selamanya

Nasti puji lestari
Karya Nasti puji lestari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Mei 2016
selamanya

Bersyukur kepada Tuhan telah mengirimkan seseorang dengan wajah rupawan, hati yang tulus, dan sempurna dimataku. Kamu anugerah terindah yang aku miliki. 

Kring kring kring, bunyi hp ku berdering dipagi buta, dengan berat membuka mata, aku cari dimana aku meletakkan hp ku semalam. "Love" kata itu yang tertera pada layar hp, dengan mata setengah terpejam aku bergegas untuk angkat panggilan itu. Masih ngantuk? ya pasti, masih malas bangun? ya memang, tetapi melihat kamu meneleponku rasa itu seketika sirna menjadi rasa bahagia yang tiada terkira. Itulah kamu, yang setiap pagi selalu menjadi orang pertama menyapa pagiku.

Itulah kamu yang selalu memberi aku kejutan yang tak terfikirkan, itulah kamu yang selalu membuat aku bahagia, itulah kamu yang selalu memberikan bahumu setiap aku menangis, itulah kamu yang selalu tahu apa mau aku. Itu hanya kamu

Bercanda bersama, mentertawakan semua hal termasuk hal yang sama sekali tidak kita ketahui sekalipun. Aneh memang, ya itulah cara kami menjalin kasih. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan dan akhirnya sampai ke tahun pertama kita menjalin kasih, dibenak aku semua tentang kamu adalah keindahan, karena aku hanya merasakan kebahagiaan dari hubungan yang kita jalani selama setahun ini.

Waktu perlahan mulai menampakkan dirinya, aku hanyalah sang penikmat waktu yang tidak mengetahui apa-apa tentang kedatangan waktu yang ternyata akan membuat kebahagiaan aku sirna.

Saat itu kamu sedang berada dikota asal kamu, kita berhubungan melalui hp, berhari-hari kita lalui seperti itu, dan tidak ada masalah sedikitpun. Tetapi tibalah saat dimana kamu semalaman tidak memberikanku kabar, Adakah kamu ingat?

Perasaan mulai berkecamuk, tidurpun tidak nyenyak, setiap terbangun setiap itu pula aku mencari hp dan memandangi layar hp, berharap ada kabar dari kamu, tetapi tidak ada. lagi-lagi tidak ada. Marah? ya memang saat itu aku marah dengan perlakuan kamu yang tidak biasa itu, mulai aku melanjutkan tidurku kembali dengan perasaan kesal, tetapi selang berapa lama hp aku berdering, dan itu pesan dari kamu, tetapi bukan kamu yang menulisnya, karena kamu saat ini sedang terbaring tak berdaya dirumah sakit. Membaca pesan itu, sontak air mataku bercucuran dengan derasnya dan tak tahu harus membalas isi pesan itu dengan kata-kata apa. Aku sayang kamu, dan aku takut.

Berhari-hari aku hanya bisa berkomunikasi dengan temanmu, hanya sekedar menanyakan apakah kamu sudah terbangun dari komamu, atau kamu masih nyaman untuk tidur sebentar? Tuhan, kali ini aku benar-benar takut kehilangannya. 3 hari kamu diam mematung, dan aku tergeletak lemah diatas kasur saja, untuk makan dan minum pun aku tak sanggup, beranjak dari tempat tidur hanya untuk mengambil air wudhu dan memohon kepada Tuhan agar kamu segera bangun. Aku lupa caranya tersenyum, aku lupa caranya mengunyah makanan, yang aku ingat hanya terus mendoakan kamu dari jauh. Saat ini aku mahasiswa tingkat akhir, yang harus menyelesaikan karya ilmiahku agar aku bisa mendapatkan gelar, tapi itu tidak terlalu berarti bagiku, karena kamu satu-satunya yang saat ini ada difikiranku, hanya berharap dapat bertemu dengan kamu secepatnya sayang. Tapi bagaimana dengan kuliahku, tapi bagaimana? aku tidak mempunyai uang banyak untuk membeli tiket pulang pergi, dan untuk membayar penginapan. Tekanan demi tekanan aku rasakan, termasuk pesan dari keluarga kamu yang meminta aku agar tidak akan pernah menghubungimu lagi.

"Sulit aku hadapi situasi ini Tuhan, bantu aku untuk membangunkannya, bantu aku untuk melihat dia tersenyum kembali, kalaupun aku harus pergi dari kehidupannya, seperti yang keluarganya minta, aku rela, asalkan dia bangun."

Saat dimana harapan dan doaku tertuju untukmu, Tuhan membalas permintaanku dengan membangunkan kamu dari tidurmu. Kamu menghubungi aku dengan pesan yang terbata-bata, apa kamu ingat?. Pesan itu adalah pesan terindah yang pernah aku dapat dari kamu, seketika terasa borgol berat yang selama 3 hari merantai aku dan menimpaku, perlahan terlepas, air mata bahagia tidak terbendungkan lagi. Aku bahagia untuk kamu sayang, aku bahagia.

Tidak sedikitpun aku hiraukan tekanan dari keluargamu, karena kamu meminta aku untuk selalu membalas pesan dari kamu. Aku lakukan sayang, karena aku hanya menginginkan kamu sembuh. Aku rela dicaci maki orang lain asalkan imbalannya kamu bahagia, kamu sehat, aku rela.

Hari berikutnya kamu tanpa kabar, dan kondisi kamu kembali seperti semula lagi. Semakin cemas, semakin tidak karuan, jantung aku berdetak sangat kencang, tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Tidak lama dari itu terdengar bunyi hp dan aku mendapatkan pesan kalau kamu sudah pergi jauh, sangat jauh dan tak akan bisa kembali.

Hambar sudah perasaanku, rasanya raga ini sudah tidak mempunyai jiwa. Aku hanya menyayangi kamu, kalaupun harus berpisah kenapa harus seperti ini. Kenapa aku tidak bisa mengusap rambutmu, mencium keningmu, memelukmu untuk yang terakhir kalinya. Aku orang yang sangat mengecewakan buat kamu, karena aku tidak mengantarkanmu diperistirahatan terakhirmu.

Aku sayang kamu melebihi apapun.

  • view 82