Sendiriku

Nandini Parahita
Karya Nandini Parahita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Oktober 2016
Sendiriku

Hampir sebulan sejak kepergianku dari rumah, entah bagaimana aku menjelaskan isi hatiku. Ibu sempat menyapaku melalui sosial media, hanya bertanya kabarku tanpa membahas sedikit pun peristiwa gagalnya hari lamaranku oleh seorang pria yang berniat menikahiku. Tuhan, kali ini aku patah hati lagi, untuk yang kesekian kalinya. Kesekian kalinya ibuku menolak lamaran pria – pria yang mencintaiku. Entah apa yang Engkau rencanakan Tuhan, namun aku yakin bahwa itu pasti baik untukku.

Ketika aku mendengar kabar bahwa adik kandungku akan melaksanakan pernikahan dengan pria baik menurut versi ibuku, yang katanya sudah pegawai negeri dan dianggap mapan, hati ini serasa hancur berkeping – keping. Aku hanya meminta ibuku untuk menikahkanku secara sederhana, dengan pria yang aku yakin bisa membimbing ke jalan Allah. Namun ibu menolaknya dengan alasan kurang mapan dan dia berasal dari keluarga broken home.

Rasanya hatiku tidak siap untuk hadir di pernikahan adik kandungku. Melihatnya memakai gaun pengantin dan dirias dengan sangat cantik. Impianku sejak 5 tahun yang lalu untuk menjadi seorang pengantin wanita. Membayangkan ibuku yang sangat senang dengan pernikahan di gedung mewah, sesuai dengan cita – citanya. Apalah arti sebuah pernikahan mewah di gedung yang mewah, mengapa tidak dilakukan secara sederhana saja namun berkah. Lebih baik uang ditabung untuk kebutuhan rumah tangga yang semakin hari semakin meningkat. Tak bisa kubayangkan mengawali sebuah pernikahan dengan tumpukan hutang. Demi pesta sehari.

Kali ini aku hanya ingin sendiri. Tanpa keluarga inti. Tanpa pasangan. Mencoba menikmati kesendirian. Melakukan hal – hal yang aku senangi. Setidaknya dengan sendiri, aku bisa membebaskan hatiku dari rasa sakit hati, kecewa maupun terkekang dengan adat istiadat yang menyusahkan. Apalah arti cemoohan orang lain, toh mereka juga tak akan bertanggung jawab atas hidupku. Buat apa memusingkan pendapat orang lain tentang sebuah pesta pernikahan. Malu karena menikah hanya dengan acara sederhana? Takut dikira hamil duluan karena menikah hanya melalui proses akad nikah saja? Aku mencoba untuk memegang erat prinsipku. Bukan karena sok idealis, bagiku pentingnya acara pernikahan bukan karena ingin mendapat pujian dari orang lain, bersenang – senang satu hari dengan sesama manusia, namun lebih kepada janji suci dengan Tuhan. Sesuai dengan firmanNya bahwa semakin sederhana mahar dan acara pernikahan maka akan semakin berkah.

Teruntuk calon imamku dimana pun engkau berada, aku akan dengan sabar menunggu hadirmu. Aku akan selalu berusaha memperbaiki diriku sampai Tuhan mengijinkan aku bertemu denganmu di waktu yang tepat. Kuharap engkau pun sabar dalam penantian. Tabahkan hatimu ketika teman – temanmu mencemooh karena dirimu tak kunjung menikah dan ketika teman – temanmu menjadikanmu sebagai bahan bercanda yang sebenarnya tidak lucu sama sekali namun menyakitkan hati. Semoga kau merasakan bahwa aku pun mencoba dengan ikhlas menerima takdirNya. Aku yakin Tuhan tidak pernah terlalu cepat atau terlalu lama. Tuhan selalu tepat waktu.

  • view 164