cerpen muhamad nasrullah:

cerpen muhamad nasrullah:

muhamad nasrullah
Karya muhamad nasrullah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Desember 2017
cerpen muhamad nasrullah:

Labelo dengan Lembing

 

            Pada zaman dahulu di Lewo nuho wilayah dusun Duli Desa Serinuh ose karang, tinggal seorang pria sakti bernama Labelo besrta putranya Lagitang. Labelo sangat ditakuti oleh penduduk di sekitarnya,karena kesaktian yang dimilik melampaui semua orang di wilayah itu. Labelo tidak bersusah payah menempuh perjalanan jauh karena hanya selangkah saja ia berhasil menempuh jarak tujuh atau delapan kilo meter, selain itu, dia mencukupi segala kebutuhan hidupnya pada lembingnya yang ajaib. Apabila hendak makan ditancapkan lembing ketanah nasi serta lauk yang diinginkannya terpenuhi, apabila ingin memiliki pakaian mewah ditancapkan lembingnya dan keinginannya terpenuhi. Apabila berjalan menderulah angin kencang disertai hujan lebat Guntur dan halilintar sahut menyahut, dan jikalau Labelo marah akan terjadi tanah longsor di daerah itu, meninggalkan tebing serta jurang yang dalam tancapan lembingnya jikala dia beristirahat meninggalkan mata air yang tidak berkesudahan. Sumber air Sigakoker yang member minum penduduk desa Leworook, Tuakepa, Tanawahang, dan Lewoingu. Konon berasal dari tancapan lembing Labelo yang pertama.

Pada masa itu penduduk di wilayah itu amat jarang terlebih kaum wanita. Desa yang satu dengan yang lainnya berpuluhan kilometer jaraknya, manusia yang satu saling membunuh yang lain, hokum rimba berlaku bagi mereka, yang lemah akan lenyap dari muka bumi. Bagi Labelo sang raksasa yang sakti kebutuhan biologis tidak lagi dipedulikannya, namun bagi Lagitang putranya yang masih muda belia serta gaga perkasa kebutuhan biologis tetap diutamakannya.

Di Kebarek Namang kira-kira 5 kilo meter dari Lewo nuho tinggal dua orang wanita masing-masing bernama Mongang dan Gowok. Kedua wanita ini dijadikan pemuas nafsu birahi kaum pria di wilayah itu. Lagitang sang raksasa muda itu selalu bertandang di tempat kediaman kedua wanita itu. Pada suatu hari, Lagitang pergi mengunjungi mereka. Keduanya telah berusaha memuaskannya namun Lagitang belum juga surut nafsu birahinya.

Keduanya mengajaknya berjalan-jalan kesebuah sumber air bernama Waisemosak. Di tempat itu Lagitang menyuruh mereka meladeninya dan malang bagi Lagitang diamati dikala sedang bersetubuh dengan mereka. Kedua wanita itupun sangat takut, dan segera bersepakat untuk menguburkan Lagitang disitu, dan merahasiakannya kepada Labelo apabila ditanyai. Keduanya kembali kerumahnya dan berbuat seolah-olah tidak terjadi sesuatu.

Beberapa hari kemudian Labelo pergi mencari putranya yang tidak muncul di rumahnya. Dia pergi menuju Ibar menanyakan di sana namun penguhuni kampong Ibar berkata bahwa tidak melihat Lagitang, Labelo melanjutkan perjalanan menuju Kebarek Namang menemui Mongang danGowok, keduanya mengaku tidak melihat Lagitang, Labelo pergi menemui penghuni Lewoklisuk, Klisuk pun tidak melihat Lagitang, Labelo pergi ke Migu Ola.

Setibanya di sana, Migu Ola menceritakan tentang empat orang tamu yang datang di rumahnya beberapa hari yang lalu, mereka suku Lewomuda dan berdiam di Tobalewung. Migu Ola heran karena sang tamunya dapat menghabiskan semua hidangan (rengki dan lauk) yang memenuhi korke. Setelah mendengar informasi dari Migu Ola, Labelo berkesimpulan bahwa keempat pemuda pasti telah membunuh Lagitang. Labelo bergegas kembali ke Lewonuho. Dipersiapkan dirinya untuk melakukan perjalanan dari Lewonuho menuju Tobale wung untuk memusnakan Lewomuda.

