LUKA DAN KENANGAN

Jazilah  Imana
Karya Jazilah  Imana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Februari 2016
LUKA DAN KENANGAN

?

?????????? Penyakit apa yang telah bersarang di tubuhku ini? Tidak ada diagnose yang mampu menjelaskan. Mungkinkah otakku yang sebenarnya sakit? Sekali setahun aku putuskan datang ke tempat ini, untuk mengobati penyakitku. Mengobati? Bukan! Ini bukan mengobati! Tapi menoreh sakit secara berulang. Aku menyadari itu sejak tahun pertama mengulang datang ke tempat ini sendiri. Ini tempat istmewa di mana aku bisa menangkarkan benih-benih kenangan. Di sini kuperam putikputik rindu, harap kupanen perjumpaan. Tempat ini pun selalu menguncupkan luka, kemudian mekar dalam derai air mata kepedihan yang kutanggung sendiri.

??????????? ?Sampai kapan kau lakukan ini, Naira? Ini tahun ke lima kau bertindak tolol! Aku yakin dia tidak sedikitpun ingat tentang musim dingin, apalagi mengingatmu. Sedang kau membekukan diri di Bosphorus mengenang dia. Sadar, Nai!? sinis suara sangat kukenal.

??????????? Aku menoleh, memasukkan dia dalam sudut ruang pandangku. Dia berdiri serupa diriku dengan pakaian musim dingin. Sejak kapan dia ada di sini?

Riyan, laki-laki yang bergeming mendapatkan cintaku. Aku menerima kehadiran-nya, karena dia sepupu jauh dari?ah, penyakit ini kambuh lagi?

??????????? ?Kenapa diam, Nai? Irfan sudah menikah dan aku yakin dia bahagia!? sergahnya.

??????????? ?Dari mana kau tahu Irfan bahagia?? ucapku. Aku merasakan sentuhan di bahu kananku dan kudapati wajah Riyan menatapku tajam. Sorot mata itu mengabarkan, laki-laki ini akan memarahiku. Bibirnya bergetar, pertanda serapah akan berhamburan seperti yang sudah-sudah. Aku menahan napas menunggu semburan serapahnya.

??????????? Sedetik, dua detik berlalu. Bukan serapah dari bibirnya tapi genangan embun di matanya yang dia suguhkan. Dia mencoba melumpuhkanku, tapi aku harus melukainya. Jika ini tahun ke lima aku memupuk kenangan luka, dia harus sadar ini tahun ke empat kenyataan aku tetap tidak mencintainya. Hatiku bergeming di orbit cinta Irfan. Apakah Riyan cukup kuat bertahan di garis edarku?

?Aku mencintaimu, aku ingin kau tinggalkan kenangan itu, lihat aku, Nai. Hatiku sakit melihatmu sedih, Irfan tidak bisa kau harap lagi.? ucapnya lirih dengan kilatan embun di ujung matanya. Aku membuang muka dari tatapannya.

Semakin dia menyebut nama Irfan, kenanganku bersama laki-laki yang kali pertama bertemu denganku saat seleksi beasiswa kuliah di Istanbul itu semakin subur. Pertemuan singkat itu telah menyeretku pada kisah panjang yang tidak ingin kusudahi. Perjumpaanku dengan Irfan bukanlah keputusan, pun perpisahanku dengannya bukanlah sebuah kesepakatan. Jika perjumpaanku dengannya adalah takdir, aku terus berharap dan memahat doa bahwa perpisahan ini berakhir dengan dia ada di sampingku selamanya.

?Aku tidak bisa, berapa kali aku harus mengucapkan itu. Aku pergi dan jangan mengikutiku. Aku akan teriak kau orang yang berniat jahat, jika kau nekat mengikutiku.? Ancamku meninggalkannya.

Sebagaimana aku hidup dengan kenangan bersama Irfan, Riyan pun bersikukuh mencintaiku. Seperti kematian yang selalu mendekat dan tak pernah menjauh demikian kerinduanku kepada Irfan selalu melekat, tak pernah rindu ini tak menyentuh. Hanya Irfan, bukan Riyan!

??????????? Kupercepat langkah menuju Blue Mosque untuk memutar kenangan. ?Lihatlah Naira, doa kita terjawab, usaha kita berhasil. Mimpi-mimpi kita menjadi nyata. Tengoklah ke sana itu daratan Asia dan kita sudah di Eropa! Kita akan kuliah di kampus ternama itu dan bisa lakukan napak tilas perjalanan manusia-manusia hebat di dunia ini. Ini mimpi kita, Naira.? Kata Irfan bagai bocah kecil yang baru mendapat gulali. Haru menyerbu hatiku, hadirkan tetes embun di mataku saat kami sampai di jembatan Bosphorus.

