#kurinduITD-Kasih akan Menyatukan Sejuta Orang Dalam Kedamaian

Nar Narwati
Karya Nar Narwati Kategori Lainnya
dipublikasikan 30 Mei 2017
#kurinduITD-Kasih akan Menyatukan Sejuta Orang Dalam Kedamaian

Ada pepatah bijak yang mengatakan bahwa perbedaan merupakan suatu anugerah. Beruntunglah manusia karena telah dianugerahi begitu banyak perbedaan yang menciptakan keragaman dalam berbagai aspek kehidupannya. Ada bermacam bahasa, suku, budaya, hingga keyakinan yang telah meliputi kehidupan manusia sejak dulu kala. Ketika semua itu dapat berjalan beriringan dengan harmonis, tentu itulah yang dimaksud sebagai suatu anugerah.

Akan tetapi, tidak selamanya manusia dapat memandang perbedaan yang ada sebagai suatu anugerah. Banyaknya perbedaan yang mengelilingi manusia serta adanya kebutuhan untuk berkomunikasi, secara alami, mendorong manusia untuk saling berinteraksi, menemukan kesamaan dengan manusia lainnya, lalu menjadi kelompok-kelompok yang dipersatukan berdasarkan persamaan yang mereka miliki, baik itu kesamaan pola pikir, kesamaan suku, kesamaan minat, maupun kesamaan keyakinan.

Untaian budaya cermin keluhuran bangsa katanya, sudah cukup menjadi bekal tuk bersatu. Tapi justru menjadi potret dasar perbedaan. Indonesia sekarang menyedihkan, masyakaratnya sudah hilang kasih yang mempersatukan. Hilang semua keselarasan antar sesama. Pemimpin tidak dibolehkan jika tidak memiliki kulit, agama, suku yang sama. Apakah itu kebhenikaan Indonesia yang selalu menjadi lambang tinggi Negara Indonesia?

 

Sama halnya dengan sejarah perjalanan Bangsa  Indonesia saat ini yang tidak lepas dari kasus-kasus yang memecah belahkan nilai Kebhenikaan. Itu yang merupakan Landasan Bangsa yang selalu hidup dalam nilai toleransi yang tinggi, tapi saat ini mengalami banyak masalah. Terjadinya diskriminasi di berbagai golongan yang mengatasnamakan agama, gender dan suku. Mulai dari masa orde lama hingga ke orde baru, bangsa ini tidak luput dari diskiminasi yang menjadi sejarah panjang pemasalahan di Indonesia. Seolah nilai pancasila tidak lagi menjadi paduan hidup bangsa ini. kebhenikaan tidak menjamin perbeda yang ada. Petinggi-petinggi golongan tertentu yang berkuasa semakin berkuasa. Memakan golongan lain atasnamakan SARA.  Membenci yang tak ada batas, membedakan dan kemudian menimbulkan perbincangan hangat ribuan mulut dan ribuan tatapan mata. Di warung kopi bahkan di forum tertentu.

Kasus diskriminasi di Indonesia semakin menjadi trend masalah utama. Diskriminasi etnis terlihat nyata pada masa Orde Baru. Masyarakat keturunan Tionghoa menjadi sasaran diskriminasi dengan adanya larangan menjalankan keyakinan, melestarikan budaya—termasuk menggunakan nama dan bahasa asal Tionghoa—sulit mendapatkan Akta Kelahiran dan KTP, serta larangan dalam kegiatan politik.

Puncak diskriminasi tersebut adalah Kerusuhan Mei 1998 di mana warga Tionghoa di Indonesia (Medan, Jakarta, Solo, Surabaya, Lampung, dan tempat lain) secara serentak mengalami kekerasan fisik (penganiayaan, pembunuhan, dan pemerkosaan) dan perampasan materi. Di masa Reformasi, meski warga Tionghoa sudah bebas mengekspresikan budaya dan terlibat politik, namun diskriminasi terhadap etnis ini tidak berarti hilang sama sekali. Begitu pula diskriminasi terhadap etnis minoritas lainnya.

Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) tahun 2010 menunjukkan sentimen etnis ternyata tak sebesar sentimen agama. Dari survei LSI, hanya 7.5% publik Indonesia yang tidak bisa menerima bertetangga orang berbeda etnis, hanya 17.3% yang tidak bisa menerima jika warga dari etnis berbeda mendirikan tempat pertemuan atau mengadakan kegiatan di lingkungan sekitar, dan 21.3% yang tidak bisa menerima kalau kepala pemerintahan berasal dari orang yang berbeda etnis. (Sumber: Denny JA, Gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi).

