Halalkan atau Tinggalkan

Nandini Parahita
Karya Nandini Parahita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Juni 2016
Halalkan atau Tinggalkan

Kali ini aku merasakan jatuh cinta yang sangat berbeda dari sebelumnya. Cintanya padaku mengajarkan sebuah keikhlasan. Sebuah ketulusan bahwa jatuh cinta itu tidak menyakitkan. Saling melepas itu justru membahagiakan. Bukan karena berhenti saling mencintai, justru karena kita saling mencintai maka kita memutuskan untuk tidak saling menyakiti. Dia tak ingin aku melawan ibuku, ibu yang telah melahirkan dan membesarkanku. Aku pun tak ingin menyakiti perasaannya dengan sikap ibuku padanya. Biar rasa ini kami simpan rapat di dalam hati kami masing – masing. Biar rindu ini kami ungkapkan pada Sang Maha Pemilik Hati kami.

Sedikitpun aku tak pernah menyalahkan takdir Tuhan atas peristiwa ini. Cinta Tuhan pada kami terwujud dalam kedewasaan kami menghadapi kisah cinta ini. Aku tak akan pernah melupakan bagaimana dirinya menasehatiku dengan jiwa yang ikhlas bahwa aku harus menghormati ibuku yang belum merestui hubungan kami, karena dia juga merasakan hanya memiliki seorang ibu sejak ditinggal ayah. Mata teduh yang menyejukkan jiwaku itu tak akan kubiarkan rasa sedih menghiasinya. Aku tak akan membiarkan harga dirimu tercabik oleh keangkuhan ibuku. Doakan ibuku agar beliau mendapatkan hidayah. Bagaimanapun, dia tetap ibuku, aku juga menyayanginya, sama seperti aku menyayangimu.

Aku mencintaimu, maka aku akan menjauhimu dan tak akan menyiksamu dengan keegoisanku untuk bersama. Jika bersamaku membuatmu menderita, aku ikhlas jika aku harus jauh darimu. Kau bilang kita tak harus berpisah, kita masih tetap bersama sebagai saudara. Kalaupun kita tidak berjodoh, tidak ditakdirkan sebagai pasangan suami istri, aku tidak pernah menyesal pernah mengenalmu. Semua tentangmu mengagumkan. Tuhan kita sangat mengagumkan, bagaimana Dia berencana memperkenalkan kita lewat rekanku namun selalu ada halangan, sampai pada akhirnya aku berdoa “jika dia masih jodohku, perkenalkan aku dengan dia Ya Tuhan”. Kita pun berkenalan lewat sosial media sampai suatu hari tiba – tiba kau datang menemuiku dirumahku. Begitu bahagia aku ketika itu, kau bercanda dengan ibuku.

Aku pikir saat itu kau lah yang dikirim Tuhan untuk menggenapi jiwaku. Jiwa yang telah lama hampa. Jiwa yang menanti tanpa kenal lelah. Pada akhirnya, aku tau bahwa cinta saja tidak cukup untuk melaksanakan pernikahan yang suci, restu orang tua juga menjadi sangat krusial. Aku sangat kecewa ibu tiba – tiba tidak menyetujui hubungan kita karena masalah sepele berupa penghasilan. Aku tidak pernah menyangsikan janji Tuhan. Tuhan telah berfirman bahwa akan menjamin rejeki bagi dua insan yang berniat baik untuk menikah. Tapi aku selalu ingat janjimu, bahwa kau tidak akan pernah menjalani hubungan haram bernama pacaran. Seperti ketika awal kita berkomitmen, bahwa kita akan menikah dan bukan pacaran.

Aku tidak pernah takut jauh dari ragamu, tapi aku sangat takut jauh dari jiwamu, dari hatimu. Tapi, bukannya Tuhan lebih mencintai kita dari siapapun di dunia ini? Bahkan setelah banyak dosa yang manusia perbuat, Tuhan masih mengampuni dan memberi limpahan kasih sayangNya. Bukannya rejeki telah tertakar dan jodoh tidak akan tertukar? Tak pantas rasanya jika aku merisaukan takdirNya. Untukmu yang telah banyak mengajarkan arti keikhlasan, berdirilah dengan tegak untuk hadapi dunia kembali. Sosok kuat yang selalu aku banggakan, biar doa yang menyampaikan rinduku padamu. Dariku yang kini tengah mengikhlaskanmu.

Dilihat 189