Dyscalculic!

Melina Scandinovita
Karya Melina Scandinovita Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 12 Juni 2016
Dyscalculic!

“Pak, saya perhatikan anak Anda kurang mampu memahami matematika dan pelajaran berhitung lainnya. Entah hanya kesalahan kecil, seperti tidak teliti memasukan angka, tidak teliti dalam menghitung, atau bahkan tidak paham dengan logika matematikanya. Apakah ada keluhan seperti ini sebelumnya?” kata seorang Guru kelas SMA di sekolahku saat penerimaan rapor. “Setahu saya memang anak saya tidak jago dalam pelajaran matematika, bahkan sejak SD. Nilai matematika anak saya memang selalu buruk tidak sebagus pelajaran yang lain. Setelah masuk pelajaran Fisika dan Kimia, nilai kedua mata pelajaran tersebut juga ikut jelek. Saya sudah berusaha memberikan tambahan pelajaran kepada anak saya tetapi sepertinya anak saya yang memang tidak bisa. Saya juga heran.” Kata Ayah saya. Dan akhirnya sesampainya dirumah saya di marahi habis-habisan karena “kebodohan” saya ini. -- “Nik, kamu tekan dulu tutupnya lalu putar ke kiri!” kata Ibu. “Sudah, tapi keras gak ke buka.” kataku. “Itu kamu putar ke kanan bukan ke kiri, Ibu tadi bilang putar ke kiri.” Kata Ibu. Lalu saya bingung karena merasa saya sudah benar. -- Penggalan cerita di atas merupakan pengalaman pribadi saya, yang awalnya sangat membingungkan untuk seluruh keluarga. Kejadian tersebut berulangkali terjadi, bahkan hingga saat ini. Setiap rapor yang saya terima, nilai terendah dalam rapor pasti disandang oleh mata pelajaran Matematika. Hingga sekarang dalam memegang uang, menghitung uang kembalian terkadang masih bisa salah. Segala yang berhubungan dengan angka pasti ada saja kecerobohan entah dalam menuliskan angka, menghitung, atau dalam logika apalagi analisa. Saya ingat juga saat SD saya gagal lolos audisi pertandingan senam saat SD karena saya tidak tepat dalam menirukan gerakan “menghadap ke kanan dan ke kiri”. Saya sangat gemar menari dan apabila saatnya harus mengahadap ke kanan atau ke kiri saya pasti berbeda denga teman-teman saya yang lain, saya ke kanan, tapi mereka semua ke kiri. Semenjak saya menyadari ketidakmampuan saya, saya banyak kehilangan kesempatan dalam pramuka, paskibraka, karena kurangnya rasa percaya diri saya terhadap hal itu. Saya ingat betul saat itu saya SMA, kebetulan saya bersekolah di SMK salah satu bidang Kesehatan, guru saya semua dokter dan praktisi kesehatan. Mereka menyadari ini dengan cepat, meskipun saya sangat tidak menghiraukan hal ini sama sekali, tetapi mereka melihat dari bagaimana saya brilian di mata pelajaran yang tidak menggunakan hitungan padahal semua pelajaran saya saat itu tergantung dengan hitungan. Mereka juga menyadari dengan cepat bagaimana saya bergantung dengan teman saya apabila terdapat hitungan dalam praktikum kelompok atau tugas kelompok. Mereka menyadari pula bahwa memori jangka pendek saya bermasalah terutama dalam hal angka, tanggal, nama-nama kimia dengan angka. Mereka menyadari saat istirahat saya berusaha menghapalkan pola-pola visual angka tersebut sehingga saat tes tiba saya dapat dengan mudah menyalinnya tanpa berpikir banyak. Lalu mereka mulai dengan terbuka mengundang secara khusus orang tua saya untuk membicarakan hal ini. -- Saya ingat saat masih duduk dibangku SMP saya merasa frustasi sekali dengan kehidupan saya karena merasa sangat tertinggal dari teman-teman lain. Sebesar apapun saya belajar selalu saja ada kecerobohan yang selalu menggagalkan saya mendapat nilai baik dalam matematika. Saat itu, saya menganggap diri saya bodoh dalam matematika, hal itu ditunjang juga dengan pernyataan Ibu dan Ayah saya yang membuat saya semakin percaya bahwa saya bodoh dalam hal hitungan. Hingga saya berpikir bahwa, “oke, hal ini ga boleh membuat saya lemah. Harus aku apakan matematika ini agar nurut sama aku?”