Ramadan Menjadi Obat dari Segala Kerinduan

Rodliyatam  Mardliyah
Karya Rodliyatam  Mardliyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Juni 2016
Ramadan Menjadi Obat dari Segala Kerinduan

Ramadan Menjadi Obat dari Segala Kerinduan

Perasaan Siti masih ganjil di hari ke tiga Ramadan, tapi rindunya menggenap di bulan Ramadan. Kala Ramadan menjadi obat dari segala kerinduan, jiwanya luruh pada gemuruhnya. Sungguh, Ramadan kali ini berbeda dengan Ramadan sebelumnya, kini Ramadan menjadi penutup dan pembuka bagi mereka.

Kenapa ia mengartikan penutup dan pembuka? Paradoks memang untuk mengatakan seperti itu. Tak lain itu adalah ungkapan yang terkesan klise tapi cukup menenangkan. Kerak kali, apa yang terjadi dalam kehidupan itu datang dan pergi silih berganti. Tak ada yang benar-benar pergi sebenarnya dalam hidup ini. Karena yang telah singgah, kemudian pergi selalu meninggalkan hikmah. Indahnya, ketika yang pergi justru menghadirkan banyak malaikat yang senantiasa menjaga kita dan dengan sabar meminjamkan pundaknya untuk kita.

Tiga hari menjelang puasa Siti masih sibuk ingin bertemu seseorang. Seseorang yang dalam hitungan bulan tanpa disadari mampu menciptakan  momentum, tapi karena ada beberapa hal, berpamitan adalah jalan. Jalan untuk menutup kenangan yang telah terlewat bersama dengan Happy Ending.

Pernahkah kalian kehilangan seseorang yang begitu kalian sayangi?

Sebelum ini, Siti sudah pernah kehilangan. Kehilangan kepercayaan pada seseorang. Yang mana, dulu seluruh kepercayaannya telah diberikan tapi tidak diindahkan. Dari kejadian tersebut, Siti justru mendapatkan kesempatan yang diharapkan banyak orang. Yaitu, berziarah di makan kekasih Allah yang tidak sembarang orang dan waktu para peziarah dibolehkan masuk. Di depan makam, air matanya memecah keheningan.

Sedih memang.

Berat pasti.

Untuk seseorang yang telah tertanam dalam-dalam butuh waktu yang tidak sebentar untuk melupakan. Padahal semakin kita berusaha melupakan, semakin sulit pula kita untuk tidak mengingatnya. Cukuplah kita terima dengan lapang dan ikhlas. Dan yakinlah, Tuhan selalu mempunyai rahasia dan rencana indah dari setiap jiwa kesayangan-Nya.

Di samping itu, karibnya bertukar pengalaman, ketika ia sedang berpisah dengan seseorang. Untuk membuktikan bahwa yang pergi begitu berharga dan setiap moment bersamanya betul tak tergantikan adalah dengan menuliskannya dalam bentuk buku atau semacam kumpulan percakapan yang telah tertuang dalam lintas waktu. Setelah itu, ia print dan ia kasihkan pada seseorang yang spesial tadi. Lebih dari itu, untuk belajar mengikhlaskan kita memang harus punya banyak kesibukan. Artinya jangan merenung sendiri, alihkan kesedihan tadi pada hal-hal positif. Boleh juga, melakukan hobi-hobi kita.   

Maghrib hendak usai, sedang Isya sudah kunjung datang. Di bawah pohon, mereka saling mengungkapkan apa yang ingin mereka sampaikan. Perempuan itu bercerita bahwa ia hanya tidak ingin terlalu larut dalam harapan di tengah kemungkinan yang masih abstrak. Sedang Laki-laki itu, ternyata juga sulit untuk mengungkapkan sesuatu hingga akhirnya sehari sebelum mereka bertatap rasa, lelaki tadi menunda pertemuan itu.

“Saya itu bingung Neng. Belum bisa menjelaskan pada orang sebaik Neng, makanya kemarin saya cancel pertemuan kita bukan berarti saya ingin berlarut-larut.” Jelas Laki-laki itu pada Siti.

“Baiklah Kak, jaga kesehatan baik-baik yah. Biarlah waktu yang akan mengobati yang telah kita lewati.”

Perempuan tadi berjalan lebih dulu, dari tempat mereka duduk menikmati kebaikan angin yang tak pernah lelah mengalirkan udara segar di tengah penat kehidupan.

Dua hari berlalu, baginya Ramadan memang obat dari segala kerinduan.

Di dalamnya, ia bisa khsuyu mendoakan. Di dalamnya pula ia bisa mempersembahkan sesuatu untuk yang ia kasihi. Ia curahkan sayangnya dalam kesendirian. Di tengah senyap malam. Dan semoga, hingga Lailatul Qodar tiba, namanya masih menghiasi doanya.

Perpisahan dari satu kesempatan yang masih menyisakan banyak kenangan. Tentunya menjadi jeda untuk merampungkan yang tertinggal. Mungkin Allah memberi kesempatan mereka berdua untuk saling berjuang lebih dulu. Hingga waktunya tepat, mereka akan dipersatukan dalam kedewasaan. Di mana mereka telah saling belajar dari sebuah perpisahan. Baginya, perpisahan tadi adalah satu jembatan penghubung pertemuan yang sejati. Saat seperti itulah, kita lebih tersentuh dan mendekat pada Sang Empu dari semua nafas kenangan yang telah tercipta.

Untukmu, dari seseorang, yang tidak ingin membawa lebih dari satu cinta dari sini.

 

Sumber gambar dari internet.

 

 

  • view 102