Tulisan Pertama

Melina Scandinovita
Karya Melina Scandinovita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Februari 2016
Tulisan Pertama

Suatu hari, saya yang kala itu sedang berjuang dengan skripsi saya yang telah satu tahun saya kerjakan, sedang dalam keadaan yang sangat terpuruk. Bagaimana tidak, apa yang saya kerjakan kala itu semuanya dikatakan sia-sia saat menjelang akhir penelitian saya. Hasilnya gagal total tak beraturan, katanya. Saya hanya duduk termenung di depan kantor Tata Usaha di kampus saya, melihat berkas yang penuh dengan coretan bolpoin merah dari Profesor pembimbing. Jujur, saya ingin menangis sekencang-kencangnya dikala itu. Saya merasa apa yang saya kerjakan benar-benar telah tidak ada harganya selama satu tahun belakangan kala itu. Saya akhirnya hanya bisa pulang dengan diam.

Setelah sampai di kos waktu itu, saya merenung masih dalam diam. Saya merenungkan apa yang dikatakan oleh Profesor pembimbing saya saat melihat wajah saya murung waktu itu.

"Ingat sebagai peneliti yang sebenarnya, kamu harus bisa menerima bahwa hasil negatif itu tetap adalah sebuah hasil. Kamu tidak bisa mengabaikannya. Kamu harus jujur untuk kebaikan seluruh manusia." katannya.

Memang, saya mengaku. Saya membuat bagaimana caranya agar penelitian tersebut berhasil, tetapi masih dengan cara yang halal. Berhasil dalam definisi saya adalah hipotesis yang positif, karena saya yakin apa yang saya sampaikan adalah suatu kebenaran yang harus mendapat bukti. Tetapi saya salah, apapun yang saya lakukan hanya egois untuk kepentingan diri sendiri, saya tidak mendalami esensi sebagai seorang peneliti yang harus mementingkan kepentingan banyak orang. Itu yang membuat Professor pembimbing saya marah, hanya berkutat pada "kamu egois".

Saya melakukan hal tersebut bukannya tanpa alasan. Latar belakang saya akan coba saya kaitkan untuk pembelaan pertama saya. Latar belakang yang keras dan terus menerus berusaha survive baik di lingkungan keluarga atau di lingkungan pergaulan menjadikan saya tidak suka apabila semua tidak seperti yang seharusnya atau yang bisa dikatakan harus sesuai kemauan saya. Saya akan mengusahakan apapun demi yang seharusnya saya capai. Ada baiknya kadang menjadi seperti saya, tetapi ini terlalu berlebihan. Apapun yang saya lakukan akan kembali ke lingkungan, dan ini benar, saya harus meredam idealisme saya.

Saya merenung kembali. Mau tidak mau ini sudah terjadi, dan saya harus menerima. Tetapi saya tidak sekedar hanya menerima, saya tahu dan saya menghargai proses yang saya jalani selama ini. Apabila saya tidak mengikhlaskan hasil negatif ini, seakan-akan saya membuang segala proses yang telah saya lakukan. Apabila saya saja tidak menghargai proses saya sendiri, lalu siapa lagi?

Setelah mengalami berbagai macam pencobaan yang tertumbuk pada hal yang sama, solusi utama dalam masalah ini adalah menurunkan idealisme. Saya juga jadi banyak mengambil pelajaran hidup terutama dari obrolan saya dengan pembimbing saya saat itu. Apa yang saya hasilkan, baik itu "negatif" atau "positif" harus benar-benar saya ikhlaskan untuk diterima, karena saya merupakan bagian dari hasil yang saya hasilkan. Apabila saya menghargai hasil yang saya hasilkan berarti saya menghargai diri saya sendiri.

  • view 141