. Saya ingat sesuatu, dulu saya bisa mempelajari perkalian, pengurangan, penambahan, dan pembagian karena saya hapalkan itu setiap hari, saya nyanyikan saya pandangi tiap malam, saya tuliskan kembali tiap minggu. Tetapi kemudian saya berpikir, matematika sekarang lebih kompleks dari itu, angkanya bisa sebesar gajah dan sebanyak yang guru mau, tidak mungkin hanya menghapalkan begitu saja. Akhirnya berkat kemampuan saya *saya rasa itu satu-satunya kemamuan yang bisa saya banggakan selama ini* dalam menghapal sesuatu dengan melihat saja, saya akan hapal letak-letak angka itu dan saya akan hapal dari mana dia berasal dari soal-soal yang saya lihat. Hal ini bertahan hingga sekarang, lumayannya adalah nilai saya yang tadinya selalu 0-2 sekaran sudah naik jadi 4. Saya bangga. -- “Gal, menurut peta nanti kita akan belok ke kiri, lurus sedikit sekitar 200 m lalu langsung belok kanan.” kataku. “ Oke.” kata Galih. Setelah beberapa saat.. “Kok buntu? Bener gak nih? Coba sini liat mana petanya?” kata Galih. “Kamu kebalik. Tadi beok kanan trus berapa lama belok kiri!” kata Galih. Lalu saya tidak mau lagi pegang peta. -- “Gal belok kanan, cepet ada truk.” Kataku “Woi itu kiri!” kata Galih. -- Hal ini banyak sekali terjadi, berulangkali hingga semuanya jera. Saya pernah naik taksi lalu kesasar, karena saya salah kasih arahan dan malah saya dimarahin tukang taksinya karena saya marah-marah sama tukang taksinya. Saya pernah kesasar selama 6 kali berturut-turut dalam hidup saya hanya untuk ke Malioboro. Hal ini lebih membingungkan daripada persoalan matematika, karena “Bagaimana caranya orang tidaak bisa membedakan kanan dan kiri?. Hal itu aneh menurutku, dan hal ini menuntunku sampai ke pencarian jawaban pada pertanyaan “kenapa aku?”. Ditambah lagi seiring dengan berjalannya waktu, pekerjaan saya sebagai marketing disuatu perusahaan membuat saya harus mau tidak mau akrab dengan data yang berupa angka. Hal ini sangat mengganggu dan membuat penasaran sekaligus. Saya sangat akrab dengan omongan orang, seperti: “Bodoh. Kamu ga bisa matematika.” “Hey ini itu gampang, tinggal diginiin. Kok ga bisa sih?” “Kamu itu cuma males mikir. Bukan ga bisa math bukan ga bisa kanan kiri.” “Kamu kok ke sasar udah jaman modern gini gabisa pake GPS ya?” -- Kalau mau diingat kembali, semua keanehan ini saya sudah tanyakan ke beberapa orang dan mereka hanya menjawab hal-hal tersebut diatas. Atas nama keingintahuan, saya mencoba melakukan sesi wawancara dengan dokter salah satu pengajar di sekolah saya. Saya tidak diberi jawaban khusus saat itu, tetapi beliau menerangkan tentang sebuah gangguan bernama dyslexia atau disleksia dalam bahasa Indonesia. Beliau berkata kalau hal itu adalah sebuah gangguan dalam membaca. Saya merasa tidak memiliki gangguan yang berarti dalam membaca. Kurang puas dengan jawaban itu saya melakukan pencarian di buku dan beberapa situs saat itu tentang dyslexia tanpa membuahkan hasi dari pertanyaan saya. Bertahun-tahun saya meletakkan pertanyaan itu ditempat yang sama, akhirnya saya memiliki keingintahuan yang besar sekali lagi untuk mengatahui apa yang terjadi dalam diri