Kapan Janji-Janji Perlu Kita Lupakan?

Rodliyatam  Mardliyah
Karya Rodliyatam  Mardliyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Juni 2016
Kapan Janji-Janji Perlu Kita Lupakan?

Kapan Janji-Janji Perlu Kita Lupakan?

Pagi, tak nikmat kecuali mencari sumber suara ayam berkokok seraya membuka jendela di sudut kamar. Membuka layar dan sampailah pada titik pertama saya mengetik.

Kapan Janji-Janji perlu kita lupakan? Melupakan sesuatu tidak melulu tentang sesuatu yang menyakitkan tapi kebahagiaan juga perlu dilupakan. Melupakan sebuah upaya seseorang untuk lupa pada sesuatu bukan sesuatu yang tanpa usaha, dengan sendirinya kita lupa karena di makan waktu atau tergerus oleh kenangan baru.

Kenapa kebahagiaan juga perlu kita lupakan? Banyak hal bisa dikatakan sebagai kebahagiaan. Misal, bisa membantu atau mempersembahkan sesuatu bagi sesamanya, tentunya menimbulkan rasa bahagia. Yang bisa kita rasakan melalui perasaan puas yang meliputi setelahnya. Selain itu, ada kebahagiaan lain yang sifatnya lebih privasi. Yaitu kebahagiaan yang lahir dari dua orang yang saling mengasihi. Betapa tidak, apa-apa yang terucap dari sosok yang kita kasihi, bagi kita bisa dengan cepat kita artikan sebagai. Janji manis pada masanya.

Saya menggaris bawahi janji manis pada masanya karena harapan-harapan tadi berbatas momentum. Meski, janji manis tadi tidak diawali dengan sabda “saya berjanji akan demikian dan demikian”, tapi semua perkataan berupa harapan yang disampaikan sepasang kekasih menjadi begitu spesial. Tapi, fahamilah… janji tersebut ada masanya kawan. Ada masanya sepasang kekasih melanjutkan pada jenjang yang lebih serius, dan ada saatnya sepasang kekasih melanjutkan perjalanannya masing-masing. Memasuki dunia mereka sendiri.

Nah, saat seperti itulah kita tidak perlu mengingat atau menyalahkan nasib. “Kenapa dulu dia berkata demikian, dan sekarang buktinya demikian”. “Kenapa dulu ia akan seperti ini, tapi ia lupa menepati”. Pikiran-pikiran seperti itu memang kadang muncul. Padahal, janji dari kekasih kita yang bukan kekasih kita lagi, cukup kau peluk erat. Hadapi dengan lapang. Bahwa masa janji itu telah berakhir dengan berhentinya sepasang kekasih yang berhenti pada titik yang berbeda. Yang satu masih tetap dalam perasaannya dan yang satu memilih jalan lain dengan pertimbangan lain. Hingga, lahirlah peristiwa besar dalam perjalanan anak manusia yang patah hati. Tapi ibarat pohon, yang patah baru batangnya, akarnya masih menancap kuat. Buktinya, waktu telah berlalu tapi ia masih dalam kuatnya do’a.

Pada do’alah, semuanya luruh menjadi satu. Air mata, pecah dalam sunyinya malam. Semua rasa bergemuruh layaknya derasnya hujan. Meski hujan telah berganti musim. Tapi yakinlah kawan, coba kita perhatikan. Dengan perginya seseorang yang pernah singgah dalam kehidupan kita, saat itulah Allah benar-benar memeluk kita. Agar kita lebih kuat dan melihat bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Lihatlah, orang-orang terdekat kita, itu satu dari banyak bukti bahwa Allah selalu menghadirkan kebahagiaan dari pintu lain ketika kegelisahan menyapa kita.

Lebih dari itu, ibarat atlit yang terluka maka untuk kembali berlari, sungguh ia membutuhkan waktu untuk menyembuhkan lukanya lebih dulu. Di mana, cinta dibangun atas ketulusan.

  • view 124