yel, mengibarkan bendera Palestina, tak lupa sambil mengepalkan tangan; Intifadhah.. Intifadhah.. Yahudi laknatullah..! Serta merta aku merasa menjadi sangat Palestin, merasa kakiku tak sedang menginjak Indonesia. Aku terbang, bersama takbir-takbir menggema. Memekikkan amarah atas penjajahan.

Atas keluguanku saat itu, melalui orasi para tokoh yang berapi-api, aku tahu alasanku harus membela Palestin karena agamaku dinjak-injak. Aku merasa agamaku dihina. Oleh siapa? Oleh siapa lagi kecuali si Yahudi. Maka tak ragu-ragu aku ikut melaknat mereka berkali-kali. Cintaku pada perjuangan pembelaan Palestina, melahirkan kebencian di satu sisi. Benci pada Yahudi. Benci pada setiap siapapun yang tak peduli. Benci pada pemerintahan yang tak ikut beraksi, bersama kami.

10 tahun yang lalu, solidaritasnya berbunyi: One Man One Dollar. Dulu aku masih mahasiswa, menyumbang 1 dollar alias 10ribu rupiah saja rasanya sudah perjuangan. Di akhir acara aksi, panitia mengumumkan hasil penggalangan dana. Aku begitu takjub ketika menyaksikan orang-orang begitu dengan mudahnya mengeluarkan harta terbaiknya. Ada yang menyumbang puluhan juta, ratusan dollar, emas perhiasan yang sedang dipakainya, dll. Setiap sumbangan yang fantastis selalu disambut gegap takbir. MasyaAllah, apalah arti sumbanganku yang hanya sepuluh ribu. Tak mengapa, hiburku. Bergabung dengan orang-orang baik seperti mereka saja sudah membuatku merasa beruntung.

Menurutku saat itu, hanya mereka yang getol menyuarakan pembelaan. Hanya kami. Yang lain kemana? Mengapa tak ikut bergabung? Banyak kelompok muslim di Indonesia, tapi kenapa hanya kami yang menyuarakan pembelaan Palestina?
Tahun-tahun berganti, membawaku banyak bertemu dengan ragam orang.

Di tahun 2017 ini, aku terlewat beberapa kali aksi Palestina. Lalu pada awal Bulan Agustus aku membaca pamflet yang bertebaran di lini masa. Sebuah acara seni berjudul Doa Untuk Palestina. Ini di luar kebiasaan, bukan aksi turun ke jalan, tapi sebuah pentas puisi. Yang lebih mengherankan lagi, para pengisi acaranya adalah penyair-penyair sohor, dan berbagai tokoh lintas bidang. Di antara mereka adalah idolaku yang sering kali saat membaca karya-karyanya membuat jantungku rasanya berhenti berdetak. Seperti Gus Mus, Acep Zamzam, Taufiq Ismail dan Zawawi Imron. Buru-buru aku tandai tanggal 24 Agustus di kalender telepon genggam. Aku harus hadir.

Tibalah malam itu. Aku sampai di Taman Ismail Marzuki dengan hati yang canggung. Apa benar acara ini tentang Palestina? Aku tertegun memperhatikan penampilan lalu lalang orang. Bukan hanya yang berkerudung lebar, bahkan yang memakai rok pendek pun hadir antusias. Bukan hanya yang berjenggot panjang, tapi sampai Mas Butet yang terkenal nyeleneh pun hadir. Bukannya dia non muslim? Dikenal sekuler juga, kan? Hey. Apa benar ini acara peduli Palestina? Katanya, lebih dari 1000 tiket habis. Acara ini full gratisan. Aku pun bergabung dengan ratusan orang yang tak bisa masuk. Untungnya panitia menyediakan big screen live acara yang dipasang di luar gedung. Saat itu aku sedang berdiri di tengah kerumunan, masih dengan pikiran berkecamuk, sampai tiba-tiba semua orang berdiri dengan takzim menghadap big screen. Menyanyikan lagu Indonesia Raya. Aku? Terdiam kaku beberapa saat. Kemudian ikut bernyanyi dengan keharuan yang entah.

Setelah belasan kali mengikuti aksi solidaritas Palestina, rasanya baru kali ini.. Baru kali ini mengikuti aksi solidaritas Palestina, dengan tetap menjadi Indonesia.

Lagu Indonesia Raya sudah selesai dinyanyikan. Kami yang ada di luar dengan patuh mengikuti intruksi pembawa acara untuk kembali duduk. Eh, duduk dimana? Serentak di sekelilingku duduk khidmat di lantai. Di sudut hatiku ada yang berteriak. Aku harus masuk ke dalam. Aku harus lihat lebih dekat. Aku ingin berdekatan dengan beliau..

