LAHIRNYA ANGKATAN PUISI ESAI: APA, BAGAIMANA, DAN MENGAPA?

Narudin Pituin
Karya Narudin Pituin Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 30 Januari 2018
LAHIRNYA ANGKATAN PUISI ESAI: APA, BAGAIMANA, DAN MENGAPA?

 

“Don’t tell me the moon is shining; show me the glint of light on broken glass.”

~Anton Chekhov



Pendahuluan

Siapa yang tak kenal Denny JA dengan puisi esainya yang telah mengguncang dunia sastra Indonesia selama kurang lebih lima tahun terakhir ini? Siapa kira ia telah turut melahirkan sebuah angkatan sastra, yakni Angkatan Puisi Esai?

Dalam keterangan pers-nya di Jakarta, Jumat, 26 Januari 2018, Denny JA menyebutkan bahwa tahun 2018 menjadi tonggak kelahiran angkatan baru puisi esai, ditandai penerbitan 34 buku puisi dari seluruh provinsi di Indonesia.

Tahun 2018 ini akan lekas terbit 34 buku puisi esai di 34 provinsi seluruh Indonesia. Diketahui bahwa puisi esai itu melibatkan 170 orang dari pelbagai kalangan: penyair, penulis, aktivis, peneliti, dan jurnalis dari Aceh sampai Papua.

Sekitar 170 orang itu menghadirkan 5 ciri yang seragam, yaitu pertama, menampilkan fakta dan fiksi mengenai kehidupan sosial. Kedua, setiap puisi dari 170 orang tersebut mengandung 2000 kata hingga mencapai 10 halaman.

Ketiga, 170 puisi minimal berisi 10 catatan kaki seperti karya ilmiah, menyuguhkan peristiwa sosial (events) sebagai kisah nyata (true story), sumber informasi dapat dilacak serta ada riset. Keempat, 170 puisi tersebut bagaikan drama atau cerpen yang dipuisikan.

Kelima, semua puisi lahir pada satu momen yang sama sebagai tanda sebuah masa karya generasi sastra. Tambahan pula, kemunculan sejumlah karya tersebut (170 puisi) telah menjadi magnet komunitas sastra yang pro dan yang kontra melalui pandangan para kritikus, komentator, serta analis.

Apa, Bagaimana, dan Mengapa Puisi Esai?

Satu pertanyaan yang mendesak saat ini: Apakah benar telah lahir Angkatan Puisi Esai mulai tahun 2018 ini: apa, bagaimana, dan mengapa?

Secara ontologis (what, apa), seperti telah dikemukakan di atas bahwa pada tahun 2018 ini sungguh telah terjadi sebuah Gerakan Puisi Esai Nasional yang dikerjakan oleh Denny JA, ditandai dengan terbitnya 34 buku puisi esai dari seluruh provinsi di Indonesia, masing-masing terdiri dari 5 penulis puisi esai. Ini suatu gerakan sastra nasional yang besar.

Dan lagi, sudah terbit pula sekitar 40 buku puisi esai sejak tahun 2012 hingga tahun 2017 (sekitar 5 tahun). Selama itu pula telah lahir total 70 buku puisi esai, 250 penulis, di seluruh provinsi tersebut.

Mengimbangi hal itu semua, esai para kritikus dalam negeri telah dibukukan dalam buku berjudul Puisi Esai: Kemungkinan Baru Puisi Indonesia. Jakarta: PT Jurnal Sajak Indonesia, 2013, yang dieditori oleh penyair Acep Zamzam Noor.

Di dalam buku kumpulan esai itu terdapat legitimasi tertentu secara apresiatif dari para pakar sastra Indonesia, di antaranya, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Ignas Kleden. Lagi pula, pembahasan perihal puisi esai itu pun sempat diselenggarakan di luar negeri, pada acara Temu Sastrawan Asia Tenggara 2017, Festival Penulis Sabah Ke-6 2017, dengan menghadirkan para pembicara dari negara Asia Tenggara, seperti Datuk Jasni Matlani (Sabah, Malaysia), Prof. Madya Ampuan Dr. Haji Brahmin bin Ampuan Haji Tengah (Brunei Darussalam), Narudin (Indonesia), Jamal D. Rahman (Indonesia), dan Dr. Phaosan Jehwae (Thailand).

