KEHIDUPAN

Jazilah  Imana
Karya Jazilah  Imana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 September 2016
KEHIDUPAN

Memaafkanmu, 
Sudah kulakukan jauh sebelum kau menyadari kesalahan yang pernah kau lakukan padaku. Memahamimu dan menerima sapamu tanpa ada beban sejak dulu sudah kulakukan, jauh sebelum kau menyapaku dengan lebih lapang hati. 
Bukan aku menghindarimu. Hanya perasaanmu saja, karena kau belum menemukan beningnya hatimu dalam melihat semua persoalan. 
Ketika Allah membuka perlahan mata fisik dan hatimu
Memang aku paham bahasamu.
"Siapa saya ini? lha ada orang minta maaf saja kok tidak saya terima. Sedangkan Allah itu Maha pengampun. Saya memaafkannya dan sekarang saya tahu bahwa dia tidak berubah. Dia kembali menusuk saya, dia kembali menyakiti saya, dia kembali melakukan semua itu. Kini saya yang minta maaf padamu karena tidak memercayaimu waktu itu dan bahkan menganggapmu tidak ada setelah perjuangan panjangmu yang tak kenal lelah. Saya telah salah,"

Kamu tidak perlu menyesali semuanya ketika itu aku mengingatkanmu untuk lebih hati-hati, itu saja.
Aku tidak pernah memintamu untuk tidak memaafkannya, justru aku berharap kelapangan hatimu untuk melihat dia dengan cara sedikit berbeda, dengan cara sedikit bijaksana kalau kau tidak mau mendengar sepenuhnya ucapanku waktu itu.
Tapi waktu itu, bagai senjata makan tuan ucapanku kau buat alasan menyingkirkan aku.

Terima kasih untuk sekisah indah perjalanan. Aku tidak akan bisa tersenyum saat ini kepadamu dengan senyum terindahku
Jika saat itu tidak ada peristiwa itu, aku tahu Allah yang telah mengaturnya, Allah mendewasakan kita agar semakin bijak melihat semua persoalan. 
Aku jadi ingat apa yang pernah kau kirimkan di blackberryku.
Mengapa kau lupa?
Mengapa kau tampak gelisah?
Mengapa kau seolah ketakutan?
Kau seharusnya tetap seperti yang kukenal waktu itu dan lebih bijak lagi tentunya karena kehidupan ini telah mengajarimu berbagai hal.
(aku harap kau selalu bisa membacanya)

Sadarilah bahwa Allah menciptakan makhluk tidak ada yang sia-sia. Hanya saja kadang kita belum mampu (dimampukan) melihat semua dengan baik tetapi sudah berani menghakimi sesuatu. Pun pula dengan dia :)

Bukankah darinya kita bisa belajar menjadi manusia?

Kita itu belajar adab justru dari orang yang tidak punya adab. 

Kita itu belajar mecintai dan mengerti cinta justru dari kebencian dan orang yang membenci kita
Demikian selanjutnya....

Jangan terburu "meminangku" hanya karena jejak langkah yang terpahat itu diambang kehancuran
Diamlah sejenak, menunduklah, tengok kedalam hati dan jiwamu
Aku akan ada untukmu ketika memang selayaknya aku ada di sana
Akupun akan pergi darimu ketika memang tidak selayaknya aku ada bersamamu.
Sekarang...mari kita bersama membaca kembali larik-larik sederhana ini
Larik yang pernah kita baca, bahkan kita tersenyum dalam syukur bahwa Allah begitu menyayangi kita
Nikmat cintaNya berlimpah :)

Ingatkah pesanmu ini? Entah bagaimana kau bisa menuliskannya ini untukku.

Kehidupan itu bagai sebuah tasbih, berawal dan berakhir di titik yang sama.
Bukan tasbih jika hanya satu butir, bukan kehidupan jika hanya satu dimensi.
Kehidupan itu akan sempurna jika telah melewati serangkaian untaian butiran suka, duka, derita, bahagia, gembira, gagal, sukses, pasang dan surut.
Seperti tasbih yang melingkar, kehidupan pun demikian.
Kemanapun pergi dan berlari, tetap masih dalam lingkaran takdir ALLAH.
Dari-Nya kehidupan dimulai dan kepada-Nya kehidupan berakhir.

Kita pernah dilukai dan mungkin pernah melukai. Tapi karena itu kita belajar tentang bagaimana cara menghargai, menerima, berkorban dan memperhatikan.

Kita pernah dibohongi dan mungkin pernah membohongi, tapi dari itu kita belajar tentang kejujuran.

Andaikan kita tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidup ini, mungkin kita tidak akan pernah belajar arti dari meminta maaf dan memberi maaf.

Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, tidak akan terulang kembali. Namun satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan, yaitu belajar dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik.

Karena,
Hidup adalah proses, hidup adalah belajar. Tanpa ada batas umur, tanpa ada kata tua.
Jatuh, berdiri lagi
Kalah, mencoba lagi
Gagal, bangkit lagi...
Sampai Allah memanggil: "waktunya pulang"

*Segala yang terbaik dariNya, jika aku pernah melangkah meninggalkanmu dengan damai...memang tidak ada salahmu, jika kau memintaku kembali dengan kelapangan hatimu. "

Lalu aku?
Izinkan aku sesaat diam melihat semua karena hanya dengan hati yang bening semua akan terlihat jernih.
Jika aku kembali semua bukan karena lukamu atas perlakuannya, tapi memang begitulah Allah telah mengatur perjalanan hidup hambaNya, perjlananku.
Kembali seperti tasbih
Dan kita lihat saja nanti.

Allah Maha Cintaku
Terima kasih atas semua limpahan cintaMu
Aku
MenujuMu saja :)

Taman Hati
Memaafkan bukan berarti menerima untuk kembali tapi memaafkan juga bisa berarti kembali menjalani hari bersama-sama lagi dengan lebih baik.
Memaafkan adalah samudera kesyukuran yang mampu mendekap segala keruh kehidupan ke dalam kebijakan yang bening nan hening. Damai bahagia :)

  • view 177