Semesta mendukung. Aku bertemu dengan temanku, Nura Jamil yang membawa tiket. Setelah disemangati oleh Kang Ackie Udin, kami nekat mengikuti dia masuk. Tidak mudah. Kami berdrama dulu 2x dioper oleh keamanan. Dengan lebih nekad, akhirnya kami bisa melewati Banser yang menjaga di pintu masuk. Berhasil.

Kami berlari menuju lantai 2, tempat acara berlangsung. Tak dinyana ruangan yang seperti bioskop itu sudah penuh sekali. Aku ngotot mengajak temanku untuk terus mendekati barisan depan. Di baris ketiga, tepat di belakang barisan duduk VIP akhirnya kami duduk.

Acara dibuka dengan sambutan dari Gus Mus, yang membacakan UUD 45. Bahwa segala bentuk penjajahhan harus ditentang. Berdegup. Lagi-lagi aku merasakan hal yang sama. Membela Palestina, dengan tetap Indonesia. Apalagi ketika melihat logo dari acara ini yang terpasang besar di panggung. Sebuah Peta tanah Palestina, berwarna merah putih.

Aku bertanya-tanya. Siapakah penanggungjawab dari acara yang unik ini? Mengetuk rasa kepedulian dengan cara yang tak biasa. Pertanyaan itu terjawab ketika Ketua Acara diundang ke depan memberikan sambutan. Dan aku semakin bengong. Bagaimana bisa seorang yang dikenal tokoh liberal menjadi ketua acara ini? Ulil Absar Abdalla. Bertambah bengong lagi, ketika tahu bahwa beliau juga lah yang menerjemahkan sebagian besar puisi-puisi bahasa Arab yang dibacakan di pentas malam itu.

Melalui sambutan selamat datang sang pembawa acara, ada banyak pihak pemerintahan yang hadir. Ada kepala staff kepresidenan, menteri pendidikan, mantan ketua MK, dll. Deretan artis papan atas juga hadir, bahkan pemain sepak bola Timnas juga ada, tepat di hadapanku. Baru kali ini.. aku merasa membela Palestina, dengan tetap Indonesia. Dan baru kali ini juga, rasanya, aksi solidaritas Palestina menjadi aksi bersama. Nampaknya level ke-bengong-anku akan terus meningkat.

Puisi-puisi kemudian ditampilkan oleh para penyair Indonesia yang tak diragukan lagi karya dan kiprahnya. Aku terduduk lesu saat menyimak penyair, yang menjadi cinta pertamaku pada dunia puisi, Kang Acep Zamzam Noor membacakan puisi anonim yang sederhana, namun mewah..
Ayam punya rumah [1]
Rumahnya adalah
Kandang ayam yang indah
Kelinci punya rumah
Rumahnya
Lubang dalam tanah
Orang Palestina
Tidak berumah
Tidak berkampung halaman
Kemah dan bangunan
Yang didiaminya kini
Bukan rumahnya sendiri
Bukan kampung halamannya sendiri
Di mana rumah
Orang Palestina?
Di mana kampung halaman
Orang Palestina?
Di Palestina
Tapi sekarang dia
Tidak diam di sana
Kampung halaman
Orang Palestina
Dirampas
Musuhnya

Tentang rumah, pasti setiap kita memiliki hubungan intim dengannya. Puisi sederhana tadi berhasil dengan wah membuatku resah. Kebengonganku kali ini masuk pada tahap baru. Ternyata perkara Palestina dapat melahirkan banyak tema. Dan ternyata lagi, tema-tema itu dapat disajikan dengan bahasa puisi. Seperti sederhana, namun megah rasanya.

Puisi-puisi Palestina lainnya temanya beragam. Tentang hubungan anak dengan ibunya yang terpisahkan, kisah pilu di pembuangan, tentang cinta, tentang deru dalam dada ketika semuanya dicabik dijajah, bahkan tentang dialog dengan Tuhan yang sulit diduga.

Dibacakan oleh penyair wanita, Fatin Hamama. Beliau membacakan puisi dalam bahasa arab yang ditulis oleh Samih Al-Qasim, berjudul “Risalatun ilaLlaah” [2] atau “Surat Kepada Tuhan”. Samih Al-Qasim adalah seorang nashraniy. Fatin Hamama menegaskan, bahwa kita sering mengira di Palestina hanya ada muslimin, padahal di sana juga ada saudara-saudara kita yang nashraniy.