Makalah-makalah seminar di Sabah, Malaysia, tersebut dapat pula dibaca dalam buku berjudul Isu Sosial dalam Puisi: Temu Sastrawan Asia Tenggara soal 24 Buku Puisi Denny JA, Sabah, Malaysia. Jakarta: inspirasi.co, 2017, dieditori oleh Anick HT.

Selanjutnya setelah mengungkap puisi esai secara ontologis (what, apa), perlu diungkapkan segi aksiologis (why, mengapa) puisi esai. Tatkala berbicara soal segi aksiologis, tentu saja takkan lepas dari segi epistemologis (how, bagaimana) puisi esai itu.

Secara ringkas, frasa kata benda “puisi esai” merupakan frasa kata benda atributif, yaitu “kata benda + kata benda”, seperti frasa kata benda “anjing hutan” (“anjing + hutan”). Puisi esai sama dengan “puisi (yang bercitarasa) esai” sebab bukan esai utuh, hanya catatan kaki sebagai kenyataan sosial (fakta) bagi puisi (fiksi).

Jadi, catatan kaki sebagai berita (fakta); puisi sebagai cerita (fiksi). Cerita ialah getaran batin dari berita. Fakta sosial dalam catatan kaki itu sebagai sebab; puisi sebagai akibat dari fakta sosial itu. Secara semiotik, itu disebut hubungan indeksikal (Narudin, dkk., 2017).

Fakta sosial itulah realitas; puisi itulah imajinasi. Perkawinan antara realitas dan imajinasi niscaya akan menggetarkan batin sekaligus mengungkapkan kenyataan sosial yang telah dan sedang berlangsung hingga kini.

Oleh sebab itu, sekali lagi, puisi esai harus dipahami sebagai “puisi (yang bercitarasa) esai” atau “cerpen atau drama yang dipuisikan”. Secara tematik pun, puisi esai mengungkapkan isu-isu sosial yang bersifat kontroversial, misalnya, perkara diskriminasi etnis, diskriminasi paham agama, diskriminasi terhadap gender, diskriminasi terhadap agama (Denny JA, [2012], dalam Narudin [2017: 5-59]), dan isu-isu lain yang belum terungkap dari seluruh batin Indonesia yang kaya secara multikultural ini.

Oleh karena itu, dari 170 puisi esai itu niscaya akan menggali kekayaan nilai-nilai budaya atau warna lokal (local color) yang masih tersembunyi di semua provinsi, yaitu 34 provinsi dengan segala keluh-kesah zamannya.

Alhasil, 170 puisi esai yang beraneka tema itu pastilah akan merekam sejarah suka-duka zamannya sebagai fiksi historis (historical fiction) yang dapat dijadikan sumber informasi lengkap perihal 34 batin Indonesia oleh 170 penulis dari pelbagai provinsi berikut realitas sosial beserta getaran batinnya masing-masing setelah menafsirkan realitas faktual di sekeliling kehidupan nyata mereka.

Catatan yang bersifat sosial-kultural-historis-politis ini—yang semua tercatat dalam 170 puisi esai—merupakan sumbangan karya sastra yang besar pada saat ini, dimulai tahun 2018 ini.

Kini, secara aksiologis (why), mengapa puisi esai? Apa landasan sosialnya (social origin)? Sejak 30 tahun terakhir ini puisi mandek. Puisi semakin terasing dari dinamika ruang publik. Puisi semakin tak dibaca karena penyairnya juga semakin tidak menuliskan puisi yang menyentuh nasib hidup khalayak luas.

Sementara itu, di bidang hidup lain telah terjadi inovasi, penyegaran. Oleh sebab itu, suasana ini merupakan lahan subur bagi datangnya gagasan baru puisi.

Apalagi, ia disertai kemampuan memasarkannya. Tak tertinggal kemampuan membangun jaringan penulis. Termasuk kesediaan dana. Pada taraf pemikiran demikianlah, Denny JA dan puisi esai-nya hadir dalam momen yang tepat. Ia pun jadi menggelegar, terutama dengan Gerakan Puisi Esai Nasional-nya pada awal tahun 2018 ini.

Seperti jamur tumbuh cepat di tempat lembap, pro dan kontra terhadap Gerakan Puisi Esai Nasional ini telah menuai gegap gempita, riuh-rendah melalui jargon-jargon klise “petisi anti-puisi esai”, “skandal puisi esai”, termasuk tahun-tahun sebelumnya terdapat gerakan “anti-pembodohan puisi esai” karena puisi esai dan tokoh Denny JA sebagai tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh (Jamal D. Rahman, dkk., 2014).