Selain itu terjadi pula Kasus distriminasi perempuan kerap tidak disadari pelakunya. Namun, justru praktik diskriminasi ini yang paling luas dan mungkin paling sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Diskriminasi LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) adalah salah satu kelompok yang rentan terhadap tindakan diskriminasi. Diskriminasi Agama: Antara Sesama Penganut Agama, Diskriminasi Agama: Antara Penganut Agama Berbeda.

 

Dari kasus-kasus itu bisa dilihat betapa rentannya emosional manusia yang sudah tidak memiliki cinta kasih. Hanya karena agama, budaya dan  gender menjadi masalah besar. Cinta mungkin tidak akan kuat jika tidak mengasihi. Mengasihi sudah pasti mencintai. Mengasihi akan lebih luas artinya. Cikal bakal jika Indonesia saling mengasihi mungkin pasti damai. Mengasihi pada musuh dan suku, agama yang berbeda. Dalam agama Kristen, nilai mengasihi itu sangat tinggi. Ketika semua orang memiliki kasih, tidakan dirkriminasi yang memprihatikan ini  tidak akan terjadi. Karena nilai dari kasih itu tidak membedakan dalam bentuk apapun. Justru dengan memiliki kasih akan menutupi kesalahan, kebencian, dan kemegahan diri untuk menjadikan diri sama dan rata.

 

Mengasihi yang sesungguhnya adalah letak dasar kedamaian. Baik itu damai dalam hati sendiri, damai dengan orang lain, dan damai untuk lingkungan sosial. Ketika sudah damai tentu tidak ada motif membedakan. Indonesia perlu memiliki kasih yang sejati. Ketika semua memahami nilai kasih yang sesungguhnya maka Indonesia akan kembali damai, kembali mempersatukan bumi pertiwi dengan sapa senyum tanpa memandang adanya perbedaan. Kasih akan mengajarkan bagaimana kita memberi yang terbaik buat orang lain, baik itu membahagiakan, tidak merebut kebahagiaan orang lain dan membuka pintu hati untuk sebuah kasih. Kasih adalah suatu perasaan, tetapi kasih ini beda dengan CINTA, kasih lebih bersifat rasa kepedulian seorang insan tanpa ingin meminta imbalan atas apa yang telah dilakukan untuk yang dikasihinya.

 

Oleh karena itu setiap insan mau diri mereka disayangi. Bukan ditindas di negeri sendiri. Dibenci dan dikucil dari sekelompok organisasi tertentu, dan dibeda-bedakan. Ketika itu muncul disetiap para petinggi, pemimpin-peminpin organisasi tidak menutupi kemungkinan Indonesia akan hancur. Indonesia yang dikenal mata dunia merupakan negara yang toleran, negara yang taat akan hukum. Negara yang kaya dengan budayanya, akan tetapi tidak mampu mempersatukan perbedaan menjadi perdamain dan kesejahteraan rakyatnya. Karena Indonesia hilang rasa KASIH. Perlu diperbaiki kembali rasa diskriminasi yang telah terjadi, birlah terjadi. Yang terpenting untuk Indonesia ke depan adalah memperbaiki diri, kembali pada rasa persatuan yang saling memiliki. Karena dengan rasa sayang itu setiap insan dapat merasakan kebahagiaan yang hakiki. Apabila sifat kasih sayang mulai luntur dan sifat dendam, kebenciannya lebih besar maka akan menjanjikan kehancuran kepada sesuatu bangsa atau masyarakat.

Indonesia perlu KASIH untuk mendamaikan perseturuan yang ada. Untuk mengembalikan lara dan luka di pundak pertiwi, menghapus air mata bheta dan memperbaiki diri bhineka yang sempat terkoyak. Mempersatukan perbedaan dari Sabang samapi Merauke. Makna kasih begitu besar, kasih akan menyatukan satu orang, dua orang, atau bahkan sejuta orang dalam ruang lingkup kedamaian. Dan tujuan yang bisa saya artikan dari makna Kasih itu adalah diciptakan untuk membuat kita saling mengasihi karena dengan Kasih kita akan selalu berbuat yang terbaik baik itu hubungan antara kita  dengan Tuhan, manusia, alam dan makhluk hidup lainnya di dunia ini.

 

 

  • view 50