Yang Terbaik

Dina Juwita
Karya Dina Juwita Kategori Renungan
dipublikasikan 28 September 2017
Yang Terbaik

Sumber Thumbnail: https://financesonline.com/uploads/2015/02/taxes-accounting-business.jpg

Waktu jaman saya masih pakai rok biru dan rok abu-abu, ada anggapan masuk sekolah negeri itu prestisius dan masuk sekolah swasta itu nggak banget (ya kecuali kalau swastanya elit). Mungkin karena masuk sekolah negeri kan persaingannya ketat dan nggak semua orang bisa keterima. Anggapan itu mungkin muncul karena di kota di mana saya tinggal, SMA Negeri itu cuma ada 27, MA Negeri cuma ada 2, dan SMK Negeri itu cuma ada 15.

Waktu saya masih pakai rok biru navy, guru-guru berharap banget semua anak-anaknya bisa masuk negeri. Jangan sampai nggak keterima. Karena itulah, waktu itu, setiap hari ada pemantapan di jam super pagi, kalau nggak salah mulai jam 6 pagi sampai jam 7 atau 8, yang pasti pagi banget. Dan beberapa bulan setelahnya, ada perubahan kelas sesuai ranking TO UN di sekolah.

Tapi, bahkan setelah semua itu, saya dapat hasil UN yang nggak memuaskan banget. Malahan, dengan nilai segitu, saya nggak tahu bakalan keterima di mana. Karena bahkan, SMA Negeri cluster tiga memiliki batas passing grade lebih tinggi dari nilai yang saya dapat. Keinginan saya untuk belajar RPL/TKJ/Multimedia/Broadcasting juga tidak bisa terwujud karena banyak sekali halangannya (nilai tidak cukup, tidak dapat izin orang tua, jarak sekolah yang terlalu jauh). Tapi, mungkin, itulah definisi nggak jodoh. Pada akhirnya, saya mendaftar di SMK swasta dengan jurusan Akuntansi. Ikut-ikutan teman (yang satu ini pelajaran berharga banget buat saya untuk kedepannya nggak pernah mau ikut-ikutan arus lagi).

Kebenarannya adalah: saya nggak suka sesuatu yang berkaitan dengan bisnis-bisnisan. Tapi, saya sudah terlanjur ada di jurusan Akuntansi. Saat itu, saya berpikir hidup saya bakalan sangat nggak menyenangkan dan menyedihkan. Tapi, pada kenyataannya ternyata nggak. Bahkan berada disana adalah salah satu hal yang paling membahagiakan di hidup saya, it was one of the best time of my life. Walaupun memang, berada disana sangat sulit buat saya, tapi disanalah saya berkembang.

Tahun pertama selalu sulit buat saya. Saya harus bertahan dan beradaptasi; saya haruss belajar apa yang nggak saya suka, harus menyesuaikan diri dengan jadwal sekolah yang berbeda banget waktu saya masih SMP, harus menyesuaikan diri dengan teman-teman baru yang sifat dan karakternya berbeda banget, yang menurut saya sangat ngeselin(sekedar informasi, saya tidak sekelas dengan teman-teman dekat saya waktu SMP), dan harus berusaha menghadapi mood-swing saya sendiri.

Dan, bukan tanpa alasan Tuhan inginnya saya ada disana. Berada disana kenyataannya merupakan suatu ‘perbaikan’ buat saya. Saya yang sewaktu SMP nggak pernah sholat, sedikit-sedikit mulai suka sholat. Mungkin awalnya karena ada absen sholat untuk mata pelajaran agama, tapi saat absen sholat itu ternyata nggak begitu berpengaruh buat nilai, saya tetap menjalankan ibadah. Hal itu mungkin karena suasana disana mendukung sekali. Hampir semua orang di kelas rajin sholat dan kabar baiknya, sholat bisa dilakukan kapan saja, bahkan jika guru sedang mengajar. Bahkan sholat dhuha juga bisa!

Selain itu, sebelum belajar, setiap kelas juga wajib membaca al-Quran. Di sana, di sekolah itu, sekolah yang awalnya saya nggak mau, beribadah sangat mudah dan dipermudah. Yaa walaupun memang terkadang disalahgunakan buat jajan ke kantin hehe. (Biasanya setelah sholat, jajan ke kantin atau sholat di waktu pelajaran yang ngebosenin, pas lagi males belajar di kelas). Dan setiap bulan ramadhan, selalu ada pesantren kilat selama beberapa waktu di Mesjid Raya (karena jarak sekolah ke alun-alun kota itu deket banget) dan di pesantren kilat itu isinya memang beribadah banget. Mendengarkan ceramah, baca al-Quran bareng, dan sebagainya.