Hal ini semua menunjukkan betapa Gerakan Puisi Esai Nasional ini telah memikat seluruh perhatian pelbagai kalangan di tanah air, tak hanya para sastrawan, melainkan pula para kalangan dari aneka profesi secara nasional.

Jelas sudah, dari bukti-bukti ontologis (what), epistemologis (how), dan aksiologis (why), maka sudah lahir suatu angkatan baru sastra Indonesia. Saya ikrarkan: Angkatan Puisi Esai!

Angkatan Puisi Esai ini didukung oleh lebih dari 170 tokoh yang layak disebut sebagai “founding fathers and mothers”. Sebagian besar dari mereka menulis puisi esai. Sebagian lagi menjadi akademisi yang turut menumbuh-kembangkan puisi esai.

Berikut sekadar menyebut beberapa nama—saking banyaknya tak mungkin dituliskan semua di sini—yang ikut menjadi generasi pendiri Angkatan Puisi Esai, terbentang dari Sumatera, Jawa hingga Bali, Sulawesi, Kalimantan sampai Papua.

Yang menulis puisi esai dari Pulau Sumatera antara lain: Fatin Hamama, D. Kemalawati, Bambang Irawan, Anwar Putra Bayu, Anto Narasoma, Heri Mulyadi, Endri Kalianda, Isbedy Stiawan, yang disebut sebagai Paus Sastra Lampung, dan banyak lagi, akan tercantum dalam buku.

Dari pulau Jawa hingga Bali, antara lain: Ahmad Gaus, Saefuddin Simon, Peri Sandi Huizche, Rissa Churria, Anick HT, Exan Zen, Satrio Arismunandar, Elza Peldi Taher, Monica Anggi Puspita, Handri TM, Gunoto Saparie, Sulis Bambang, Kamerad Kanjeng, Isti Nugroho, Genthong HSA, Muhammad Tahir Alwi, Ni Made Dwi Ari Jayanti, dan banyak lagi, akan tercantum dalam buku.

Ada 25 tokoh generasi pendiri dari 5 provinsi di Pulau Kalimantan, antara lain: Muhammad Thobroni, Urotul Aliyah, Pradono, Sarifuddin Kojeh. Hadir pula 30 tokoh pendiri puisi esai di Pulau Sulawesi, antara lain: Uniawati, Wa Ode Nur Iman, Hamri Manoppo, Pitres Sombowadile, Syuman Saeha, Subriadi, Idwar Anwar, dan banyak lagi, akan tercantum dalam buku.

Di Papua dan Papua Barat, hadir 10 tokoh generasi pendiri puisi esai, antara lain: FX Purnomo, Ida Iriyanti, Alfonsina Samber, Rasid Woretma, Wimpi Moom, dan nama-nama lainnya akan tercantum di buku.

Tak seluruh generasi pendiri puisi esai menulis puisi esai. Terdapat pula para akademisi, penyair, kritikus, dan penulis yang ikut menganalisis dan mengembangkannya. Sebut saja misalnya, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, bersama Jurnal Sajak, selama 3 tahun tekun menyelenggarakan Lomba Puisi Esai.

Dari tangan merekalah lahir sekitar 16 buku puisi esai. Itu hasil saringan dari total ribuan puisi esai yang dikirim dari Aceh sampai Papua, sejak tahun 2013-2016.

Tak lupa, Fatin Hamama dapat disebut sebagai “queen maker” bagi lahirnya para pendiri generasi puisi esai. Ia bergandengan tangan bersama Nia Samsihono, Sastri Sunarti Sweeney, dan Monica Anggi Puspita.

Mereka disebut oleh Denny JA secara antusias sebagai “4 dara”. Di tangan 4 dara ini segera tersaji 34 buku puisi esai dari 34 provinsi. Atas nama pribadi, tanpa melibatkan lembaga negara mana pun, tanpa dana sepersen pun dari APBN, APBD, tanpa bantuan dana asing atau perusahaan rokok, mereka bahu-membahu membuat karya kolosal.

Ini sepenuhnya kerja civil society: “dari rakyat oleh rakyat, dan untuk rakyat”.

