Cinta Terhalang Restu

Nandini Parahita
Karya Nandini Parahita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Juli 2016
Cinta Terhalang Restu

Beberapa hari sejak kepergianmu, hatiku seperti kehilangan arah. Wajar jika kamu menjauhiku. Sejak penolakan lamaranmu oleh ibu kandungku, terasa sekali kamu menghindariku. Mungkin rasa malu dan merasa harga diri direndahkan telah mengalahkan semua rasa cintamu selama ini padaku. Apakah aku pernah memilih memiliki seorang ibu yang menilai sesuatu hanya berdasarkan nominal harta? Berjuta pertanyaan menggelayut di kepalaku. Apakah dengan melihat wajahku kamu menjadi ingat semua perlakuan buruk ibuku terhadapmu dan keluarga besarmu? Sehina itukah aku di hadapanmu? Apa aku boleh memintamu mencintaiku apa adanya? Tanpa melihat perlakuan ibuku terhadapmu?

Aku kini memutuskan untuk menghindar sementara dari ibuku, setidaknya sampai beliau sadar dan merenungi kesalahannya. Dengan atau tanpamu, aku tetap memegang prinsipku. Aku ingin mandiri dan ingin prinsipku dihargai, bahkan oleh ibuku. Aku bukan anak kecil lagi yang harus selalu menuruti semua kemauan ibuku. Aku sudah dewasa, sudah bisa membedakan mana yang benar dan salah. Kamu tau apa yang menyakitkan dari semua ini? Aku merasa dunia ini tidak adil. Mengapa aku harus dihukum atas kesalahan yang tidak aku perbuat? Mengapa aku harus kena getah dari kelakuan ibu kandungku. Sedikitpun aku tak pernah menghinamu. Sedikitpun tak pernah berpikir meninggalkanmu. Kalau boleh memilih, aku tidak pernah ingin terlahir dari seorang ibu yang materialistis. Pun aku tau kamu tak ingin terlahir dari keluarga sederhana dan broken home. Semua ini di luar kuasa kita. Kini restu ibu tak ku dapat, pun cintamu aku kehilangan.

Kini menyesal tak ada gunanya. Aku terlalu jauh untuk menggapaimu kembali. Kini hati kita semakin menjauh, hatimu maksudku. Aku sama sekali tak ingin melepasmu. Seperti komitmen awal kita. Kita sama sekali tidak ada niat untuk pacaran. Kamu masih ingat kan? Awal kita kenalan kita sepakat untuk langsung menikah, bukan pacaran. Sesuai ajaran agama kita. Ketegasanmu dari awal itulah yang membuatku langsung jatuh hati padamu. Semua kejujuranmu tentang latar belakang diri dan keluargamu membuatku takjub. Aku bangga memiliki kekasih sepertimu. Penuh perjuangan dan ketulusan. Bahkan aku jatuh cinta pada ibu kandungmu, ibu yang selalu mengajarkan sikap kstaria padamu. Untuk selalu jujur dan berbuat baik pada siapa pun, termasuk pada orang yang tak bersikap baik padamu.

Masih ingatkah kamu ketika semangatmu berkobar untuk menikahiku dan menghalalkan hubungan kita? Hari - hari kita terasa indah. Perbincangan sepanjang perjalanan dari rumahku ke bioskop, canda tawa ketika sore hujan di rumahmu, tawa renyahmu saat mengunjungiku di kantorku, wajahmu yang berseri setiap kali bertemu denganku, aku merindukan semua itu. Mungkin ini memang cara Tuhan untuk menjadikan kita baik menurut versiNya. Aku tau dari semua sikapmu, kamu hanya tak ingin merusak hubunganku dengan ibuku. Sama persis seperti yang kamu bilang pada keluarga besarku, bahwa lebih baik kamu mengalah, lebih baik kamu memilih menghancurkan bangunan cinta yang selama ini kita bangun bersama daripada menghancurkan bangunan cinta antara ibu dan anak. Terima kasih atas niat baikmu.

Awalnya aku pikir kita tetap akan melangsungkan pernikahan meski tanpa restu ibuku. Tapi bagimu, restu adalah segalanya. Prinsip yang kamu pegang teguh. Bahwa anak harus patuh pada orang tua. Aku bukannya tidak patuh, tapi ibuku sudah keterlaluan, sangat melenceng dari ajaran agama yang selama ini kupelajari. Aku sadar ibuku juga manusia biasa, pasti bisa melakukan kesalahan. Tapi aku hanya tak sanggup, kenapa hanya ibuku saja yang menentang hubungan kita? Bahkan keluarga besar dari pihak ibuku dan keluarga besar dari almarhum ayahku semua merestui dan mendukung kita. Mereka yakin kita bisa memulai semua dari nol, dari bawah, bersama berjuang menjalani hidup. Tapi aku tak akan pernah bisa memaksamu. Aku butuh seorang imam yang tegas, yang berani menghadapi resiko apapun untuk melindungi dan menjagaku, optimis serta selalu yakin bahwa Tuhan akan membantu hambaNya yang berusaha menjadi manusia lebih baik.

Setelah berkali – kali aku mendengar ceramah agama, para pemuka agama kita mengatakan bahwa agama kita mengijinkan kita menikah meski tanpa restu jika memang orang tua telah keluar dari jalur agama kita. Orang tua justru akan berdosa jika tidak segera menikahkan anak yang sudah mau dan mampu untuk menikah. Kali ini mungkin aku masih disuru bersabar oleh Tuhanku, menanti sosok yang memang telah tertulis di Lauful Mahfudz, jodoh yang telah dituliskan olehNya untuk menggenapiku. Pena – pena telah terangkat dan tinta telah mengering. Aku hanya bisa memasrahkan lewat doa dan sujud malamku. Berharap semoga hati ibu melunak seperti batu berlubang karena terus menerus ditetesi air. Berharap semoga kamu menjadi sosok pria sejati yang memperjuangkan cinta, apapun yang terjadi. Daya juang. Ya, daya juang dari masing – masing diri kita. Mungkin daya juangmu belum sebesar daya juangku. Terima kasih pernah mencintaiku. Perih dan pedih akan lebur bersama waktu. Mungkin aku tak bisa menyelamatkan cintamu, tapi setidaknya aku bisa menyelamatkan harga diriku dari kekangan ibu kandungku. Dariku yang tengah berusaha mengikhlaskan kepergianmu.

  • view 270