Saya Bertekad Untuk Melepaskan

Najmawati Annisa
Karya Najmawati Annisa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Saya Bertekad Untuk Melepaskan

Ini adalah Agustus. Hari kesepuluh. Saat saya memutuskan untuk berbagi pada seseorang yang saya percaya tentang kisah ini. Semua yang saya tahu tentang kita. Semua rasa, dan semua kenangan yang ada.

Hingga pada akhirnya, saya menyadari, bahwa betapa salah saya yang selama ini memberi celah kepada setan untuk menggoda. Dengan sejuta alasan yang sekilas kedengarannya bisa diterima.

Saya terlupa, dan terlalu lama!

Tetapi, hei, kita tidak bisa merubah apapun yang sudah menjadi masa lalu, betapapun kita merasa menyesal atas apa yang kita perbuat pada masa itu.

Dan setelah berbagi tentang semua ini, saya memilih untuk melepaskan. Semuanya. Melepaskan rasa yang salah arah. Melepaskan kenangan yang memberikan harapan-harapan. Melepaskan cerita yang menyesakkan bila dikenang. Melepaskan semua, karena saya takkan pernah bisa lega bila hanya melupa.

Saya memilih untuk melepaskan semuanya. Semua tentangmu. Dan belajar untuk fokus memperbaiki diri.

Persoalan masa lalu, saya takkan menyesalinya. Kamu, dan semua cerita tentangmu, tetap menjadi satu episode berharga dalam hidup saya.

Langit, saya tahu ini akan berat. Ini barangkali berat. Sulit untuk melepas apa yang pernah terasa dimiliki. Apa yang pernah terasa indah dilalui. Iyaa, dan perkataan kawan itu menyadarkan saya: “Allah telah memuliakan kita. Maka mengapa kita tidak memuliakan diri sendiri?”

Saya memilih untuk  berfokus memperbaiki diri. Karena saya sungguh percaya pada janji-Nya: Akan selalu ada lelaki yang baik untuk perempuan yang berusaha memperbaiki diri.

Saya ingin meminta maaf, Langit. Untuk semua perbuatan salah, sengaja maupun tidak. Saya ingin meminta maaf, bila kiranya ada kata yang terucap dari lisan saya yang juga membuatmu lalai.

Dan, terakhir. Ini doa terindah yang rencana akan saya kirim pada hari miladmu nanti. Dan saya sudah memilih untuk tidak lagi bermain api. Cukup, cukup untuk pukat yang tak sengaja saya sebar. Cukup untuk pesona yang tanpa sadar saya tebar. Maafkan untuk semuanya.

Doa terindah ini, rencana akan menjadi doa yang terakhir. Tapi saya memilih untuk tidak menunggu lagi. Khawatir nanti setan memanfaatkan momen itu untuk kembali menggelincirkan hati.

Ini sulit. Tapi saya percaya pada janji-Nya.

Doa ini, saya titip saja pada-Nya. Doa yang rencana akan saya kirim dihari miladmu. Doa yang rencana akan menjadi kata terakhir sebelum saya memutuskan untuk pergi.

“Barakallahu fii umurik. Semoga, di usiamu yang masih tersisa, kau tetap bisa istiqamah di jalan-Nya. Menjalani waktu yang masih diberikan-Nya untuk senantiasa berbuat baik. Serta, tetap menjaga kalamullah, hingga tiba saat kembali ke haribaan-Nya dengan khusnul khatimah. Insyaallah. Aamiin.

Terima kasih dan mohon maaf untuk semuanya.

Bintang.”

 

Saya titip doa terindah ini pada-Nya. Saya titip juga hati saya yang selalu goyah. Dan sekarang, saya belajar untuk menjaga hati dan menata perasaan. Belajar untuk lebih fokus memperbaiki diri. Belajar untuk mengacuhkan semua godaan. Belajar untuk lebih menjaga tindak dan tutur kata, utamanya pada yang bukan mahram.

Allah, mudahkan urusan kami dalam mendekatkan diri pada-Mu. Mudahkan pula kami mempertahankan hidayah yang telah kami dapatkan. Ajari kami untuk menjaga hati dari semua rayuan setan yang menyesatkan.

Dan, Langit. Semoga saya bisa melepaskan. Kamu, dan semua kenangan tentangmu. Sampai Allah memberikan takdir-Nya yang terbaik untuk diri kita masing-masing..

Bismillah.

  • view 239