Lelah

Nandini Parahita
Karya Nandini Parahita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Oktober 2016
Lelah

Mungkin lelah sudah terlalu lelah untuk berkata lelah. Kiranya ini yang ingin kubisikkan bersama semilir angin, gemericik air, dan kicau burung merdu. Berkali – kali gagal menjalin kisah cinta. Ternyata jodoh memang belum dapat kugenggam. Berulang kali pula hatiku berharap atas niat baik beberapa temanku untuk mengenalkanku pada seseorang yang mungkin berjodoh denganku. Dari tiga harapan itu, tiga – tiganya kandas begitu saja dengan alasan yang sama “maaf ya din, ternyata dia sudah punya pacar”. Mungkin aku yang terlalu buruk sangka dengan rencana baik Tuhan. Kesabaran ini masih perlu ditempa. Waktu tunggu ini sepertinya masih bersahabat karib denganku.

Aku tau menikah bukan hanya karena didesak umur, bukan hanya karena iri melihat yang lain “sepertinya” bahagia, bukan karena tuntutan lingkungan untuk segera mengakhiri masa lajang. Setiap hari aku hanya bisa berkhayal, memiliki seorang suami yang sangat religius. Aku bekerja sebagai dosen terbang yang hanya menghabiskan waktu beberapa jam di kantorku. Selebihnya aku membangun rumah tangga bersama suamiku. Mengasuh anak – anakku dengan tangan dan hatiku sendiri. melihat pertumbuhan dan perkembangan mereka. Mendidik mereka dengan tuntunan agamaku. Hidup sederhana namun berkah. Menghindari riba dan mengharap ridho Tuhanku.

Tak pernah sedikitpun terfikir sebelumnya bahwa aku akan mengalami situasi sesulit ini. Berada dalam keluarga yang terlalu banyak tuntutan. Sebenarnya apa arti kata “mapan” sebenarnya? Calon yang kuajukan yang telah bekerja dianggap kurang mapan hanya karena nominal  gaji. Semurah itukah harga sebuah kebahagiaan hingga dapat terbeli dengan hitungan angka? Bukankah kebahagiaan sejati justru terletak pada sesuatu yang tak dapat dibeli dengan nominal sejumlah berapapun?

Hingga saat ini aku hanya ingin terdiam. Tak berkata apapun pada keluargaku yang tak pernah memahami kesulitanku. Bukan karena ingin memutus persaudaraan, namun hanya ingin menyelamatkan hati dari rasa sakit yang semakin dalam. Sejujurnya aku sangat menyayangi mereka. Namun rasa sayang ini ternyata memiliki sebuah konsekuensi untuk tersakiti. Aku tau niat baik mereka agar aku hidup bahagia. Tapi paham kah mereka saat aku berada dalam kondisi tertekan? Tertekan mereka yang terus mem-bully, melihat dengan pandangan meremehkan, berkata dengan sangat tajam teradap nasibku. Yang bisa kulakukan hanya terus  berharap pada Sang Maha Pemberi Segala. Semoga doa – doaku seperti mengayuh roda sepeda yang suatu saat akan membawaku pada tempat yang kutuju. Aamiin.

  • view 206