Kami datang ke Turky setelah sebelumnya selama 3 hari berada di Wina Austria bersama papa dan mama Irfan yang menghadiri sebuah acara. Karena itulah perjalananku dari Wina ke Istanbul melewati bandara Sahiba Gocken, bandara kedua di Istanbul setelah Ataturk. Aku yang selama ini hidup di panti tanpa mengenal ayah ibuku, sangat menikmati perjalanan bersama keluarga Irfan. Aku juga terlanjur menempatkan Irfan secara istimewa di sudut hatiku.

??????????? ?Terima kasih, Fan, jika Om dan tante tidak menolongku mungkin aku juga tidak sampai Turky. Aku masih tidak percaya bahwa aku sampai Istanbul dan bisa juga kuliah,? responku. Sejatinya aku tengah bahagia hanya saja entah mengapa kubahasakan juga bahagiaku itu dengan air mata. Irfan tersenyum menatapku.

??????????? ?Bukan karena mama dan papaku, tapi karena izinNya. Kau gadis baik, cerdas dan sholihah tidak ada yang sulit bagiNya. Mungkin Allah bilang seperti ini ketika melihatmu. ?apa sih yang enggak buat loe Naira? hahaha?? tawa Irfan pecah membuat sebagian orang menoleh ke arah kami.

??????????? ?Ssttt?dikecilin tawanya, dilihat orang tuh,? aku membulatkan mata dan cubitan mendarat di lengan Irfan yang terbungkus pakaian hangat. Irfan menghalau cubitanku dengan menggenggam pergelangan tanganku. Tanpa kata dia menarikku untuk berjalan. Irfan, lahir di Istanbul saat papanya menempuh pascasarjana.

??????????? ?Sebelum kita disibukkan dengan persiapan kuliah, kita harus selesai menjelajah Turky ya,? ucap Irfan penuh semangat. Senyumnya merekah, pancaran matanya selalu optimis. Aku menyukai gayanya itu. Bersamanya, rasanya segala beban menjadi ringan. ?Dari mana kita akan memulai petualangan kita, Fan?? tanyaku memainkan salju dengan ujung sepatuku. ?Rencanaku dari Hagia Sophia, Blue Musque dan Topkapi.? Dia menoleh. Matanya berbinar, memendarkan energy membuat orang yang bersamanya merasa berarti.

?Nai,? ucapnya. ?Iya, Fan?? aku melihatnya. Kami berhadapan. Salju turun dingin men-cekam, tapi hatiku menghangat. Aku melihat rona malu di wajahnya dan tidak bicara lagi. Dia menarik tanganku menyusuri jembatan. Aku tersenyum. Cinta itu gerak hati, tak perlu kuumbar dengan kata.

??????????? ?Pulanglah, Nai, kau sudah cukup membekukan dirimu. Apa yang kau dapat hari ini?? sebuah suara kembali memekakkan telingaku. Riyan! Tidak cukupkah penolakanku membuatnya sadar? Dia melenyapkan film yang kubuat bersama Irfan.

Aku baru selesai sholat Ashar di Blue Mosque dan memandangi salju yang turun di pelatarannya. Kali pertama di masjid ini, selepas sholat Irfan menyampaikan sesuatu yang tidak pernah bisa kulupakan. Di masjid ini pula, aku mendapati kenyataan yang berbeda rasa. Cinta telah menjadi luka dan rindu menjadikan bisu, kini jerit kesakitan takkan lagi terdengar siapapun. Aku mengingat Irfan bahkan dalam lupa.

Aku tidak merespon sapaan Riyan, kutinggalkan Blue Mosque dengan hanya memandangnya. Dia selalu menyuburkan kenanganku.

~*~

??????????? ?Ceritakan Fan, tentang dia. Kita sudah di Istambul tempat kali pertama kau hirup udara kehidupanmu dan kau mengucap janji untuk Naira. Empat tahun Fan, aku menjadi istrimu tapi selama itu pula hatimu tidak untukku. Ini cita-citaku Fan, aku bisa menjejak tanah kelahiranmu sebelum pergi selamanya. Aku ingin kau hidup kembali, Fan, aku sadar selama ini telah membunuhmu perlahan.? ucap perempuan muda yang duduk di kursi roda kepada orang yang menemaninya. Irfan!

??????????? ?Kau itu ngomong apa Fitri, aku menerimamu tapi kau tidak bisa menerima dirimu sendiri. Berhentilah berprasangka tentang Naira. Sejak aku menikahimu, aku tidak pernah berkomunikasi dengannya.? Irfan membuang pandang pada salju di halaman Blue Mosque. Salju yang dirindukan tapi perih memilin jiwanya, dia sadar ini hanya kenangan menyakitkan. Sekuat apapun dia melupakan Naira, selalu saja justru Fitri yang memupuk kenangannya bersama Naira. Gadis yatim piatu itu mengabadi di hatinya.