saya, meskipun saya tahu mungkin saya tidak akan menemukan jawaban secara pasti. Dari semua hasil pencarian gejala yang timbul saya mendapatkan sebuah hasil yaitu dyscalculia. Secara arti mungkin bisa di cari di google, tetapi secara garis besar ini adalah gangguan dalam mengenal angka. Gangguan ini bisa dibaca gejalanya dalam blog ini. Hal ini sedikit memberikan titik cerah bagi saya, dan paling tidak saya tahu saya tidak sendiri. -- Saya masih disini enjoy dengan hidup saya walau pun banyak kesalahan yang tidak perlu terjadi dalam kehidupan saya. Tulisan ini bukan berarti saya ingin pamer kekurangan saya, dan menjadikan anda menertawakan atau bahkan iba dengan saya. Tetapi sadarilah sebagai orang normal yang bisa menertawakan dan iba dengan seseorang janganlah berkata hal yang tidak perlu seperti men-judge orang tersebut. Anda tidak tahu persis apa yang terjadi dalam kehidupan orang yang anda ajak bicara, atau bahkan orang itupun sebenarnya tidak tahu dengan apa yang ada dalam dirinya. Ketika orang yang anda ajak bicara adalah orang yang bisa dibilang lebih banyak menggunakan hati, dia akan percaya pada omongan anda dan berakhir buruk padahal yang sebenernya terjadi bukan demikian. Saya juga sadar tidak banyak orang yang peduli dengan ke “aneh” an kecil seperti pengalaman saya ini, tetapi mulailah dari sekarang untuk peduli terhadap kehidupan kalian, karena peduli terhadap orang lain itu berawal dari kepedulian terhadap diri sendiri. Saya tidak menganggap saya punya sebuah gangguan yang mengganggu. Ini adalah sebuah anugerah dari Tuhan untuk menunjukkan kepadda saya cara lain untuk sukses. Saya tidak akan berhenti memahamimu angka dan matematika, saya akan terus berusaha walaupun itu sulit. Saya mencintai hal lain diluar itu dan saya yakin itu yang membuat saya sukses.“Pak, saya perhatikan anak Anda kurang mampu memahami matematika dan pelajaran berhitung lainnya. Entah hanya kesalahan kecil, seperti tidak teliti memasukan angka, tidak teliti dalam menghitung, atau bahkan tidak paham dengan logika matematikanya. Apakah ada keluhan seperti ini sebelumnya?” kata seorang Guru kelas SMA di sekolahku saat penerimaan rapor. “Setahu saya memang anak saya tidak jago dalam pelajaran matematika, bahkan sejak SD. Nilai matematika anak saya memang selalu buruk tidak sebagus pelajaran yang lain. Setelah masuk pelajaran Fisika dan Kimia, nilai kedua mata pelajaran tersebut juga ikut jelek. Saya sudah berusaha memberikan tambahan pelajaran kepada anak saya tetapi sepertinya anak saya yang memang tidak bisa. Saya juga heran.” Kata Ayah saya. Dan akhirnya sesampainya dirumah saya di marahi habis-habisan karena “kebodohan” saya ini. -- “Nik, kamu tekan dulu tutupnya lalu putar ke kiri!” kata Ibu. “Sudah, tapi keras gak ke buka.” kataku. “Itu kamu putar ke kanan bukan ke kiri, Ibu tadi bilang putar ke kiri.” Kata Ibu. Lalu saya bingung karena merasa saya sudah benar. -- Penggalan cerita di atas merupakan pengalaman pribadi saya, yang awalnya sangat membingungkan untuk seluruh keluarga. Kejadian tersebut berulangkali terjadi, bahkan hingga saat ini. Setiap rapor yang saya terima, nilai terendah dalam rapor pasti disandang oleh mata pelajaran Matematika. Hingga sekarang dalam memegang uang, menghitung uang kembalian terkadang masih bisa salah. Segala yang berhubungan dengan angka pasti ada saja kecerobohan entah dalam menuliskan angka, menghitung, atau dalam logika apalagi analisa. Saya ingat juga saat SD saya gagal lolos