Apabila dilacak nama dan latar belakang para pendiri Angkatan Puisi Esai, mereka sangat beragam baik penyair maupun non-penyair, aneka profesi.

Ini sesuai dengan slogan puisi esai, yakni: “yang bukan penyair boleh ambil bagian”. Dengan demikian, Gerakan Puisi Esai Nasional ini ternyata bukan semata-mata gairah individual Denny JA, tetapi juga merupakan kerja kolosal yang menyita ruang, waktu, orang, dan dana yang besar.

Menimbang Lagi Sejarah Angkatan

Ajip Rosidi membeberkan pembabakan waktu sejarah sastra Indonesia sebagai berikut:

I. Masa Kelahiran (1900—1945), dengan perincian pembagiannya sebagai berikut: periode awal hingga 1933, periode 1933-1942, periode 1942-1945, dan

II. Masa Perkembangan (1945—sekarang), dengan perincian pembagiannya sebagai berikut: periode 1945-1953, periode 1953-1961, periode 1961-sekarang.

Ajip Rosidi (2013: 23-24) menyatakan bahwa dalam pembabakan ini digunakan istilah “periode” bukan “angkatan”. Akan tetapi, dalam esai di sini tetap digunakan istilah “angkatan” demi mempermudah pemahaman kolektif kita.

Masa Kelahiran tersebut menurut Ajip Rosidi diramaikan oleh Balai Pustaka (sekitar tahun 1920-an) dan roman-romannya, terutama dengan tokoh-tokoh sastra, Merari Siregar, Marah Rusli, Abdul Muis, M. Kasim, dan lain-lain.

Kemudian diramaikan pula oleh Pujangga Baru (sekitar tahun 1930-an) dengan puisi-puisinya, terutama dengan tokoh-tokoh sastra, Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana, dan lain-lain, lalu hadirlah pada tahun 1945-1953, tokoh-tokoh sastra seperti Chairil Anwar, Idrus, Mochtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, dan lain-lain.

Chairil Anwar disebut sebagai pembaharu puisi; Idrus disebut sebagai pembaharu prosa oleh H.B. Jassin (1948, 2010: iii). Kemudian sekitar tahun 1953-1961, hadirlah tokoh-tokoh sastra semisal A.A. Navis, Iwan Simatupang, Subagio Sastrowardoyo, W.S. Rendra, sampai setelah masa tahun 1961, muncullah tokoh-tokoh sastra seperti Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Saini K.M., Sapardi Djoko Damono, namun Ajip Rosidi tak menguraikan tokoh sastra Sutardji Calzoum Bachri secara khusus.

Barangkali buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia karya Ajip Rosidi itu belum direvisi secara baik sejak cetakan pertama pada tahun 1969, edisi Binacipta—bahkan edisi pertama terbitan Pustaka Jaya (2013) pun belum menguraikan sosok Sutardji Calzoum Bachri yang heboh dengan puisi konkret dan puisi mantra-nya itu.

Sebagai bandingan, dalam buku Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, karya Yudiono K.S. (2010), Yudiono menambahkan periode Masa Pemapanan (1965—1998), kemudian Masa Pembebasan (1998—sekarang).

Menurut Yudiono (2010: 277), masa pembebasan ialah dengan ciri sastra pembebasan. Sastra pembebasan sebutlah sebagai sastra pasca-reformasi sebagai salah satu jalan pembebasan terhadap berbagai kekangan dan pembatasan yang terjadi di akhir Orde Baru (tahun 1990-an).

Secara lebih ringkas dan lebih spesifik, maka genre baru “puisi esai” termasuk jenis sastra pembebasan itu, yang tidak terkekang oleh belenggu politis dan penjara kaku logika sastra yang telah mapan, seperti bersikukuh harus mempertahankan bahwa “puisi” dan “esai” tak dapat dikawinkan secara sewenang-wenang.

Denny JA, dalam hal ini, hadir meneruskan tradisi barbar puitis sejak Amir Hamzah yang masih malu-malu, Chairil Anwar yang superberani, Sutardji Calzoum Bachri yang superdestruktif, sampai Denny JA yang super-khaotik (superkacau). Tidak seperti keterampilan Amir Hamzah yang destruktif terhadap puisi lama (pantun dan syair), tidak seperti Chairil Anwar yang lebih destruktif lagi terhadap puisi lama tersebut dengan sekian pemadatan sintaksis, inovasi dalam konvensi (Sapardi Djoko Damono, 1999: 54), berikut daya pengucapan yang ekspresionistik.

