NRIMO ING PANDUM (Bahagia Menjadi Diri Sendiri)

Jazilah  Imana
Karya Jazilah  Imana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Juli 2016
NRIMO ING PANDUM (Bahagia Menjadi Diri Sendiri)

"Berfikir bahwa Anda akan bahagia dengan menjadi sesuatu yang lain, hanyalah khayalan. Menjadi sesuatu yang lain hanyalah mengganti satu bentuk derita dengan bentuk derita yang lainnya. Namun, saat Anda merasakan berkecukupan dengan apa adanya diri Anda, maka Anda terbebas dari derita. Untungnya saya, malangnya mereka." (Brahmavamso)

Tulisan ini hasil dari perbincangan ketika aku bertelephon ria dengan salah satu saudaraku pada akhir pekan lalu. Lama kami tidak saling sapa secara materi tetapi kami meyakini Insya Allah hati kami senantiasa bersama dan saling sapa. Ada banyak kabar yang diperjelas secara nyata dalam ungkapan kata. Perkembangan pekerjaan dan amanah kami masing-masing, tentunya menjadi topik pembicaraan hangat kami. Dari sanalah, muncul kisah atau cerita tentang kondisi lapangan yang kami hadapi. Tentunya terkait erat dengan perkembangan perjalanan spiritual kami.

 Walaupun tidak saling memberitahu tentang kondisi 'jiwa masing-masing' tetapi Allah membuat kami saling 'mengetahui' kondisi masing-masing.

 "Maaf, kalau aku tidak menyapa bukan karena apa, tapi aku merasakan bahwa ada banyak hal yang sedang kau kerjakan jadi lebih baik aku biarkan kamu menyelesaikan semua urusanmu dan aku hanya bisa berdoa Allah memudahkan semuanya."

"Iya sama, aku merasakan kamu juga sedang menghadapi berbagai hal tetapi aku lihat kamu atas izinNya bisa melampaui semuanya. Setiap saat dan memang akhir-akhir ini wajahmu senantiasa tampak, melintas begitu saja sekilas dan aku tersenyum. Mungkin jiwamu hanya ingin berkunjung melihatku yang punya banyak tugas :)"

"Hehehe...iya mungkin, saling sapa gitu ya. Alhamdulillah aku memang tengah menerima amanah-amanah indah. Tetapi Alhamdulillah...aku selalu yakin pada segala yang diberikanNya. Allah tidak mungkin memberiku beban melebihi batas kemampuanku. Aku bisa jalani semuanya juga karenaNya. Aku berserah pasrah sama Allah dengan menjadi diriku sendiri. Menjadi diri yang tidak ada artinya tanpaNya :)"

"Iya memang itu saja kok, ketika kita bisa menjadi diri sendiri yang artinya ya kita ini meyakini saja segala kehendakNya, berserah tidak terpancing kondisi luar, tidak mencoba meniru orang lain dalam segala bentuknya. Kita itu makhluk istimewaNya, diberi banyak kelebihan mengapa merasa takut dengan semua yang diberikan Allah?"

"hehehe benar, aku tengah menghadapi orang-orang yang seperti itu. Mencoba tampil sempurna tetapi tidak dengan menjadi dirinya sendiri. Awalnya aku sempat 'kagum' melihat caranya bicara, caranya bersikap juga caranya menuturkan sesuatu. Lama-lama, aku mengenali setiap inci ucapannya...dan tiba-tiba Allah menunjukkan padaku sebuah kejadian yang melibatkan orang ini. Akhirnya aku tahu siapa dia sebenarnya...Allah menunjukkan semua dengan cara begitu indah. Bukan aku kesal padanya, tapi justru aku sering menangis sedih mengapa sih dia harus berlaku seperti itu? Itu menyakiti diri sendiri, membohongi diri sendiri."

"Astaghfirullah... kamu bertemu dengan orang seperti itu? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"

"Iya, awalnya aku mencoba mengingatkan dengan halus artinya dalam setiap pertemuan dengannya aku sedikit menyinggung tentang jujur pada diri sendiri, menjadi diri sendiri gak usah meniru orang lain walaupun orang yang ditirunya itu luar biasa. Entah rasanya dia gak sadar telah kuingatkan berkali, ya sudah mudah-mudahan suatu saat nanti dia menyadari itu :)"

"Terus diingatkanlah...kasihan, kalau dia terus ingin menjadi seperti orang lain. Itu sudah gak benar, mengagumi itu boleh tapi kalau semua-semua selalu ingin seperti orang yang dikagumi itu bahaya lho. Dan juga dia melakukan itu pasti ada niatan lainnya. Mencontoh orang lain demi orang lain...atau demi kamu ya hehehe, supaya kamu perhatikan jadi dia mencari perhatianmu dengan menjadi sosok lain yang kau sukai hahaha :D"

"Waduh...ya gak tahu aku, tapi memang terasa sih kalau orang ini seperti ingin menjadi seperti orang yang dikagumi ini demi mendapat perhatian orang lain. Mencoba menyamakan diri dan kapan hari aku sempat kaget ketika melihat dia bicara bahwa dirinya sudah mulai membanding-mbandingkan dirinya dengan orang yang semula dia kagumi. Tapi ya... sudahlah itu bukan urusanku. Yang penting aku tidak merasa memerlukan perhatiannya, artinya aku juga tidak menaruh hati padanya. Just teman saja kok, ya dekat kan biasa sih...tapi mudah-mudahan dia tidak mengartikan kedekatan ini secara berlebihan :)"

"hahaha...ketahuan kan? jangan-jangan kamulah yang dia inginkan. Kamu juga kenal dgn orang yang dia kagumi itu?"