Wahai Bapa, tetapi kami toh terus memanjatkan doa
Dari tahun ke tahun.
Wahai Bapa, tetapi kami tetaplah para pengungsi!
Tanah kami, konon, dari madu
Di sana, konon, mengalir sungai-sungai susu
Tanah kami, konon, melahirkan para nabi
Kami mencintai tanah-tanah kami
Tetapi kami menjadi celaka
Karena cinta itu
Kami harus memikul salib-derita.
Bagaimana mungkin Engkau rela, wahai Bapa
Anak-anak-Mu yang tiada berdosa
Memanggul salib-sengsara?
Ampuni aku, wahai Bapa!
Jika kata-kataku terlalu lancang
Aku hanyalah manusia yang tercipta dari debu-hina
Sejak menit pertama, aku sudah berbuat dosa
Wahai Tuhan Yang Susah Diduga!

Sebuah kesadaran baru seperti merangsek masuk ke dalam hati ini. Bahwa Palestina, bukan (hanya) tentang agama. Tapi ini bicara manusia. Yang punya hati sama. Maka bahasa puisi malam itu berhasil menamparku berkali-kali tanpa ampun. Begitu naif diriku memblokade kebaikan. Merasa yang peduli hanya segolongan. Nyatanya malam ini semua terbukti. Orang-orang dari berbagai latar ma(mp)u datang untuk peduli, ketika kepedulian itu dikibarkan oleh bendera persatuan, yaitu kemanusiaan. Bukan semata bendera golongan.

Puisi-puisi yang dibacakan adalah hampir seluruhnya ditulis oleh penyair Palestina. Tersirat jelas bagaimana kecintaan pada tanah airnya. Sedijajah apapun, sebagaimanapun usaha para musuh menghapus identitas mereka, tetap saja mereka bangga menjadi Palestina.

Entah kenapa yang terjadi padaku bisa begini; yang dibacakan adalah puisi Palestina, tapi yang terasa malah rasa cinta pada Indonesia yang kian menggelegak. Barangkali sebab bait-bait puisi itu tak sedang menuding orang lain, melainkan menggedor kewarasanku untuk bersyukur terlahir dan besar di negeri yang damai. Bisa dengan bebas mengatakan aku orang Indonesia.

Jika menjadi mereka, apakah aku bisa dengan berani mengatakan, aku orang Palestina? Puisi di bawah ini dibacakan oleh Kiai Mustofa Bisri alias Gus Mus, (aku hanya kuasa berjarak 1 meter darinya-tak mampu lebih dekat lagi), dan Slamet Raharjo. Berjudul Orang Palestina[3].

Orang Palestina
Namaku orang Palestina
Jelas aksaranya
Di seluruh medan pertempuran
Kuguratkan namaku
Tidak ada alias lainnya
Aksara namaku mencengkeramku
Dialah nyala
Dialah denyut
Di darahku
Orang Palestina
Begitulah namaku
Nama yang gaduh
Nama yang duka
….
Orang Palestina aku
Walau mereka menjualku
Di pasar dunia
Dengan harga beribu juta
Orang Palestina aku
Walau ke gantungan dihalau aku
Orang Palestina aku
Walau ke dinding diikat aku
Orang Palestina aku
Orang Palestina
Walau ke unggun dilempar aku
Aku..... apa aku?
Tanpa namaku, orang Palestina
Tanpa kampung halaman
Tempat berlindung
Aku... apa aku? Jawab aku
Jawab!

Malam itu. Dadaku sesak oleh kebengongan, kewarasan baru, kesadaran yang bertubi-tubi datang. Rasanya ingin menyalami satu per satu pihak yang berjasa menyelenggarakan acara itu. Terima kasih atas segalanya. Bahkan aku berterima kasih atas masa lalu. Dengannya aku bisa merasa kaya. Cinta punya banyak bahasa. Ada cinta yang melahirkan sisi benci, ada yang memilih berbicara pada sanubari, seperti puisi. Ada yang menggelorakan suara ke luar, ada yang menggedor kewarasan diri. Terima kasih membantuku memilih untuk tetap mencinta, tanpa benci.
Terima kasih.
 
----
[1] Judul: Puisi Kanak-kanak Palestina, diterjemahkan oleh Taufiq Ismail
[2] Diterjemahkan oleh Ulil Abshar Abdalla dari sajak berjudul “Risala ila al-Lah”. Termuat dalam antologi lengkap sajak-sajak Samih al-Qasim, hal. 63.
[3] Diterjemahkan oleh Taufiq Ismail dari sajak karya Harun Hashim Rashid

  • view 48