Denny JA tidak seperti Sutardji Calzoum Bachri yang mengotak-atik kata-kata agar kembali menjadi mantra secara ajaib dengan cara melanggar kaidah tata bahasa normatif, melanggar prinsip dasar semiotik Saussurean (penanda—petanda) (Ferdinand de Saussure, 1988).

Denny JA justru menggabungkan puisi dan esai secara khaotik (istilah posmodern untuk realitas tekstual atau realitas situasional) dengan dalih puisi (yang bercitarasa) esai. Esai ialah catatan kaki sebagai fakta sosial; puisi ialah fiksi sebagai getaran batin dari fakta sosial tersebut.

Puisi esai Denny JA berbeda dari puisi naratif W.S. Rendra, Taufiq Ismail, berbeda dari puisi epik Ajip Rosidi, berbeda dari puisi prosa lirik Linus Suryadi AG. Singkatnya, sebab dalam puisi esai segala hal yang bersifat fiksional ada dalam tubuh puisi harus memiliki latar belakang fakta sosialnya dalam catatan kaki sehingga terjalinlah perpaduan subjektivitas dan objektivitas dalam satu wadah, yakni puisi esai (Agus R. Sarjono dalam Acep Zamzam Noor [editor], 2013: 338-339).

Di Mana Sisi Baru Puisi Esai?

Setelah membahas apa, bagaimana, dan mengapa puisi esai sebagai bukti kuat telah lahirnya Angkatan Puisi Esai, sudah ditimbang pula kedudukan puisi esai dalam rantai sejarah angkatan sastra di Indonesia.

Kini ada baiknya meninjau secara selayang pandang tentang di mana sisi baru puisi esai agar keragu-raguan terhadap puisi esai tak lagi menjadi hantu mimpi yang paling mengerikan.

Di bawah ini diuraikan 3 hal kebaruan dalam puisi esai:

Pertama, puisi esai, seperti telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya secara panjang lebar, merupakan perpaduan mencengangkan dari kata “puisi” dan kata “esai”. Puisi dan esai sudah punya kamar damai masing-masing.

Tatkala dikawinkan oleh Denny JA secara mesra luar biasa, maka terbentuklah frasa kata benda aneh (idiosinkratik), yaitu “puisi esai”. Selintas dipandang tentu saja mengusik kemapanan ruang sastra selama ini bahwa puisi dan esai punya ruang nyaman masing-masing.

Padahal, secara posmodern, “puisi esai” merupakan bagian dari gejala aleatoris yang sah apabila manifesto atau kredo (what is) dari puisi esai itu dapat dipertanggungjawabkan.

Secara lengkap, silakan baca kembali uraian tentang puisi esai dari segi epistemologis di atas. Daya kreatif dan daya inovatif yang telah dikerahkan oleh Denny JA bersifat, sekali lagi, “idiosinkratik-aleatoris”—aneh plus random.

Sisi ini dapat menjadi bagian dari perkembangan intelektual dari seorang penemu atau pemikir andal. Oleh sebab itu, muara dari pemikiran idiosinkratik-aleatoris Denny JA jatuh kepada istilah “puisi esai” dengan aposisi: “puisi (yang bercitarasa) esai”. Klausa relatif yang bersifat aposisional di dalam tanda kurung itulah segi kreatif-inovatif seorang pemikir dekonstruktif dalam isme Posmodern zaman kini (zaman now). Inilah bukti kebaruan pertama.

Kedua, tinjauan secara semiotik untuk puisi esai, yakni mengenai hal indeks atau relasi indeksikal (Aart van Zoest dalam Narudin, dkk., 2017). Sejarah puisi membuktikan bahwa puisi selama ini sebagai sebab dari akibat catatan kaki, sebagai keterangan hal-hal yang dibutuhkan untuk memperjelas kata, istilah, atau rujukan tertentu di dalam puisi.

Puisi (sebab); catatan kaki (akibat). Berbeda halnya dengan puisi esai. Dalam puisi esai, justru terbalik, sebut saja “indeks terbalik”: catatan kaki (sebab); puisi (akibat). Apinya ialah catatan kaki (fakta sosial), sedangkan asapnya ialah puisi (fiksi). Inilah bukti kebaruan kedua.