"ya jelas kenallah...itu kenapa aku menyadari bahwa kalimat dan caranya bicara selalu mengingatkan aku pada sosok itu, aku dekat pada sosok itu seperti aku denganmu :). Makanya aku mengenali semuanya..."

"Hwa...keren donk, jadi kamu tahu juga siapa yang dia kagumi itu? dan kamu mengagumi orang yang sama?"

"Wew...sembarangan! Aku memang suka berdiskusi dengan orang yang dia kagumi itu, aku juga kagum padanya sih ^_* tapi bukan berarti ketika dia menyama-nyamakan dirinya dengan orang itu aku juga tertarik diskusi dengannya. Malah males gak asyik rasanya hehehe"

"hmmm....artinya kamu juga ikut andil membuat dia menjadi orang lain, karena dia akan mati2an menjadi seperti orang yang kau kagumi demi mendapatkan perhatianmu sepenuhnya :)"

"eh....lama-lama aku yang gila kalau bicara sama kamu nih...kok bisa jauh begitu analisanya? hahaha :D"

"Benar lho...coba renungkan kayaknya putus saja komunikasi dengan dia biar dia mengerti bahwa kamu tidak perlu orang yang seperti itu. Kalau memang kamu juga suka sama dia, ya bilang...agar dia menjadi dirinya sendiri saja."

"Hahaha... aku suka padanya? entahlah...dia bikin aku bingung saja sejak dia berupaya menjadi seperti orang yang aku kagumi itu :D. Tapi aku gak boleh bilang tidak suka...karena dia baik kok. Ah sudahlah biar Allah yang ngatur saja :) manut sama Allah."

"hehehe iya...sudah kok jadi ngelantur nih pembicaraan kita ya?"

"Iya, biarin dah gak usah ngurusi orang lain, biar dia mau jadi apa itu bukan urusan kita. Jangan sok perhatian entar kita menjadi semakin tidak bijaksana. Alih-alih kita bilang bahwa kita sayang ke mereka...ternyata merekanya malah gak ngerti dan malah gak butuh perhatian kita :)"

"Hahaha iya kau benar, menengok diri kita sendiri saja ya. Banyak bercermin dari alam sekitar dari segala nikmatNya :) senantiasa bersyukur...Allah sudah mengatur kehidupan setiap hambaNya, kita gak perlu ribut dengan semua itu.:)"

"Iya kita ini siapa? :)"

"Kita ini milik Allah, diatur Allah, manut sama Allah, pasrah sama Allah, bersyukur menjalani kehendak Allah, sudah gitu saja kita akan selalu tenang, damai dan bahagia terus :)"

"Iya benar :)"

Pembicaraan kami memang mungkin ngelantur, tetapi setelah selesai kami menutup telpon, aku diam menengok diri. Ada banyak sisi yang membuatku paham dari pembicaraan kami. Iya benar...menjadi diri sendiri. Aku menengok sisi kehidupanku yang lain, ranahku saat ini. Kemudian aku menemukan beberapa hal yang saling terkait dengan apa yang kami bicarakan. Alhamdulillah...semakin paham :)

 Hal mendasar yang harus kulihat adalah diriku sendiri, entah ini egoku atau apa yang pasti selama ini aku selalu berusaha menjadi diriku sendiri. Menjadi apa adanya diriku. Rasanya ya beginilah aku hehehe :) dan dengan begitu akupun senantiasa belajar menerima orang lain secara jujur apa adanya mereka. Memang terasa aneh kalau ada orang yang sok beda di depanku. "Kalau memang aslinya ramai, heboh...ya sudah ngapain jadi pendiam sih di depanku? aku lho siapa? aku gak perlu orang-orang yang kategori kayak gitu. Aku juga heboh ramai orangnya, hanya saja kita punya sopan santun, ada adab yang harus kita ketahui dan tepat menempatkan diri. Menempatkan diri bukan berarti tidak menjadi diri sendiri kan?"

Kalau ada yang memandang aneh atau berbeda, itu juga hak mereka :). Jati diri bukan citra diri. Kalau sekadar citra diri...kayaknya gampang banget aku mendapatkannya atau aku melakukannya. Tidak terlalu jauh...di ranah kerjaku saja atau sejenak aku menengok ranahku yang dulu. Ah... disana banyak citra diri yang bisa kulukis dengan indah bahkan kupahat dan sangat mudah kutampakkan. Tapi, mudah-mudahan aku bisa melihat diriku, selalu kembali pada jati diriku. Gak perlu membandingkan diriku dengan orang lain, toh Allah sudah memberikan semua yang aku butuhkan :) Allah sudah memberikan keistimewaan untuk setiap hambaNya. Lha, mengapa kita tidak mensyukuri itu? Belajar untuk semakin menjadi pribadi yang baik, bukan berarti harus menjadi orang lain :D

 Ah...jadi ingat pelajaran kehidupan yang disematkan oleh kakek nenekku juga orang tuaku. Pelajaran "nrimo ing pandum" Subhaanallah... kalimat pendek itu ternyata luar biasa luas maknanya. Mengantar kita menjadi manusia yang tahu diri dan bisa bersyukur. Manusia 'nrimo ing pandum' adalah manusia yang tahu jati dirinya, "be yourself" :) hehehe ini istilahku saja :)

Ah sudah ya....ini catatan sambil lalu.  Mudah-mudahan ada manfaatnya. ^_^

 

  • view 359

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    terkadang yang jadi alasan sulit menjadi diri sendiri adalah karena kita hidup ber-sosial.
    yang kadang susah membedakan antara orang yang 'berisik' karena peduli, atau karena dia cari gara-gara
    bagaimana menurut mbak?

    • Lihat 2 Respon