Mereka datang lalu pergi, akankah ada satu saja yang tinggal?

Nandini Parahita
Karya Nandini Parahita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Juni 2016
Mereka datang lalu pergi, akankah ada satu saja yang tinggal?

Ijinkan aku bertanya kepada kalian para lelaki, bagaimana rasanya ditolak ibu sang wanita ketika melamar seorang wanita yang kalian cintai? Apakah sama rasanya seperti menjalani hubungan bertaun – taun, kemudian kalian kecewa karena perselingkuhan pasangan? Apakah sama rasanya ketika kalian diperjuangkan di awal hubungan kemudian akrab dengan sikap dingin pasangan di akhir hubungan? Apakah sama rasanya seperti merasa yakin akan akhir yang indah kemudian kandas hanya dalam waktu hitungan detik? Karena aku merasakan semua hal itu, merasakan perih yang sama.

Sungguh dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasa berdosa pada kalian semua. Tapi di sisi lain aku bisa apa? Ibu, sosok yang melahirkan dan membesarkanku, tak sampai hati aku memberontak padanya. Karena aku belum pernah merasakan menjadi seorang ibu, belum pernah mengerti sakitnya melahirkan yang katanya sama seperti  57 del (unit rasa sakit) atau patah 20 tulang tubuh di saat yang sama. Aku juga belum tau rasanya harus bangun setiap malam, ketika bayiku menangis dan meminta ASI. Aku belum tau rasanya harus berjalan berkilo meter demi mendapat uang untuk membeli susu anak. Aku belum tau rasanya berkarir dan merelakan sang anak dititipkan pada pengasuh bayi. Sejujurnya aku benci menjadi seperti ini, di depan ibuku aku seperti anak kucing yang selalu menuruti perintahnya, di belakang ibuku aku menjadi liar tak terkendali. Tapi semua itu kulakukan karena aku menyayangi ibuku dan tak ingin melihatnya terluka. Bahkan aku sempat membenci ibuku dengan sikapnya yang seperti itu pada kalian.

Semoga kalian para lelaki mengerti akan hal ini. Aku juga yakin kalian menyayangi ibu kalian dan akan melakukan apa yang beliau perintahkan. Toh juga dalam agamaku, Tuhanku menyuruhku berbakti pada suami dan kalian sebagai suami harus mendahulukan ibu daripada istri. Mengertilah perih dan sakit yang aku juga rasakan ini. Kalian tidak berjuang dengan perasaan kalian sendiri, ada aku yang juga berjuang melepas dengan ikhlas kepergian kalian.Ya, ikhlas. Begitu singkat satu kata itu. Namun pada kenyataannya, aku harus melalui perih yang teramat sangat untuk mampu menerima satu kata itu. Konon katanya, jika masih sakit berarti belum ikhlas.

Aku rasa aku mulai akrab dengan luka sejak kalian menjauh. Tapi aku tidak pernah menyesal telah mengenal kalian, karena semua ini mengajarkan kesabaran dan keikhlasan untukku. Banyak hal yang kurasakan. Aku pernah merasa dihianati, maka aku tak akan menghianati. Aku pernah dibohongi, maka aku tak akan membohongi. Aku pernah disakiti, maka aku tidak akan menyakiti. Ingin aku ciptakan sebuah perpisahan dengan sangat cantik agar kalian tidak merasakan luka yang sama denganku. Agar saat berpisah, hanya peristiwa baik yang akan memenuhi ruang memori kalian. Bukankah rejeki sudah tertakar dan jodoh tak akan tertukar? Tidak ada gunanya menyesali masa lalu. Hidup memang penuh gelombang, ada saatnya kita di atas agar kita bersyukur, ada kalanya kita di bawah agar kita bersabar. Bahkan kita tidak benar – benar mengerti, apa yang kita pikir baik belum tentu benar – benar baik untuk kita, apa yang kita pikir buruk belum tentu benar – benar buruk untuk kita. Hanya Dia Yang Maha Mengetahui.

  • view 111