Anak adalah investasi akhirat, bukan investasi dunia.

Nandini Parahita
Karya Nandini Parahita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Oktober 2016
Anak adalah investasi akhirat, bukan investasi dunia.

Sebelumnya saya minta maaf, saya menuliskan semua ini bukan karena ingin membuka aib keluarga sendiri, namun lebih kepada ingin berbagi pengalaman pada banyak orang tua di luar sana. Tujuannya tidak lain adalah agar tidak ada lagi tertekannya seorang anak karena gaya hidup mewah orang tuanya. Saya adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Kedua orang tua saya guru. Saya memiliki dua orang adik. Adik yang pertama telah bekerja di luar pulau Jawa sebagai PNS dan adik kedua sedang mengenyam bangku pendidikan kuliah.

Sejak kecil saya diasuh dengan sangat baik oleh kedua orang tua saya. Saya ingat ketika kecil selalu diberi mainan edukasi oleh orang tua. Alhamdulillah saya dan kedua adik saya selalu masuk di sekolah favorit sejak kecil. Namun masalah kehidupan baru saya sadari ketika saya beranjak dewasa. Hutang – hutang orang tua menumpuk dan kami bertiga sebagai anak wajib membantu mencicil. Sejujurnya saya tertekan dengan keadaan tersebut. Saya ingin sekali hidup sederhana tanpa banyak hutang. Kebetulan ibu adalah seorang ibu yang gaya hidupnya mewah. Untuk urusan baju, tas, sepatu selalu mewah. Ibu tidak ingin terlihat memakai baju yang itu – itu saja.

Semakin sering saya mengikuti pengajian agama, saya semakin sadar bahwa hidup di dunia ini hanya kebahagiaan semu. Kebahagiaan yang kekal adalah kebahagiaan di akhirat. Buat apa hidup di dunia gemar mengoleksi barang mewah namun menumpuk hutang. Orang kaya yang sejati bagi saya adalah orang yang selalu merasa berkecukupan, tanpa perlu membeli barang mewah dengan berhutang. Bukannya sok idealis, namun lebih kepada ingin berusaha seminimal mungkin menghindari hutang. Tidak munafik juga, saya juga masih memiliki hutang atau cicilan motor. Beberapa bulan saya bekerja, saya tidak pernah merasakan hidup tenang. Selalu tertekan dengan hutang orang tua saya.

Tidak berhakkah saya sebagai anak memiliki keinginan yang sederhana. Terhindar dari hutang riba, yang dosanya sama dengan berzina dengan ibu kandung sendiri menurut hadist. Banyak dari teman  saya yang berkata bahwa tidak mungkin di dunia ini hidup tanpa berhutang. Namun bagi saya tidak ada yang tidak mungkin. Asal kita mau hidup sederhana. Asal kita tidak mudah tergiur barang mewah. Saya termasuk tipe orang yang tidak mudah tergiur kemewahan. Bagi saya, kebahagiaan sejati justru terletak pada kemampuan hidup apa adanya. Jika uang adalah sumber kebahagiaan, lalu mengapa beberapa orang yang sudah kaya tetap melakukan tindakan korupsi? Hal itu dikarenakan sifat tidak bersyukur. Nafsu terus – menerus minta dipuaskan.

Kembali lagi pada topik utama, saya mulai merasakan bahwa ibu saya sangat memuja uang ketika saya berusia 27 tahun. Di usia yang sebenarnya sudah pantas menikah, saya mengajukan seseorang yang sederhana. Bagi saya, asal dia soleh dan sudah bekerja, saya yakin dia bisa menjadi suami yang baik. Namun beda dengan ibu saya, ibu menuntut mahar yang besar untuk sebuah resepsi mewah impiannya. Mengapa sebuah pernikahan tidak bisa dilaksanakan tanpa resepsi yang mewah? Resepsi itu hanya berlangsung sehari saja. Saya lelah dengan hiruk pikuk dunia, rasa gengsi, berlomba – lomba dalam hal dunia dan menganggap kesederhanaan yang diajarkan agama sebagai sesuatu yang kuno.

Sangat tak disangka, bahwa ibu yang mengandung saya dan merawat saya sejak kecil rela berpisah dengan saya hanya karena saya tidak bisa memberikan calon menantu yang kaya. Saya selalu mendoakan beliau agar mendapat hidayah dari Allah. Seburuk apapun watak beliau, masih banyak sifat yang patut dibanggakan. Saya selalu ingat bahwa beliau selalu memberi banyak pada saudara dan orang – orang tidak mampu. Sampai kapanpun saya tetap menyayanginya. Mudah – mudahan beliau menyadari rasa tertekan saya atas jeratan hutang dan keinginan saya untuk menikah serta hidup sederhana.

Ketika mengikuti pengajian, dikatakan bahwa seorang anak adalah investasi akhirat. Doa seorang anak bisa menyelamatkan kedua orang tua yang hampir disambar api neraka. Hakikat sebenarnya, anak adalah titipan dari Allah. Bukan investasi dunia ataupun mesin ATM yang siap mengeluarkan uang berapapun orang tua mau. Memang anak wajib berbakti, tapi bukan dengan cara ditekan atau dipaksa. Hargailah keinginan para anak untuk bebas mengikuti jiwa yang sesuai dengan pemahaman agamanya. Selama hal itu baik, doa orang tua sebagai pelindungnya. Mudah – mudahan banyak orang tua membaca tulisan saya ini. Ini juga merupakan pelajaran berharga bagi saya agar ketika menjadi orang tua nanti, tidak memaksakan kehendak pada anak.

  • view 174