Ketiga, tinjauan secara sosiologis-historis. Selama ini sejarah puisi membuktikan bahwa catatan kaki bukan sebagai catatan utama dari puisi, bahkan sampai taraf tertentu dapat diabaikan begitu saja setelah puisi itu selesai dibaca.

Berbeda halnya dengan puisi esai. Catatan kaki sangat sentral (faktual). Sementara itu, puisi hanya bagian periferal (fiksional). Karena catatan kaki itu berisi hasil riset, data-data utama, rujukan penting, keterangan-keterangan urgen, dan sebangsanya, yang bersifat aktual, maka jelas, catatan-catatan kaki itu bukan sekadar hiasan belaka (ornamentasi), tetapi juga sebagai catatan sosiologis dan catatan historis yang hakiki wataknya (esensialitas).

Oleh sebab itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa seluruh puisi esai yang berjumlah 170 buah yang ditulis oleh 170 penulis aneka profesi dari 34 provinsi di negara Indonesia secara holistik dibutuhkan oleh kaum sosiolog, kaum sejarawan, kaum budayawan (kulturalis), kaum sastrawan (realis), dan sebangsanya demi bahan kajian atau penelitian lebih lanjut secara lebih ilmiah. Inilah bukti kebaruan ketiga.

Dengan demikian sudah jelas, tiga kebaruan di atas menguatkan kedudukan puisi esai sebagai genre sastra baru di Indonesia dan Gerakan Puisi Esai Nasional ini menandakan (sign) sudah lahirnya Angkatan Puisi Esai.

Penutup

Sudah jelas secara ontologis (what), epistemologis (how), dan aksiologis (why), bahwa puisi esai ialah cerpen atau drama yang dipuisikan atau puisi (yang bercitarasa) esai.

Secara simpel, kontribusi Denny JA terhadap perkembangan sejarah puisi Indonesia ialah Denny JA sudah berhasil memberikan keleluasaan bagi siapa pun agar dapat menulis puisi, fiksi, dan esai sekaligus dalam satu medium: puisi esai.

Penyair akan kian mahir, prosais akan kian necis, dan esais akan kian sistematis. Siapa pun boleh ambil bagian menulis puisi esai agar membawa puisi ke tengah gelanggang sesuai dengan fakta sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Agar puisi lebih bisa dibunyikan.

Akhirnya, sungguh tak berlebihan jika dikatakan mulai awal tahun 2018 ini, dengan bukti Gerakan Puisi Esai Nasional di 34 provinsi, oleh 170 penulis puisi esai dari pelbagai kalangan baik penyair maupun non-penyair, telah lahir sebuah angkatan baru: Angkatan Puisi Esai!

*

Dawpilar, akhir Januari 2018

 

DAFTAR PUSTAKA

Damono, Sapardi Djoko. 1999. Sihir Rendra: Permainan Makna. Jakarta: Pustaka Firdaus.

HT, Anick (editor). 2017. Isu Sosial dalam Puisi: Temu Sastrawan Asia Tenggara soal 24 Buku Puisi Denny J.A., Sabah, Malaysia. Jakarta: inspirasi.co.

Idrus. 1948. Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (cetakan ke-27, 2010). Jakarta: Balai Pustaka.

JA, Denny. 2012. Atas Nama Cinta: Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta yang Menggetarkan Hati. Jakarta: renebook.

K.S., Yudiono. 2010. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Narudin (editor), dkk. (Chye Retty Isnendes, Toyidin). 2017. Teori Sastra Kontemporer Indonesia: Formalisme, Strukturalisme, dan Semiotika. Bandung: Angkasa.

Narudin. 2017. Membawa Puisi ke Tengah Gelanggang: Jejak dan Karya Denny JA. Jakarta: PT Cerah Budaya Indonesia.

Noor, Acep Zamzam (Editor). 2013. Puisi Esai: Kemungkinan Baru Puisi Indonesia. Jakarta: PT Jurnal Sajak Indonesia.

Rahman, Jamal D., dkk. 2014. 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Jakarta: KPG.

Rosidi, Ajip. 2013. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (cetakan ke-1, 1969, Binacipta). Jakarta: Pustaka Jaya.

Saussure, Ferdinand de. 1988. Pengantar Linguistik Umum (terjemahan Rahayu S. Hidayat dari buku berjudul Cours de Linguistique Générale). Yogyakarta: UGM.

_

  • view 488