audisi pertandingan senam saat SD karena saya tidak tepat dalam menirukan gerakan “menghadap ke kanan dan ke kiri”. Saya sangat gemar menari dan apabila saatnya harus mengahadap ke kanan atau ke kiri saya pasti berbeda denga teman-teman saya yang lain, saya ke kanan, tapi mereka semua ke kiri. Semenjak saya menyadari ketidakmampuan saya, saya banyak kehilangan kesempatan dalam pramuka, paskibraka, karena kurangnya rasa percaya diri saya terhadap hal itu. Saya ingat betul saat itu saya SMA, kebetulan saya bersekolah di SMK salah satu bidang Kesehatan, guru saya semua dokter dan praktisi kesehatan. Mereka menyadari ini dengan cepat, meskipun saya sangat tidak menghiraukan hal ini sama sekali, tetapi mereka melihat dari bagaimana saya brilian di mata pelajaran yang tidak menggunakan hitungan padahal semua pelajaran saya saat itu tergantung dengan hitungan. Mereka juga menyadari dengan cepat bagaimana saya bergantung dengan teman saya apabila terdapat hitungan dalam praktikum kelompok atau tugas kelompok. Mereka menyadari pula bahwa memori jangka pendek saya bermasalah terutama dalam hal angka, tanggal, nama-nama kimia dengan angka. Mereka menyadari saat istirahat saya berusaha menghapalkan pola-pola visual angka tersebut sehingga saat tes tiba saya dapat dengan mudah menyalinnya tanpa berpikir banyak. Lalu mereka mulai dengan terbuka mengundang secara khusus orang tua saya untuk membicarakan hal ini. -- Saya ingat saat masih duduk dibangku SMP saya merasa frustasi sekali dengan kehidupan saya karena merasa sangat tertinggal dari teman-teman lain. Sebesar apapun saya belajar selalu saja ada kecerobohan yang selalu menggagalkan saya mendapat nilai baik dalam matematika. Saat itu, saya menganggap diri saya bodoh dalam matematika, hal itu ditunjang juga dengan pernyataan Ibu dan Ayah saya yang membuat saya semakin percaya bahwa saya bodoh dalam hal hitungan. Hingga saya berpikir bahwa, “oke, hal ini ga boleh membuat saya lemah. Harus aku apakan matematika ini agar nurut sama aku?”. Saya ingat sesuatu, dulu saya bisa mempelajari perkalian, pengurangan, penambahan, dan pembagian karena saya hapalkan itu setiap hari, saya nyanyikan saya pandangi tiap malam, saya tuliskan kembali tiap minggu. Tetapi kemudian saya berpikir, matematika sekarang lebih kompleks dari itu, angkanya bisa sebesar gajah dan sebanyak yang guru mau, tidak mungkin hanya menghapalkan begitu saja. Akhirnya berkat kemampuan saya *saya rasa itu satu-satunya kemamuan yang bisa saya banggakan selama ini* dalam menghapal sesuatu dengan melihat saja, saya akan hapal letak-letak angka itu dan saya akan hapal dari mana dia berasal dari soal-soal yang saya lihat. Hal ini bertahan hingga sekarang, lumayannya adalah nilai saya yang tadinya selalu 0-2 sekaran sudah naik jadi 4. Saya bangga. -- “Gal, menurut peta nanti kita akan belok ke kiri, lurus sedikit sekitar 200 m lalu langsung belok kanan.” kataku. “ Oke.” kata Galih. Setelah beberapa saat.. “Kok buntu? Bener gak nih? Coba sini liat mana petanya?” kata Galih. “Kamu kebalik. Tadi beok kanan trus berapa lama belok kiri!” kata Galih. Lalu saya tidak mau lagi pegang peta. -- “Gal belok kanan, cepet ada truk.” Kataku “Woi itu kiri!” kata Galih. -- Hal ini banyak sekali terjadi, berulangkali hingga semuanya jera. Saya pernah naik taksi lalu kesasar, karena saya salah kasih arahan dan malah saya dimarahin tukang taksinya karena saya marah-marah sama tukang taksinya. Saya pernah kesasar selama 6 kali berturut-turut dalam hidup saya hanya untuk ke Malioboro. Hal ini lebih membingungkan daripada persoalan matematika, karena “Bagaimana caranya orang tidaak bisa membedakan kanan dan kiri?. Hal itu aneh menurutku, dan hal ini menuntunku sampai ke pencarian jawaban pada pertanyaan “kenapa aku?”