??????????? Irfan mendorong kursi roda Fitri ke serambi masjid. Jiwanya menyusuri jengkal tanah yang tertapak bersama Naira. Kesedihanmu itu milikku, kamu berikan ketika kita bertukar airmata Naira, bagaimana keadaanmu saat ini? Aku harap kau meraih mimpi kita Naira. Irfan mencoba keluar dari kubangan kenangan. Jika ada yang patut disalahkan, Fitrilah tertuduh. Dia yang memaksa datang ke Istanbul.

*

Fitri mengambil buku yang tergeletak di serambi masjid ketika menunggu Irfan sholat. Betapa terkejut ketika membukanya. Rasa penasaran telah membutakannya dan setelahnya dia harus menyerah pada kenyataan. Dia meninggalkan serambi Blue Mosque, mengamati setiap orang untuk mendapat pertanda. Dia harus melakukan sesuatu yang berarti untuk Irfan sebelum terlambat. Ingatannya terus pada yang tertulis di buku tersebut.

Berharap pada cinta, adalah penyebab kita terluka. Ingatan memang takkan tumbuh, namun mengakar di hati, merambati pikiran. Kenangan adalah rumah, yang gagal kita tinggalkan, gagal kita dustakan. Meski takkan tumbuh, ingatan adalah pohon keabadian. Mengakar di hati, merambati pikiran.

Masihkah kausimpan perpisahan sebagai kenangan perjumpaan? Hal-hal yang tak terucapkan, biarlah kekal sebagai kerinduan. Percakapan bisu. Kerinduan yang ngilu. Apakah hanya aku, yang menyerah pada rindu? Adakah kau rasa juga, teramat lelah risau karena cinta?

Masa lalu telah berlalu. Mengapa kau masih di sini? Siapa kau bagiku kini? Lelah aku membaca, naskah rindu tanpa kata. Dari aksara yang kauhapus, kucari cinta yang pupus. Memang ada pelangi setelah hujan. Tapi, haruskah kau pergi hanya demi kurindukan?

Bukan aku tak bisa melupakanmu, tapi kaulah yang tak mau pergi dari ingatanku. Dan, hatiku tuan rumah yang baik. Padamu yang kucinta, ini rindu berlinang airmata. Entah kapan lagi berjumpa, jangan lelah mendoakan meski terluka.

Sangat lelah aku, namun takkan menyerah pada rindu. Segala yang diperjalankan, suatu ketika akan dipertemukan. [1])

Ini musim dingin tahun ke lima, kita pernah berdua di sini berserah hati pada cinta. (Naira)

*

??????????? Sesak mendera dada, ketika pada jarak lima meter di hadapan Fitri, berdiri kokoh tiga sosok. Satu sosok yang dikenali itu memucat dan membuat dada Fitri bergolak melebihi tsunami. Riyan dan Irfan, lalu siapakah gadis berkerudung putih itu? Tanya hati Fitri. Otak Fitri segera tahu, seiring dia kehilangan tenaga. Buku yang ada di tangannya terjatuh. Bibirnya mengucap lirih sebuah nama. ?Naira??

??????????? Suara lirih Fitri mampu membuat semuanya serasa dijatuhkan dari permainan hysteria di Dufan. Menyentak, mengejutkan bahkan bisa meledakkan dada membuat ketiganya mati mendadak. Mati rasa! Sekuat tenaga Fitri meninggalkan mereka. Riyan berusaha menyusul Fitri, berharap mendapat maafnya akan semua dosa dan pengkhianatan yang telah dilakukannya. Entah apakah Riyan akan mendapat maaf setelah kecelakaan yang memang disengaja oleh Riyan, semata untuk mencelakai Fitri dan bayi yang ada dalam kandungannya? Fitri selamat walaupun cacat, tapi bayi dalam kandungannya gugur. Riyan saat itu tidak mau menerima keondisi Fitri, hingga perjodohan Fitri dan Irfan harus terjadi. Riyan mengejar Naira yang diketahui sebagai kekasihnya Irfan.

Irfan memungut buku yang terjatuh dari pangkuan Fitri, membukanya. Tulangnya seperti dilolosi satu persatu saat mengetahui penderitaan dan siapa pemilik buku itu.

Naira, bermain salju meninggalkan halaman Blue Mosque. Memutar kenangan terus dan terus, karena dia takut bahwa perjumpaan hari ini dengan Irfan akan kembali menjadi kenangan.

~end~

?[1] Fatwa Rindu Candra Malik

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

  • view 181