Kepadamu, aku tak punya pilihan selain jatuh cinta

Nanda Octavini
Karya Nanda Octavini Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 November 2016
Kepadamu, aku tak punya pilihan selain jatuh cinta

Kamu, lelaki sederhana yang entah sejak kapan mendominasi segala bentuk rasa yang mengganjal di rongga dada. Mungkin karena kita sudah terlalu lama mendekam dalam sebuah tempat yang bernama persahabatan membuat perasaan itu muncul tanpa peringatan apa-apa. Dan hatiku yang sudah sejak lama tak bertuan, tidak memiliki persiapan apapun untuk menghadapinya. Justru diam-diam aku membantunya masuk dan memenuhi semua ruang di hati tanpa terkecuali.

Kepadamu, aku jatuh cinta diam-diam. Iya, diam-diam. Karena aku tidak tahu apakah perasaan ajaib yang sewaktu-waktu mampu membolak-balikan hati, membuatnya melambung begitu tinggi lalu jatuh begitu saja tanpa permisi juga diam-diam menderamu. Aku tidak tahu apakah selama ini ada kata saling yang terkandung dalam keterdiaman kita.

Sayangnya, cinta yang diam-diam tumbuh tak punya daya apa-apa kecuali tetap bungkam. Sebab hatimu, bukanlah hal yang mudah untuk kuterka apa isi di dalamnya. Sebab kamu terlalu jauh untuk kurengkuh. Sebab kedekatan kita bukan berarti tanpa sekat. Dan berada di ranah yang sama bukan berarti jeda itu tak pernah ada. Tapi kedekatan kita dan perlakuanmu yang manis adalah sebuah kemustahilan jika tidak membuat hatiku berharap bahwa cinta itu juga ada di dalam hatimu.

Pertemuan kita di Februari yang lalu adalah salah satu alasan dari mekarnya bunga-bunga perasaan di hatiku. Ketika kamu dengan senyum yang menawan menjabat tanganku dan memberiku seikat bunga aster warna-warni. Saat itu aku yang mendadak gagu hanya bisa tersenyum sipu tanpa tahu apa maksudmu. Rasa bahagia yang tak biasa membuatku lupa akan tanda tanya yang menggantung di kepala: tentang pertemuan kita setelah sekian lama, tentang senyum yang menawan, dan juga tentang bunga-bunga kesukaanku, adakah alasan lain yang mungkin membuat hatiku semakin berhamburan ?
Pertemuan kita di Februari yang lalu, berlalu begitu saja tanpa penjelasan apa-apa namun meninggalkan rindu yang begitu menyiksa.

Bulan-bulan berikutnya aku semakin tak punya pilihan selain jatuh cinta kepadamu. Memang tak ada pertemuan. Dan rindu masih menyiksa hatiku yang berhamburan. Dan kamu yang seolah tahu akan hal itu dengan sengaja mengirimiku bunga-bunga yang lain untuk mendamaikan rinduku yang ramai : bunga mawar!

‘Just For You’

Katamu melalui pesan singkat. Dan membuatku semakin terpikat!

Duhai, kamu.. tidak tahukah bahwa aku di sini sedang tertawan? Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta jika kamu begitu manis dengan mengirimiku bunga-bunga. Bagaimana mungkin aku tidak menduga bahwa kamu juga punya rasa yang sama.

Tetapi kamu tetaplah lelaki yang penuh tanda tanya yang tak mampu kucari jawabannya.

Sepertinya kamu tak kekurangan cara untuk membuatku jatuh cinta. Tidak hanya bunga-bunga, kamu juga mengirimiku beberapa lagu romansa yang memiliki makna begitu dalam, ada yang romantis juga ada yang tragis. Karena terlalu sering lagu-lagu itu kamu kirimkan dan tak jarang kamu sendiri yang menyanyikannya untukku, aku jadi mengira-ngira mungkinkah dengan cara itu kamu mengungkapkan rasa? Selama ini apakah aku yang tak peka padahal kamu telah berbicara cinta ?

It’s obvious you’re meant for me

Every piece of you, it just fits perfectly

Every second, every thought, I’m in so deep

But I’ll never show it on my face

But we know this , we got a love that is homeless

‘Love secret song’ by little mix. Lagu yang kamu kirimkan beberapa hari yang lalu. Lagu yang katamu cukup mewakili perasaanmu. Entah untuk siapa perasaan itu. Tetapi aku yang telanjur jatuh cinta tidak bisa berhenti menduga bahwa nyatanya kita memang saling jatuh cinta. Hanya saja, cinta yang telanjur tumbuh diam-diam itu terlalu pengecut untuk berbicara apa adanya tanpa harus berpura-pura. Sayangnya, cinta yang diam-diam itu telanjur tumbuh di hati manusia yang keras kepala.

Mungkin, sudah sejak lama bahwa kepadamu, aku tak punya pilihan selain jatuh cinta. Kamu, sahabat terbaik. Kenangan bersamamu masih terasa manis dalam ingatan. Ketika kita masih berseragam putih abu-abu menikmati senja dengan bersepeda. Aku yang duduk di boncengan belakang dan kamu yang mengayuh pedal tanpa kelelahan. Di antara tawa kita yang pecah di senja itu, mungkin ada cinta yang tanpa disadari sudah kita lewatkan.

Sampai detik ini kita masih melewatkan kesempatan untuk merayakan cinta. Entah sampai kapan akan bertahan. Seperti bunga yang bisa layu, cintapun bisa berlalu. Meski bahagia tak bergantung pada cinta yang saling memiliki, tetapi cinta harus diperjuangkan agar tak terlewatkan, bukan? Dan aku ragu kita akan mampu.

  • view 223