Merawat Perasaan

Rodliyatam  Mardliyah
Karya Rodliyatam  Mardliyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Juni 2016
Merawat Perasaan

Merawat Perasaan

Saya tidak butuh kamus kawan. Untuk mencari definisi yang bernama perasaan. Diriku tak sibuk dengan istilah perasaan, tapi jiwaku sibuk siang malam merasakan gemuruhnya. Saat ia pertama kali datang tanpa salam. Kelembutannya tak bisa kita bendung. Hingga, tiba pada satu momentum gemuruhnya kian luruh. Luruh dalam doa.

Siapa pemilik perasaan tersebut? Jelas, bukan kita pemilik sejati. Ada Dzat yang kekuatannya bisa kita rasakan di setiap tarikan nafas kita. Dialah Sang Pengatur segala. Allah. Dialah, yang pengetahuan-Nya jauh melampaui apapun di dunia ini. Allah pemilik rencana terindah dari setiap peristiwa anak manusia. Andaikan saya tuhan, sungguh, pastilah dunia ini sama sekali tak ada kilaunya.

Ragam warna yang meliputi perjalanan perasaan seseorang. Terlebih kaitannya dengan sesama anak manusia. Perasaan itu ada yang bersambut dan ada yang hanya bisa kita rawat dengan indah.  Yaitu merawat dengan kucuran tulus doa yang tiada henti. Di situlah kau akan menemukan kedamaian yang tak terkira.

Butuh waktu untuk memahami itu, memahami perasaan yang hidup dalam bayang bukan dalam cahaya. Kenapa saya katakan demikian? Karena perasaan tersebut jatuh pada seseorang yang perasaannya kepada kita masih abstrak. Lama ku hayati, saat detik, menit, minggu dan bulan berlalu kian tak terbilang akhirnya saya temukan jawaban. Rawatlah perasaanmu dengan doa. Ada makna yang tersirat, ada pesan yang tersembunyi, ada amanah dari sebuah anugerah ketika Tuhan telah meniupkan perasaan pada kita, tak lain adalah Tuhan percaya dengan kita. Bahwa kita mempunyai kekuatan untuk senantiasa mendoakan seseorang yang kita sayangi.

Berat memang, mengandung rasa yang belum bersambut. Apalagi pernah tersambut tapi berhenti pada satu titik yang berbeda. Pada detik waktu yang berbeda. Ahmad berhenti di titik mana, dan Fatimah berhenti di sudut mana. Tapi, meski demikian Fatimah berharap mereka akan bertemu pada tujuan yang sama, Ridlo-Nya. Karena berat bukan berarti tidak mampu kita lewati. Selalu ada jalan lain untuk kembali pulang.

Sebenarnya, berat yang terkandung tadi merupakan bekal untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Bahwa masa-masa berat tadi adalah kesempatan yang begitu berharga agar kita kuat. Nantinya, ketika ujian beratnya hidup kembali datang, kita sudah mengantongi hikmah dan pengalaman untuk melaluinya tanpa harus berlama-lama menyendiri. Banyaklah duduk dengan sesamanya. Membuka mata, membuka hati, karena pada diri mereka ada ketulusan yang lahir dari kasih-Nya.

Perasaan yang dalam, terkadang memang membuat Logika terkalahkan. Makanya, temannya saya punya tips lho… agar tak BAPER (Bawa Perasaan) itu baca jurnal !!!. Biar logis kawan, apalagi sampai menangis tak berbasis data, jangan. jangan ya... Hehe. Selain itu, ada asumsi bahwa tradisi laki-laki itu membaca apa yang tersurat,perempuan membaca apa yang tersirat. Benarkah demikian? Padahal baper tak soal bawa perasaan saja yah. Baper juga banyak permainan kan?  Hehe. Nah ini memang bisa jadi solusi, dari BAPER bawa perasaan dibutuhkan BAPER yang lain, yaitu banyakin permainan. Permainan di sini bisa artikan positif yaitu dengan menyibukkan diri dengan aktivitas – aktivitas lain yang bermanfaat. Dalam kesibukan semuanya bisa terasa lebih lapang.

Bagi saya, kegelisahan kerap kali adalah pintu awal menuju tangga-tangga kebahagiaan yang lain. Dalam fase kehidupan yang kadang kita belum tahu persis jawaban dari segala asa dan cita. Tetaplah berusaha, jangan patah semangat, selalu berprasangka baik pada Tuhan. Tuhan tidak pernah sedikitpun alpa. Dia selalu hadir menyaksikan perjuangan kita menghadapi perjalanan hidup ini.

 

Sumber gambar dari internet.

  • view 91