. Ditambah lagi seiring dengan berjalannya waktu, pekerjaan saya sebagai marketing disuatu perusahaan membuat saya harus mau tidak mau akrab dengan data yang berupa angka. Hal ini sangat mengganggu dan membuat penasaran sekaligus. Saya sangat akrab dengan omongan orang, seperti: “Bodoh. Kamu ga bisa matematika.” “Hey ini itu gampang, tinggal diginiin. Kok ga bisa sih?” “Kamu itu cuma males mikir. Bukan ga bisa math bukan ga bisa kanan kiri.” “Kamu kok ke sasar udah jaman modern gini gabisa pake GPS ya?” -- Kalau mau diingat kembali, semua keanehan ini saya sudah tanyakan ke beberapa orang dan mereka hanya menjawab hal-hal tersebut diatas. Atas nama keingintahuan, saya mencoba melakukan sesi wawancara dengan dokter salah satu pengajar di sekolah saya. Saya tidak diberi jawaban khusus saat itu, tetapi beliau menerangkan tentang sebuah gangguan bernama dyslexia atau disleksia dalam bahasa Indonesia. Beliau berkata kalau hal itu adalah sebuah gangguan dalam membaca. Saya merasa tidak memiliki gangguan yang berarti dalam membaca. Kurang puas dengan jawaban itu saya melakukan pencarian di buku dan beberapa situs saat itu tentang dyslexia tanpa membuahkan hasi dari pertanyaan saya. Bertahun-tahun saya meletakkan pertanyaan itu ditempat yang sama, akhirnya saya memiliki keingintahuan yang besar sekali lagi untuk mengatahui apa yang terjadi dalam diri saya, meskipun saya tahu mungkin saya tidak akan menemukan jawaban secara pasti. Dari semua hasil pencarian gejala yang timbul saya mendapatkan sebuah hasil yaitu dyscalculia. Secara arti mungkin bisa di cari di google, tetapi secara garis besar ini adalah gangguan dalam mengenal angka. Gangguan ini bisa dibaca gejalanya dalam blog ini. Hal ini sedikit memberikan titik cerah bagi saya, dan paling tidak saya tahu saya tidak sendiri. -- Saya masih disini enjoy dengan hidup saya walau pun banyak kesalahan yang tidak perlu terjadi dalam kehidupan saya. Tulisan ini bukan berarti saya ingin pamer kekurangan saya, dan menjadikan anda menertawakan atau bahkan iba dengan saya. Tetapi sadarilah sebagai orang normal yang bisa menertawakan dan iba dengan seseorang janganlah berkata hal yang tidak perlu seperti men-judge orang tersebut. Anda tidak tahu persis apa yang terjadi dalam kehidupan orang yang anda ajak bicara, atau bahkan orang itupun sebenarnya tidak tahu dengan apa yang ada dalam dirinya. Ketika orang yang anda ajak bicara adalah orang yang bisa dibilang lebih banyak menggunakan hati, dia akan percaya pada omongan anda dan berakhir buruk padahal yang sebenernya terjadi bukan demikian. Saya juga sadar tidak banyak orang yang peduli dengan ke “aneh” an kecil seperti pengalaman saya ini, tetapi mulailah dari sekarang untuk peduli terhadap kehidupan kalian, karena peduli terhadap orang lain itu berawal dari kepedulian terhadap diri sendiri. Saya tidak menganggap saya punya sebuah gangguan yang mengganggu. Ini adalah sebuah anugerah dari Tuhan untuk menunjukkan kepadda saya cara lain untuk sukses. Saya tidak akan berhenti memahamimu angka dan matematika, saya akan terus berusaha walaupun itu sulit. Saya mencintai hal lain diluar itu dan saya yakin itu yang membuat saya sukses.

  • view 91