Keesokan harinya Labelo berangkat dari rumahnya, ditancapkan lembing nyata tkala dia beristirahat maka keluarlah mata air Sigakoker di dekat kediaman Migu Ola. Jurang dan tebing menganga lebar dari Lewonuho sampai ke Sigakoker, kemudian dia menuju kearah timur, ditancapkan lembingnya pada peristirahatan kedua, munculah mata air Geligo, peristirahatan ketiga muncullah mata air bisu, perhentian keempat munculah mata air Waimatang, perhentian kelima munculah mata air Waimatang pito, perhentian keenam muncul mata air Muda Jedo, perhentian ketujuh muncul mata air Norek, perhentian kedelapan muncul mata air Waibelen, perhentian kesembilan mucuncullah mata air Waiema dan setibanaya di Roungklalak Labelo mengoyang-goyangkan tubuhnya terjadilah longsor hebat dan mengerihkan Tobalewung di bibir jurang dan tebing yang terjal, air mengalir deras dari kaki tebing.

Selanjutnya dia meneruskan perjalanan kearah selatan pada perhentian kesepuluh muculah mata air Waimatang, perhentian kesebelas muncul mata air Penula, perhentian keduabelas muncullah mata air Waiwua, perhentian ketigabelas muncul mata air Waimeang. Labelo pun letih dan beristirahat di kediaman seorang kenalannya bernama Moko Eye di dekat Waimeang.

Labelo kelihatan sangat puas dengan misi perjalanannya, dengan banga diceritrakannya kepada Moko Eye bahwa Lewomuda pembunuh putranya sudah tewas semuanya. “Baru   saja dua hari yang lalu Kumanireng datang menjemput Lewomuda dan kini mereka menetap di Mudajedo.”Mendengar itu Labelo sangat marah, ia berdiri mohon pamit kepada Moko Eye dan menuju Klouwolor kemudian Mudajedo. Setibanya di Klouwolor kedengarann olehnya kokok ayam, salak anjing, suara bocah menangis, kemarahannya pun makin menyala-nyala Lewomuda yang dicari-cari segera akan lenyap dari muka bumi. Karena matanya hanya memandang Lewomuda yang sedikit waktu lagi akan mendapat ganjaran darinya, Labelo melanggar Hea yang sedang berbaring beristirahat di jalan.

“Sampai hati tuan melanggaraku yang sedang berbaring. Matamu tidak digunakan untuk melihat aku seorang manusia yang lemah yang sedang beristirahat?”.Hea berkata dengan sinis.

“Maafkan aku Tuan aku tidak sengaja dan sungguh-sungguh tidak melihat tuan yang tengah beristirahat,” Labelo meminta maaf.

“Serahkan Lembingmu, daneng kau tidak boleh menjama Lewomuda. Mereka tidak berdosa. Putramu Lagitang dibunuh oleh kedua wanita sundal di dekat tempat kediaman Tuan”,Labelo terus saja memohon maaf namun Hea tidak mau memaafkannya.

“Karena engkau tidak menyelidiki kebenaran cerita temanmu dan merusakan dataran subur di wilayah ini serta menjadikannya tebing dan jurang serta longsor yang akan berulang longsor apabila terjadi hujan lebat dikemudian hari, engkau melakukan kesalahan besar terhadap bumi yang engkau diami,” kata Hea, “Aku menyumpahi engkau atas nama tanah yang kau pijak.”

Saat itu seolah-olah lenyaplah kesaktian sang raksasa ia pun tewas seketika. Lembing saktinya dimiliki Heanamun dikemudian hari lembing itu mendatangkan malapetaka bagi Hea serta keturunannya sampai saat ini yang hidup di desa Leworook dan Srinuho. Setelah Labelo meninggal Hea memanggil Meti Hoga/Kewuta Kebelen Raya desa Hokeng Bele untuk menguburkannya. Mereka menggali lubang kuburan, jenasah sang raksasa tidak sesuai ukuran kuburan, sebentarpanjang, sebentar pendek akhirnya mereka memutuskan untuk menggali sebuah lubang bulat dan besar kemudian membenamkannya jenasah Labelo. Tempat itu bernama Kobek di Desa Sejarah Hokeng Bele yang telah dilanda bencana air bah di beberapa abad silam yang menceraiberikan penduduk desa itu dan kini membentuk desa-desa di dalam wilayah kecamatanWulanggitang Larantuka danTanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, NTT.  

 

  • view 96