Untukmu, sahabat yang kukenang bersama hujan yang menggenang

Nanda Octavini
Karya Nanda Octavini Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 November 2016
Untukmu, sahabat yang kukenang bersama hujan yang menggenang

Senja kali ini, demi hujan yang menggenang lubang-lubang jalan, kepalaku dipaksa mengulang kembali semua kenangan. Dan tentangmu adalah hal yang tak pernah terlewatkan sedikitpun. Sebab, tempat dimana kenangan bersamamu berada takkan pernah kulupa peta jalannya.

Senja kali ini, demi rindu yang tiba-tiba tumpah bersama hujan, izinkan aku mengingat tahun-tahun yang kita lalui dengan kebersamaan yang begitu nyaman:

Masih jelas dalam ingatanku kali pertama aku mengenalmu adalah ketika kita berada di dalam ruangan yang sama lima tahun yang lalu. Di dalam kelas bercat hijau muda aku duduk di barisan depan tepat berada di samping tempat dudukmu. Kamu begitu lugu dan pemalu bahkan untuk sekedar berkenalan denganku. Untuk beberapa waktu, jadilah kita dua manusia beku yang membisu. Tanpa ucapan ‘hai’ atau kata basa basi lainnya. Tapi aku yang merasa tidak nyaman dengan kesunyian yang menular akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan lebih dahulu siapa namamu. Lantas kamu menjawabnya dengan ekspresi wajah yang tetap terlihat lugu, kita berjabat tangan dan saling berkenalan. Sejak saat itu kamu resmi menjadi teman baruku.

Tidak butuh waktu lama bagi kita untuk menjalin persahabatan. Seiring waktu berlalu, kamu tak lagi malu-malu-setidaknya jika bersamaku. Justru kamu berubah menjadi manusia penuh tawa yang juga membuatku tertawa. Bersamamu, duniaku tak hanya berputar pada angka-angka dan huruf-huruf yang ada di dalam buku-buku tebal. Kamu tak hanya membuatku tertawa, tetapi juga mengubah duniaku menjadi penuh suara. Kamu mengenalkanku dengan lagu-lagu kesukaanmu yang secara otomatis juga menjadi lagu kesukaanku. Demi mendengarkan lagu-lagu kesukaan kita, kamu akan memasangkan headset di telinga kiriku, dan satu lagi di telinga kananmu lantas kita akan menyanyikannya bersama-sama dengan berjalan beriringan atau duduk berdampingan. Persahabatan kita yang apa adanya, tanpa kita sadari berjalan begitu manis.

Kamu masih ingat? Dulu kita sering menghabiskan senja bersama dengan bersepeda. Dengan menaiki sepeda mini milik ibu kos, kamu akan menjemputku dan mengajakku mencari makan atau sekedar jalan-jalan. Aku selalu duduk dibocengan dan kamu yang mengayuh pedal. Begitu banyak senja yang kita lalui dengan melaju diatas roda dan tertawa bersama. Ah, kebahagiaan kita begitu apa adanya, bukan?

Kenanganku bersamamu tak hanya berhenti sampai di situ. Ada banyak hal yang telah kita bagi dan lalui bersama. Seperti sepiring nasi goreng yang kita habiskan berdua, ketika kita berlibur ke pantai bersama teman-teman. Juga seperti lagu-lagu yang sengaja kamu kirimkan untuk menghiburku ketika aku sedang patah dan terluka.

Aku tidak tahu, bagimu aku ini apa. Tapi sungguh, kamu yang terbaik yang pernah hadir dalam hidupku. Kadang, aku ingin tahu, kebersamaan kita yang apa adanya beberapa tahun lalu apakah diam-diam telah menghadirkan cinta? Yang kemudian atas nama persahabatan cinta itu sengaja kita lewatkan begitu saja meski ada begitu banyak kesempatan untuk merayakannya?

Tahun berlalu, pertanyaan itu masih menggantung di kepalaku dan kamu tetap menjadi sahabatku.

Senja berganti. Hujan juga berhenti. Dan kenangan bersamamu kembali kusimpan dengan rapi. Entah kapan lagi senja yang sama akan kembali membawa hujan seperti hari ini. Agar kenangan bersamamu mengalir kembali dan bisa kunikmati dengan dirimu di sisi. Suatu hari nanti, semoga…

  • view 243