Diskriminasi terhadap wanita yang belum menikah dan belum memiliki anak

Nandini Parahita
Karya Nandini Parahita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Oktober 2016
Diskriminasi terhadap wanita yang belum menikah dan belum memiliki anak

Melalui tulisan ini saya ingin menceritakan tentang pengalaman pribadi saya di usia saya yang sebenarnya sudah pantas menikah ini. Saya bekerja di kantor dimana hampir seluruh karyawan sudah berstatus menikah dan memiliki anak. Ternyata dunia kerja tidak sehangat yang kubayangkan. Perkataan maupun perilaku mereka yang telah menikah mungkin bisa saya bilang “kurang menghargai” terhadap perasaanku yang belum menikah. Pernah suatu waktu, aku terlambat masuk kantor, salah satu teman dengan sangat tidak berperasaan berkata “kamu kan ndak punya tanggungan keluarga, kok sampai telat sih”. Beberapa temanku yang terlambat, yang sudah memiliki keluarga, tidak ditegur sedikit pun. Bukannya peraturan dibuat untuk dipatuhi semua pihak? Entah itu sudah memiliki keluarga maupun tidak. Diskriminasi sekali jika hanya seorang yang single yang disalahkan atas sebuah keterlambatan.

Sementara itu, ada seorang temanku yang pernah tersinggung atas perkataan temanku yang lain “yang disuru datang seminar yang ga punya anak aja”. Memangnya kami yang memilih untuk lama mendapat jodoh atau lama mendapat anak? Bukan kan? Semua itu kehendak Tuhan. Kalian jangan pernah lupa bahwa suatu kemudahan juga merupakan sebuah ujian. Ujian kalian dari rasa tidak menzalimi teman kalian yang belum bernasib baik seperti kalian. Memang untuk menjadi seorang yang kuat itu ternyata diperlukan kemampuan bertahan yang lebih daripada yang lain. Dari semua peistiwa ini saya jadi banyak belajar bahwa nanti ketika saya telah menikah dan memiliki anak, saya harus peka pada lingkungan sekitar. Saya akan berusaha untuk tidak meremehkan yang belum menikah dan belum memiliki anak.

Sebenarnya semua hal itu termasuk dalam pem-bully-an yang tidak semua orang mampu menghadapinya. Bahkan jika seseorang sampai depresi atas pem-bully-an yang diterimanya, bisa berujung pada kasus bunuh diri. Oleh karena itu saya mengajak semua pembaca yang membaca tulisan ini untuk berhati – hati pada semua yang kita ucapkan. Karena kita tidak pernah tau bagaimana isi hati seseorang. Bisa jadi dia dengan sekuat tenaga bersabar, namun hatinya ternyata tidak mampu menahan sakitnya. Sekalipun itu konteksnya bercanda, berhati – hatilah. Lidah bahkan bisa lebih menyakitkan daripada kekerasan fisik.

Saya membayangkan betapa indahnya saat masyarakat tidak sibuk bertanya “kapan menikah?” atau “kapan punya anak?”, tapi membantu mencarikan jodoh misalnya, atau mendoakan secara diam diam untuk seseorang yang belum memiliki momongan. Mungkin hal – hal sederhana semacam ini bisa mengurangi angka depresi maupun bunuh diri karena pem-bully-an. Perihal mencari jodoh ternyata susah – susah gampang alias banyak susahnya. Belum tentu juga Tuhan memberi kesempatan pada semua orang di dunia untuk menjadi istri maupun menjadi ibu. Bersyukurlah kalian yang diberi kemudahan dalam mendapat jodoh dan anak. Hargai setiap yang kalian miliki karena kalian tidak akan pernah tau kapan hal itu akan diambil dari sisi kalian selamanya.

Tidak dapatkah kalian yang merasa lebih beruntung untuk tidak mengecilkan hati para wanita yang belum beruntung? Sungguh dari hati kami yang terdalam, kami berusaha berbesar hati ketika kalian menceritakan tentang bahagianya kalian memiliki suami yang penyayang, anak – anak yang lucu maupun mertua yang baik hati. Izinkanlah kami untuk tidak tertekan dengan pertanyaan – pertanyaan menekan itu lagi. Doa tulus dari kalian sangat kami harapkan. Dari kami yang juga ingin menikah dan memiliki anak seperti kalian.

  • view 533