Selanjutnya soal teman-teman. Teman-teman yang saya anggap alay, nyebelin, dan lain sebagainya mulai terlihat sungguh-sungguh gimana orangnya. Kelas yang nggak pernah berubah, selama tiga tahun saya sekelas dengan orang yang itu-itu aja, sebangku dengan yang itu-itu aja, membuat ‘wajah-wajah asli’ mereka . Ternyata, teman-temanku itu banyak yang baik hati dan nggak pilih-pilih teman.

Kelas itu, Keluarga Sepuluh (yang nantinya 11 dan 12) Akuntansi 2 (Spada Familias), adalah kelas terbaik sepanjang hidup saya. Walaupun masih geng-geng-an (berkelompok dengan itu-itu aja), tapi kami bisa berbaur satu sama lain, bisa saling ngobrol, saling minta bantuan dan saling ngasih bantuan satu sama lain. Yaaa, walaupun nggak dipungkiri, banyak konflik yang terjadi di kelas yang bisa sampai bikin heboh satu kelas (karena lihat dua orang atau lebih saling teriak, lempar sepatu, dan sebagainya), tapi nantinya damai itu ada lagi. Nantinya, konflik-konflik itu bakal jadi bahan ejekan sekelas.

Di Spada Famillias, walaupun kelas nggak pernah berubah, tapi susunan kelas seperti Ketua Murid dan lain-lain selalu berubah. Dan, perubahan itu selalu seenak jidat. Di kelas 12, saya yang pendiam, dipilih jadi wakil KM. Kurang gila apa lagi? Tapi belakangan saya mengerti, orang-orang di Spada Famillias, nggak mau cuma orang-orang itu saja yang berkembang. Dengan cara seperti itu, memilih seenak jidat, kami membuat satu sama lain berkembang.

Spada famillias memuat orang-orang menakjubkan! Ada yang alay tapi baik banget, ada yang suka bisnis, ada yang otaknya ngeres tapi suka bikin orang lain ketawa, ada yang judes tapi ternyata baik, ada yang muslimah tapi rada-rada gila kelakuannya, ada yang narsis abis, ada yang kalem berjiwa keputerian, ada yang pinter kesayangan banyak guru, dan lain sebagainya.

Dalam hal pelajaran pun, saya sedikit-sedikit menunjukkan perubahan yang baik. Jika waktu kelas 10 saya masih nangis-nangis karena nggak bisa dan selalu merasa pusing, dan kelas 11 saya sering kena remedial (yang nilainya lebih jelek karena soalnya lebih susah), di kelas 12 saya mulai berusaha berkali-kali lipat. Bertanya sampai mengerti ke orang-orang yang pintar, berusaha lebih teliti, berusaha tahu tempat yang paling sering keliru dalam proses perhitungannya, berusaha mengingat di luar kepala golongan akun-akun, akun apa saja yang ada di laporan cash-flow, dan lain sebagainya. Mungkin usaha ini juga terjadi karena didorong ketakutan menghadapi Ujian Kompetensi. Saya nggak mau nyontek karena nyontek di pelajaran Akuntansi itu repot (bayangkan harus bisik-bisik angka ratusan ribu, jutaan, atau milyaran). Saya juga nggak mau nggak bisa (bisa-bisa banyak yang nggak terselesaikan).

Makannya, saya berusaha keras mengerti seutuhnya semua hitung-hitungan itu. Dengan motivasi: yuk yang semangat belajarnya, nanti udah nggak akan ngitung lagi (karena mau hijrah ke sastra), saya juga semakin semangat menghadapi hitungan tanpa henti di SMK tersebut. Pada akhirnya, saya berhasil lulus dengan nilai yang (menurut saya) memuaskan dan berhasil lolos SBMPTN ke jurusan yang saya mau.

Saya nggak tahu jika saya diterima sekolah di negeri, atau di jurusan yang saya mau, apakah saya bakalan tetap kembali menjalankan sholat, atau berusaha keras dalam hal belajar, atau dengan semangatnya belajar materi SBMPTN yang ‘asing’? Apakah saya bakalan punya teman-teman yang membawa pada kebaikan? Apakah semua yang terjadi di hidup saya selama saya di SMK swasta itu, akan terjadi juga jika saya ditakdirkan belajar di sekolah negeri? Atau di jurusan yang saya mau?

Atau… apa yang terjadi di hidup saya waktu itu hanya akan terjadi karena saya ada di sana? Di sekolah swasta dengan jurusan yang tidak saya suka?

Terus saya sadar. Ternyata benar, “…boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Ternyata, masuk sekolah swasta dengan jurusan yang nggak saya minati tidak membuat kehidupan saya sial, seperti di neraka, nggak banget, dan hal buruk-buruk lainnya. Benar, saya hampir ‘gila’ dengan pelajaran hitungan yang banyak, tapi kabar baiknya, diri saya sendiri dan kehidupan saya menjadi lebih baik lagi.

Ternyata, apa yang saya mau belum tentu yang terbaik buat saya dan apa yang terbaik buat saya, saya nggak pernah tahu.

Ternyata hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik buat saya.

Ternyata hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik buat kita.

  • view 36