TERIMA KASIH

Jazilah  Imana
Karya Jazilah  Imana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Agustus 2016
TERIMA KASIH

Menunduk kembali untuk sebuah makna "Terima Kasih"
Hanya orang yang mampu MENERIMA baru bisa MENGASIH (KASIH/MEMBERI/BERBAGI)
Orang yang belum MENERIMA, tidak akan pernah mau MENGASIH
Orang yang belum MENERIMA, tidak akan pernah mau MEMBERI
Orang yang belum MENERIMA, tidak akan pernah mau BERBAGI
Jadi MENERIMA dulu, baru MEMBERI :)

?#‎Memberi? 

Ada sebuah sapaan mesra hadir di pelataran waktuku
Aku menerimanya dengan senyum seperti biasa
Kusapa dengan salam cinta pada jiwanya yang putih

"Selamat malam, ada apakah? Apa yang bisa aku bantu?"

"Malam... tidak aku hanya ingin rehat di berandamu. Pertanyaanmu itu lho, seolah kamu itu pelayan saja."

"Hmm... bukankah dalam hidup ini kita memang hanya sebagai pelaku, pelayan apa yang dimauNya?"

"Bukan itu maksudku, kalimatmu tadi itu... apa yang bisa aku bantu? Mengapa suka banget sih kau bilang begitu, aku sering memerhatikan dirimu mengatakan itu pada siapapun. Seolah dirimu saja yang bisa membantu, orang lain tak bisa. Apa kau pikir setiap yang datang kepadamu selalu membutuhkan bantuanmu?"

"Astaghfirullah...tidak ada sedikitpun itu terbersit di benakku. Aku akan tahu siapa yang datang padaku. Lihat saja dirimu datang dengan wajah tak indah artinya aku tahu bahwa ada yang tidak beres dengan hatimu. Aku tidak menawarkan solusi yang bisa menyelesaikan semuanya hanya saja mungkin kau butuh teman dan aku bisa menajdi temanmu. Aku tahu siapa yang datang padaku, kalau dia datang dengan senyum renyahnya tentu bukan itu yang kusampaikan. Aku akan bilang padanya berbagilah bahagia denganku ya sudah maafkan aku kalau kalimatku tadi membuatmu tidak nyaman."

"Tapi... kau memang seolah dicipta untuk selalu ada buat banyak hati. Aku selalu melihatmu menjadi tumpuan banyak hati saat mereka dalam sedih dan aku juga tahu kau akan dilupakan begitu saja saat mereka sudah bahagia."

"hehehe....makasih ya ternyata kamu perhatian banget padaku."

"bukan begitu...aku hanya..."

"Sttt.. sudah aku ngerti iya. perjalanan ini pun bukan perjalanan instant aku berproses untuk bisa menjadi diri yang sekarang. Aku belajar untuk bisa menjadi diri yang bermanfaat ya... mgkn saat ini aku hanya bisa selalu ada untuk siapapun yang bisa kubantu. Padahal sejatinya semua itu Allah yang menghendaki, aku hanya melakukan, melayani tadi aku diberi kemampuan olehNya. Kalian saja yang belum tepat dalam melihat."

"Tapi banyak lho orang yang berlimpah-limpah rezeki dan segalanya tidak mau melakukan apa yang kau lakukan?"

"mereka belum menerima, belum sadar itu saja,. Suatu saat mereka akan melakukan hal-hal luar biasa yang belum tentu bisa kulakukan."

"Apa sesungguhnya kau juga berlimpah dengan semuanya sehingga kau bisa lakukan semuanya?"

"Allah telah mencukupi semua kebutuhanku ya berlimpah karena aku selalu bersyukur akan apapun yang Allah berikan, sedikit mungkin bagimu tapi itu besar bagiku. Jika seratus ribu bagimu itu kecil, tapi bagiku itu adalah besar. Mungkin karena itulah Allah membuat hal kecil dalam diriku menjadi begitu besar dimata manusia. Karena aku selalu melihat dari sisi kesederhanaan saja,sesungguhnya tidak ada hal yang kecil apa yang diberikanNya."

"Waduuuh... kalau sudah begitu ya aku angkat tangan dech, belum bisa kayak kamu. Aku masih realistis kok. Aku butuh makan butuh uang untuk pulsa, bayar listrik dan lainnya"

"Hehehe...jadi menurutmu aku gak realistis ya? "

"Aneh saja...gak bisa dilogika gitu."

"hmm... cinta itu gak perlu logika katanya hahaha apalagi cinta Allah pada hambaNya? gak bisa dilogika memang hehehe sudah deh gak perlu dibahas nanti malah kau semakin menyebutku aneh tapi nyata,"

"Lha memang kamu itu aneh tapi nyata hahaha. memberi =menerima? aku memberi satu aku pasti dapat balasan."

"Tuh kan memberi itu tidak sekadar sama dengan menerima itu saja ingat . Ingat hitungan logika 1+1 = 2 itu gak berlaku, 1+1= sesukaNya memberi 1 dibalas 10 kan terserah Allah. Kamu menerima pemberianNya, kemudian berbagi makan kau akan menerima lagi :) "

"Hah...konsep apa lagi itu?"

"Ngikut matematikanya Allah saja...wes ta gak usah ngitung2 yang gitu, manut sama Allah, sak kersane gitu saja. Nrimo ing pandum gitu saja wes. Menerima yang tulus, pun memberi yang tulus, ikhlas tidak mengharap kembali karena itu menjadi urusannya Allah. Bukan urusan kita, kalau mau memberi ya berikan gitu saja. "

"Jian susah ngomong sama kamu, tapi...bisa tidak ya aku melakukan semua itu?"

"Bisaaa....sangat bisa, hanya kamu mau apa tidak melakukannya. "

"hmm...."

"Terserah kamu, saat kita memberi hakekatnya bukan mengurangi tapi malah investasi untuk masa depan kita, itu kalau kamu masih mau itung2an pahala :D"

"Apa karena itu kau tampak fine saja?"

"hehehe.... fine, karena aku pasrah sama Allah dan terus belajar menerima 'pemberianNya', terus dan terus menerima saja dan yakin bahwa Allah sudah mengatur semuanya secara baik untuk kebaikanku. Setelah memberi sudah lupa, kalau tiba2 saat ada kesulitan dan ada yang membantuku aku yakin itu juga atas izinNya, mungkin investasiku ada yang dicairkan sama Allah hahaha Deposito tidak berjangka kapanpun bisa cair. Eh tapi gak usah itung2an kayak gitu dah :D"

"Wah...kamu itu aneh2 istilahmu,"

"Biar kamu gak suntuk...^_*, sudah ah aku mau rehat nih kamu recokin saja hahaha,"

"Yee... kan artinya kamu memberiku pemahaman juga jadi investasimu juga kalau aku tambah ngerti,"

"Tambah ngerti tapi gak berubah yo sama saja ya sudah lain waktu kita bicara lagi. Kalau berpikir kayak kamu jadi kapitalis aku,"

"Iya kapitalis deposito tidak berjangka dari investasi memberi ^_*"

"hehehe....unik juga istilahmu."

"Karena kamu unik "
" :D kita semua tercipta unik, maka saling menghormati :)"

Pelataran Taman Hati pun renjana, ada senyum yang terpahat indah
Dimanapun aku bisa belajar
Terima kasih ya Allah atas segala cintaMu
Tenang, damai, bahagia

?#‎SemuaBerawalDariMenerima?

  • view 159