Membaca Cantiknya Mbak Dian

Rodliyatam  Mardliyah
Karya Rodliyatam  Mardliyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Maret 2016
Membaca Cantiknya Mbak Dian

 
"Membaca Cantiknya Mbak Dian"

Dian Satro, siapa yang tak kenal dengan perempuan keren satu ini?
Kenal pasti banyak. Tapi mengenal lebih dekat saya termasuk yang belum kenalan langsung lho. Kecuali tadi malam lihat tayangan video yang diunggah di Youtube tentang perjalanan hidup Mbak Dian.

Youtube adalah satu dari sekian banyak alternatif yang bisa kita gunakan untuk mengakses pengalaman maupun pengetahuan. Dulunya, saya sangat asing dengan makhluk satu ini. Maksudnya asing bukan karena saya tidak tahu namanya, tapi lebih karena saya jarang banget interaksi dengan satu alternatif ini. Hanya semenjak skripsi menjadi momok itulah saya sering kali semangat 45 pergi ke Perpustakaan Utama UIN Walisongo untuk memanfaatkan alternatif tadi. Bisa dibayangkan, bagaimana monotonnya hidup saya saat itu. Yang memanfaatkan jaringan internet hanya untuk baca. Padahal ada kecerdasan lain yang perlu kita asah dan pertajam tidak hanya lewat visual saja. Ketajaman pendengaran kita perlu diasah dan perlu di”bahagia”kan kan?

Membaca Cantiknya Mbak Dian. Bermula dari tugas revisi Islamic Law dengan tema Kaidah Ushuliyyah al-Tasyri’iyyah yang belum tuntas, maka saya mencari energi baru lewat tayangan video. Bagi saya nikmat sekali mendengarkan orang hebat bertutur. Setiap kalimat yang keluar begitu bertenaga. Mampu membangkitkan semangat.

Dalam tayangan tadi, diceritakan betapa hidupnya selalu dipersiapkan dengan baik. Pada usia sepuluh tahun ia sudah didorong Ibunya untuk menentukan goal nya di masa depan.
Hidupnya penuh dengan riset-riset. Saat itu ia berfikir bagaimana bisa menciptakan kemandirian finansial sedini mungkin. Ia kebetulan melihat satu bintang model Majalah maka ia berusaha mendapatkan cara bagaimana agar ia bisa mencapai titik tersebut. Ternyata bintang model majalah tadi selalu dijuarai oleh remaja berusia empat belas tahun. Ok lah, Jadi ia masih punya waktu empat tahun untuk itu. Karena pada usia sepuluh tahun seperti yang saya bilang ia sudah merancang mimpinya dengan sedemikian rupa.

“Berkarakter-Berkompeten” Selama empat tahun, mulai usia sepuluh tahun-empat belas tahun kesibukannya hanya untuk menemukan esensi dari apa itu berkarakter?

Apa mimpi terbesar Mbak Dian Sastro? ia ingin mendongkrak dan meruntuhkan banyak anggapan miring yang disematkan pada perempuan. Apalagi, ia juga tidak menginginkan bahwa dirinya hanya dikenal parasnya saja. Jika ini terjadi tentulah sangatlah mengenaskan. Maka ia selalu mencari cara agar bagaimana ia pun punya kelebihan lain. Dan menegasikan bahwa orang yang dikaruniai kecantikan wajah tidak lantas tidak mempunyai ‘kecantikan’ lain. Karena semua itu tergantung bagaimana kita bersyukur. Seperti magic statement yang sering didengungkan oleh sang bunda “Nothing Impossible !!” saat itu pula ia yakin selagi ada kesempatan dan kemauan insya Allah semuanya bisa capai.

Di samping itu, ternyata satu buku dengan judul Magic sangat berpengaruh pada kesehariannya. Yaitu ia selalu melakukan satu rumus yang ditawarkan dalam buku itu. Bahwa semakin kita bersyukur maka kenikmatan dan kebahagiaan kita akan bertambah. Yaitu dengan cara menuliskan sepuluh poin di kertas sebelum kita tidur dan setelah bangun tidur lagi kita juga menulis sepuluh kesan lain yang patut kita syukuri selama sehari itu. Mulai dari kenikmatan bisa tidur nyenyak, masih bisa mendekap ibu, masih bisa makan dengan cukup dan kenikmatan lain yang tidak bisa kita hitung satu persatu. Akhirnya, rumus tadi memang diakui Mbak Dian adanya.

Bagi kita yang terjun dalam bidang kajian Islam pastilah tidak asing dengan rujukan teologis dari manfaat bersyukur tadi ka? “Lain Syakartum Laazidannakum… “ Sungguh  saat kita mampu bersyukur pasti Allah akan menambahkannya.

Saat saya kembali merenung dari kisah Mbak Dian Sastro. Sebenarnya ada hal-hal mendasar yang bisa kita tarik kesimpulan bersama menuju pemahaman tentang definisi Ushuliyyah yang muncul dari kata Ashal dalam konteks hukum Islam. Salah satu arti Ashal berarti kaidah yang bersifat universal. Disiplin tingkat tinggi yang dimiliki Mbak Dian kiranya bisa kita jadikan prinsip dari segala aktivitas. Bahwa tanpa kedisiplinan yang tinggi kita akan semakin jauh dari capaian mimpi yang telah kita bangun.

Selanjutnya, asal punya asal kenapa saya masukkan kata kunci “Perjalanan Dian Sastro” pada alternatif pilihan satu ini: Youtube?? Yah, karena saya mendapatkan konklusi dari diskusi dengan sahabat saya bahwa kiblat cantiknya wanita Indonesia itu tidak bisa dipersempit hanya pada satu sosok saja. Melainkan tergantung masing-masing madzhab. Apakah madzhab Dian Sastrowiyah/ Raisawiyah/ Maudiyah? Dan barisan nama setelahnya, hehe.

Bagi saya cantik itu “attitude”. Sebuah sikap yang diproduksi dari rangkaian proses kecerdasan seseorang. Baik mencakup kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional. Attitude yang berangkat dari Habit. Then, the first priority of beautiful is Inner beauty.